Farrel tak bisa tidur. Ia terus-menerus menunggu kabar dari pihak kepolisian yang sedang berusaha melacak keberadaan Amir. Di dalam kamarnya, pikirannya kacau. Ia mondar-mandir, duduk, lalu berdiri lagi. Rasa gelisah menghimpit dadanya. Ia mengambil ponsel, membuka galeri, dan menatap lekat-lekat foto Rasya di layar.
"Sebenarnya lo di mana sih, Ca??? Gue kangen banget sama lo!" gumamnya dengan suara lirih, penuh kerinduan.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka perlahan. Biru masuk dengan langkah ragu dan wajah penuh rasa bersalah. Sorot matanya menunjukkan penyesalan yang mendalam.
"Bang Farrel... Biru mau minta maaf," katanya dengan suara pelan, hampir bergetar.
Farrel menoleh cepat, wajahnya langsung mengeras.
"Udahlah, Ru! Gue gak mau ngebahas apa-apa lagi sama lo!" sahutnya dingin, tanpa menatap Biru lebih lama.
Biru menggigit bibirnya. Ia melangkah lebih dekat, mencoba menahan emosinya.
"Tapi ini udah lama banget, Bang. Lo masih belum mau maafin gue?" tanyanya lirih, lalu menambahkan dengan nada getir,
"Dan lo juga masih mau nyari si Rasya? Meskipun itu kedengarannya mustahil? Dia udah pergi ninggalin lo, Bang. Harusnya lo bisa paham itu! Udah bertahun-tahun lamanya, Bang!"
Farrel langsung berdiri. Matanya membelalak, napasnya memburu.
"Lo keluar!" katanya tegas, suaranya menahan amarah.
"Hah?" Biru terdiam, tak percaya apa yang didengarnya.
"KELUAR!!!" teriak Farrel sekuat tenaga. Suaranya menggema di dalam kamar.
Biru terhenyak, kemudian dengan wajah terluka, ia berbalik dan bergegas keluar dari kamar. Saat ia menutup pintu, tangannya secara refleks membantingnya. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Farrel terkejut dan terdiam sejenak.
Farrel terduduk kembali di atas ranjang. Dadanya naik turun. Di balik ketegasannya, ada luka yang belum sembuh. Banyak orang yang sudah menyerah dan tak percaya Farrel bisa menemukan kembali Rasya, pujaan hatinya. Namun Farrel tetap keras kepala. Ia tak pernah berhenti, tekun dalam pencariannya, seolah masih ada harapan yang menuntunnya.
Kini, satu-satunya petunjuk yang tersisa hanyalah Amir.
Pertanyaannya, di mana Amir sekarang?
Kabar yang beredar simpang siur. Ada yang mengatakan Amir masih berada di Austria. Namun, ada pula yang menyebut bahwa Amir telah kembali ke Indonesia dan kini bersembunyi dari siapa pun yang mencarinya. Semuanya terasa begitu misterius dan membingungkan.
~
Malam telah larut. Jam dinding terus berdetak, namun waktu seolah tak bergerak bagi Farrel. Kamarnya sunyi, hanya ditemani suara hujan yang mulai turun pelan — seolah alam pun ikut merasakan sesuatu yang berat di dadanya.
Ia duduk sendirian di atas ranjang, hanya mengenakan kaus tipis dan celana tidur yang sudah kusut. Udara tak terlalu dingin, tapi kulitnya terasa menggigil — bukan karena suhu, tapi karena gelombang perasaan yang terus menghebat dalam diam.
Rasya.
Nama itu berputar-putar di benaknya, tak henti. Sosoknya hadir begitu nyata di kepalanya, meski tidak pernah benar-benar hadir di dunia nyata. Ia tak pernah mengirim pesan, tak pernah menyentuh Farrel, bahkan mungkin tak tahu bahwa dirinya begitu penting bagi seorang laki-laki yang kini duduk telanjang dalam diam.
Farrel mematikan lampu, menyisakan hanya cahaya remang dari jalanan yang masuk lewat celah jendela. Cahaya itu membentuk bayangan samar di dinding — bentuk yang entah mengapa mengingatkannya pada Rasya. Sosok yang tak pernah ia miliki, namun tak pernah bisa ia lupakan.
Dengan perlahan, ia melepaskan semua yang menempel di tubuhnya. Satu per satu. Bukan karena dorongan vulgar, tapi karena ia ingin melepaskan segalanya: rasa malu, rasa bersalah, rasa kehilangan. Kini ia hanya sendiri, seutuhnya. Tanpa sandaran. Tanpa suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ON YOU (END 18+)
Ficção AdolescenteWARNING : LGBT CONTENT 18+ HOMOPHOBIC BETTER READ ANOTHER STORY "Nakal dulu, baru jadi polisi" - Farel Abdul Fatturachman, 2016 Farrel adalah cowok flamboyan, idaman para gadis di SMA Bakti Perwira. Lelaki bergigi gingsul imut itu cukup populer di s...
