Farrel menarik tangan Biru dan langsung menjatuhkannya di atas kasur.
"Bang... lu kenapa?" tanya Biru, "Muka lo kenapa lebam gitu???"
"Harusnya gue yang nanya, lo ada masalah apa sih sama Rasya, Ru?" tanya Farrel dengan tegas.
"G-gue..."
"JAWAB!!!" teriak Farrel.
"G-gue gak ngerti maksud lo apa, Bang?"
"Maling kalo ketangkep emang selalu suka pura-pura dongo!" cetus Farrel. "Abis berapa lo ngeluarin duit buat Herman??? Abis berapa???" teriak Farrel sambil menampar keras pipi Biru.
Biru gelagapan, dia tidak pernah menyangka bahwa Farrel akan mengetahui kebusukannya selama ini.
"Jawab gue!!!" Plak! Farrel menampar lagi pipi Biru. "Jawab gue, jawab gue, jawab gue!!!" berkali-kali ia terus menampar pipi Biru sampai Biru menyerah dan berteriak.
"GUE SAYANG SAMA LO!!! BANGSAT LO!!!" teriak Biru.
"Sayang???"
"Lo gak ngerasain apa yang gue rasain!!! Gue tiap hari cuma bisa berdoa semoga lo bisa sayang ke gue sesayang lo sama si Rasya sialan itu!!!" tegas Biru.
"Lo sayang sama gue??? GAK GINI CARANYA, NJING!!!"
"Terus mau pake cara apa, hah??? Mau pake cara apalagi??? Semua udah gue coba, tapi lo terlalu buta sama perasaan lo ke si Rasya!!!"
"Lo jahat, Biru!!! Lo yang buta!!! Ngomong gak lo ke gue kalo lo sayang sama gue???"
"Ya karena lo terlalu fokus sama si Rasya itu anjiiiiiiing!!!" BUGGKKK!!! Biru meninju wajah Farrel yang sudah babak belur dengan pukulan Herman tadi siang.
Satu tinjuan Biru sukses membuat hidung Farrel berdarah lagi.
Farrel menyeka hidungnya lalu menatap tajam wajah Biru.
"Bang, sorry, gue gak bermaksud! Gue begini karena gue cinta sama lo, Bang!!!" tegas Biru.
"Cinta, kan?? Lo cinta sama gue, hah???" Farrel mengulangi kalimat Biru dengan wajah penuh penekanan. "Sini lo anjing!"
Farrel langsung menarik tangan Biru dan membuat posisi Biru menjadi membelakanginya.
Biru sedikit panik, "Bang, lo mau ngapain???"
Farrel tak menjawab, dia menjatuhkan Biru lagi ke atas kasur di kamarnya kemudian melepaskan celana Biru sampai bokong Biru terlihat disana.
"BANG!!! Gak gini caranya!!!" Biru berusaha meronta tapi tangan kiri Farrel menahan tangan kirinya, sementara tangan kanan Farrel menahan punggung Biru.
Seketika Farrel berusaha untuk membuka celananya lalu kemudian dia memasukkan dengan paksa penisnya pada dubur Biru.
"Aaaaaarrgghhhh.... Bang!!! Sakit!!!" ringis Biru disana.
Farrel lalu memaju-mundurkan gerakannya, menggesekkan penisnya yang berada di dalam dubur Biru.
Biru merintih kesakitan atas perlakuan Farrel. Mungkin jika caranya indah, Biru akan merasakan betapa nikmatnya sensasi bersetubuh dengan Farrel. Tapi kali ini, Biru malah merasa sangat dipermalukan bahkan bukan satu tanda cinta yang besar dari Farrel untuknya. Ia merasa ini perampasan yang sangat besar dalam hidupnya. "Bang Farrel... udah, Baaang. Udaaah. Sakit, Baaang"
"Lo bilang lo cinta sama gue kan, Ru, hah??? Gak semua cinta itu indah!!! Cinta juga sakit!!!" jelas Farrel sambil terus bergerak kasar disana.
Biru menangis karena kesakitan. Sementara Farrel berusaha menikmati sesuatu yang sebenarnya bukan keinginan terbesarnya. Dia hanya ingin membalas perlakuan Biru pada Rasya.
"Ayo dong, katanya lo sayang sama gue!!! Jangan nangis!" ujar Farrel.
Biru kini hanya diam saja dalam lamunannya. Dia tak bisa berkutik dan meronta, seolah sesuatu telah membuatnya bungkam dan membiarkan Farrel terus melakukan kebiadabannya padanya.
Setelah itu Farrel membalikkan badan Biru, kemudian dia mengocok penisnya di hadapan wajah Biru. Dengan napas yang memburu dan bola mata yang mengadah ke atas, Farrel terus mengocok penisnya dihadapan wajah Biru yang sudah sembab.
Sampai satu menit kemudian cairan kental terpancar ke wajah Biru tak beraturan. Biru hanya bisa diam saja dengan wajah yang sudah merah dan hanya bisa menelan ludahnya dengan berat.
Setelah itu Farrel menghampiri kamar mandi yang berada di kamar Biru tersebut. Dia melepas semua pakaiannya dan membiarkan air dari kucuran shower turut membasahinya.
Farrel merasa perasaannya campur aduk. Dia baru saja melakukan kesalahan besar. Tapi dia puas melakukan itu. Baik Biru terima atau tidak, Farrel senang dapat membalaskan dendamnya pada Biru.
Sementara Biru di ranjangnya turut membersihkan wajahnya dari sisa air mani milik Farrel tadi. Meski dia merasa sangat ternodai, tapi entah mengapa dia mewajarkan kejadian tadi begitu saja. Baginya, meski dengan cara yang tak diinginkan, Farrel sudah mau menyentuhnya dengan caranya sendiri. Meski seolah terpaksa dan sangat tidak manusiawi, Biru malah merasa bahwa Farrel akan jatuh cinta kepadanya dengan tiap kali mengingat dosa terindahnya barusan.
Farrel keluar dari kamar mandi bertelanjang bulat lalu melihat ke arah Biru disana yang masih terduduk di ujung ranjangnya.
Biru turut menatap wajah Farrel dengan seksama. Melihat Farrel yang kini ada di hadapannya tanpa sehelai benangpun, membuat dirinya seolah bahagia sendirian. Kini malah dia yang sedikit bergairah, berharap Farrel akan mengulanginya dan memintanya baik-baik.
"Kalo sehabis ini lo mau ngelakuin sesuatu, apapun itu terserah. Gue udah gak peduli. Mau lo terima atau gak terima, silahkan. Lakuin aja apa yang pengen lo lakuin" ujar Farrel dengan tegas.
Biru kemudian berdiri dari duduknya dan membuka lemarinya. Dia mengambil sebuah handuk kering disana dan memberikannya pada Farrel.
Farrel hanya diam tak berkata apa-apa. Dia justru heran dengan sikap Biru saat ini.
Kemudian perlahan Biru menyentuh pipi Farrel sambil berkata, "Maafin Biru, Bang. Maafin Biru"
Farrel hanya diam tak menjawab apa-apa. Dia mencoba mengatur napasnya. Bersamaan dengan itu, Biru mendekati wajah Farrel dan mengecup bibirnya dengan lamat. Sementara Farrel hanya diam saja, memperhatikan wajah Biru yang begitu dekat dengannya.
TO BE CONTINUED
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ON YOU (END 18+)
Novela JuvenilWARNING : LGBT CONTENT 18+ HOMOPHOBIC BETTER READ ANOTHER STORY "Nakal dulu, baru jadi polisi" - Farel Abdul Fatturachman, 2016 Farrel adalah cowok flamboyan, idaman para gadis di SMA Bakti Perwira. Lelaki bergigi gingsul imut itu cukup populer di s...
