Ruang itu sempit. Dindingnya terbuat dari beton tua yang penuh noda lembab. Hanya ada satu kursi besi di tengah ruangan, satu meja kecil, dan satu lampu yang menggantung rendah dari langit-langit — menggoyang pelan, menciptakan bayangan yang terus bergerak di wajah lelaki yang duduk di bawahnya.
Amir.
Tangannya diborgol ke kaki kursi. Rambutnya berantakan. Ada darah kering di ujung bibirnya. Tapi matanya… tetap tenang. Datar. Tatapannya kosong, nyaris mati, seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam gelap dan tidak peduli lagi pada cahaya.
Pintu terbuka perlahan.
Farrel masuk.
Langkahnya pelan tapi berat. Bahunya kaku. Ia mengenakan jaket gelap, rambutnya masih basah oleh gerimis di luar. Sorot matanya tajam — bukan seperti mata seorang interogator biasa, tapi lebih seperti seseorang yang membawa luka pribadi dan dendam yang belum selesai.
Begitu pintu ditutup, hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Hening. Sunyi. Hanya suara berdetak dari lampu tua di atas mereka.
Farrel menarik kursi. Duduk di hadapan Amir. Menatapnya.
Amir tak bicara. Tak bergerak.
“Berapa lama lo pikir bisa sembunyi?” tanya Farrel pelan.
Tak ada jawaban.
“Lo kira pindah ke luar negeri, ubah identitas, bisa bikin semuanya hilang?”
Amir tetap diam.
Farrel menghela napas pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. “Gue gak peduli lo mau ngaku atau nggak. Tapi lo tahu kenapa gue di sini. Gue nggak akan tanya soal pemalsuan data, atau penggelapan, atau apapun yang orang lain anggap penting. Gue cuma mau satu hal.”
Ia mengepalkan tangannya di atas meja. Suaranya bergetar.
“Dimana Rasya?”
Amir masih menatap ke arah lantai. Tidak bereaksi sedikit pun.
Farrel memukul meja keras. “Dimana lo ngumpetin dia?!”
Diam.
“Lo pikir gue gak ngerti semua jejak lo? Lo tiba-tiba hilang. Rasya juga. Lo muncul lagi… sendiri. Rasya gak pernah muncul. Gak pernah ada kabar. Gak ada kuburan. Gak ada mayat. Gak ada suara. HANYA LO!”
Nada suaranya makin tinggi, tapi Amir masih membisu. Pandangannya seperti menerobos dinding — menolak melihat Farrel.
“GUE TANYA SEKALI LAGI!”
Farrel berdiri. Kursinya tergeser dengan suara nyaring. Ia mendekat ke arah Amir, menunduk, menatap wajahnya hanya beberapa inci.
“Dimana Rasya?”
Tak ada reaksi. Bahkan napas Amir pun nyaris tak terdengar.
Dan itulah yang membuat Farrel meledak.
Tangannya menghantam wajah Amir dengan keras — suara tamparan menggema di ruangan sempit itu. Kepala Amir terhuyung ke samping, darah segar mengalir dari bibirnya.
Tapi dia tetap diam.
Farrel mencengkeram kerah bajunya, menarik tubuhnya ke depan.
“Kenapa lo ke Austria, hah?! Buat apaan?!”
Amir tersenyum tipis — nyaris tak terlihat — dan itu membuat Farrel makin kehilangan kendali.
Satu pukulan lagi mendarat. Kali ini lebih keras. Amir terbatuk, meneteskan darah, tapi tetap tidak mengucap sepatah kata pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ON YOU (END 18+)
Teen FictionWARNING : LGBT CONTENT 18+ HOMOPHOBIC BETTER READ ANOTHER STORY "Nakal dulu, baru jadi polisi" - Farel Abdul Fatturachman, 2016 Farrel adalah cowok flamboyan, idaman para gadis di SMA Bakti Perwira. Lelaki bergigi gingsul imut itu cukup populer di s...
