Farrel mengurungkan niatnya untuk berhubungan intim dengan Rasya. Dia sangat tidak tega dengan kondisi Rasya yang masih merasa trauma.
Farrel hanya bisa mendekap Rasya yang kini tertidur dalam peluknya. Mereka berdua kembali terlelap, meski otak Farrel terus berputar hebat. Menyimpan seribu amarah yang tak teraba pada Herman, yang begitu biadab pada Rasya.
"Kalau hari ini adalah hari terakhir yang kita punya, apa yang ingin Aca lakuin?" tanya Farrel pada Rasya.
Rasya lalu mendongak dan berkata pada Farrel, "Aca gak mau kehilangan Ael"
"Apalagi Ael, Ca" timpal Farrel.
Rasya menyunggingkan senyumnya perlahan.
"Aca bener-bener mau kan, ikut sama Ael?" tanya Farrel, meyakinkan Rasya.
Rasya akhirnya mengangguk dengan yakin. "Aca mau ikut sama Ael. Kemanapun Ael pergi"
Farrel tersenyum penuh arti. "Makasih Aca udah percaya sama Ael"
"Aca yang makasih. Ael udah banyak berkorban buat Aca" ujar Rasya.
Lalu Farrel kembali mengecup bibir Rasya dengan lamat.
Namun tiba-tiba saja terdengar ketukan dari pintu kamar mereka. Baik Farrel juga Rasya, keduanya sama-sama terkejut dan buru-buru mengenakan pakaian mereka dengan cepat.
Suara ketukan semakin kencang, terdengar disana suara teriakan seseorang yang menyuruh mereka membuka pintu. Farrel melihat Rasya yang sudah selesai mengenakan pakaiannya begitu juga dengan dirinya. Lalu Farrel membuka pintu tersebut.
Betapa terkejutnya Farrel begitu Herman langsung saja mencengkram kerah bajunya dengan gahar. "Lo apain anak gue, lo??? Lo ngapain anjing???" BUGKKK!!! Herman menghantam keras wajah Farrel dengan kepalan tangannya yang hebat.
Farrel langsung terbungkuk sambil menahan sakit.
"BAPAK!!! JANGAN, PAK!!!" teriak Rasya.
Amir langsung saja menghampiri Rasya dan menarik tangannya. "Rasya, ayo kita pulang, Sya!"
"LEPASIN AMIR, LEPASIN!!!" Rasya berteriak sekuat tenaga, merontak meminta dilepaskan oleh Amir.
"Sya!!! Kamu harusnya sadar, Farrel itu gak baik buat kamu!!!" tegas Amir.
"EH, LO JANGAN BAWA LARI RASYA DARI GUE LO YA!!!" teriak Farrel pada Amir.
BUGGKKKK!!! Herman menghantam lagi wajah Farrel dengan keras sampai ia terjatuh dan berdarah.
"AEELLL!!!" teriak Rasya pada Farrel, namun Amir berhasil menarik Rasya dan membawanya pergi dari kamar itu.
"Aca..." Suara Farrel terdengar begitu lirih ditengah rasa sakit yang dideritanya kini.
"LEPASIN GUE!!!" Rasya merontak begitu ia berhasil dibawa oleh Amir keluar penginapan tersebut.
Amir berusaha sabar dihadapan Rasya. "Sya, lo bisa kan hargain perasaan gue sedikit??? Gue itu pacar lo, Sya. Seharusnya lo bisa hargai gue. Lo ngapain pergi sama Farrel, Sya? Dia gak baik buat lo"
"Lo tau apa tentang Farrel???"
"Dia gak baik buat lo!!! Dia cuma bawa pengaruh buruk buat lo! Lo gak liat apa yang dia lakuin sekarang ke lo???" tukas Amir dengan mantap.
"Eh, jangan lo pikir gue bego. Lo juga manfaatin kekayaan lo itu buat ngejilat Herman kan?" tegas Rasya, dia merasa kali ini sudah saatnya dia berontak.
"Gue gak selicik itu, Sya"
"Lo gausah sok baik di depan gue, Mir. Lo itu gak tulus. Beda jauh sama Farrel. Jadi tolong lo gak usah lagi ikut campur urusan gue sama Farrel"
Amir terdiam sejenak. "Jadi gini sekarang?"
"Mulai detik ini kita gak ada hubungan apapun lagi! Biarin gue pilih pilihan gue yang menurut gue jauh lebih baik"
Amir bergemin sejenak. Namun dia tetap menarik tangan Rasya dan meminta bantuan satpam untuk membawanya ke dalam mobil.
Sementara itu, Farrel masih berada di dalam kamar penginapan, berurusan dengan Herman.
"Udah gue bilang berkali-kali, lo jangan pernah deketin si Rasya kalo lo gak mau Rasya gue apa-apain!" camkan Herman, "Sekarang lo tanggung sendiri resikonya. Liat nanti apa yang bakal gue lakuin ke si Rasya!!!" DAGGKKK!!! Herman menendang perut Farrel sampai ia meringis tak mampu melawan.
Tapi Farrel berusaha bersuara pada Herman sekuat tenaga. "Di bayar berapa lo sama Amir??? Gue bayar dua kali lipat!!!"
Herman yang hendak pergi itu tiba-tiba berhenti melangkah dan tertawa. "Eh, bocah ingusan! Emang lo mampu, hah???"
"Hhrrgggghh... di bayar berapa lo sama Amir, bangsat!!!" tukas Farrel dalam menahan sakitnya.
Herman lalu mencengkram rambut Farrel dengan keras. "Lo gausah sok keras sama gue, lo liat apa yang bakal gue lakuin sama lo!"
"Lo dibayar berapa sama Amir, anjing!!!" teriak Farrel.
Herman tertawa seketika. Merasa bahwa Farrel terlihat begitu bodoh. "Lu pikir, si Amir yang repot-repot untuk nyuruh gue ngelakuin ini semua???"
Kini Farrel bingung, "Apa maksud lo???"
"Yaaah, emang sih, si Amir pernah nyuruh gue untuk gak gebukin si Rasya lagi, tapi itu cuma pas saat untuk latihan musiknye si Rasya doang"
Farrel mengernyitkan keningnya.
"Tapi... yang nyuruh gue untuk maksa lo ninggalin si Rasya, lo mau tau siape???"
Farrel masih dengan raut penasaran dan bingungnya.
"Si Biru noh, keponakan tersayang lo!" tegas Herman.
Farrel membelalakkan matanya, dia tak menyangka bahwa Biru di balik ini semua.
"Lo pikir dia bahagia liat kedeketan lo sama si Rasya??? Kagak!!! Makanya dia nyuruh gue untuk bikin lo jauh dari si Rasya" jelas Herman, mengungkap semua kebenaran.
"Jadi selama ini...."
"Si Amir tuh cuma manfaatin ketiadaan lo di hidup Rasya, supaya dia bisa deket sama si Rasya. Ngarti kagak lo???" tukas Herman, menoyor kepala Farrel.
"Lo pasti bohong kan?"
"Aaaahh, terserah lo deh ah! Makanya jadi orang jangan gampang percaya sama orang lain. Apalagi itu orang terdeket lo sendiri!!!" Herman menyepak lagi wajah Farrel sampai ia pingsan di tempatnya. Herman pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
TO BE CONTINUED
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ON YOU (END 18+)
Fiksi RemajaWARNING : LGBT CONTENT 18+ HOMOPHOBIC BETTER READ ANOTHER STORY "Nakal dulu, baru jadi polisi" - Farel Abdul Fatturachman, 2016 Farrel adalah cowok flamboyan, idaman para gadis di SMA Bakti Perwira. Lelaki bergigi gingsul imut itu cukup populer di s...
