Ruangan itu semakin pengap. Bau darah dan keringat bercampur jadi satu, menempel di udara, di dinding, di kulit.
Amir masih duduk, diborgol, tubuhnya lunglai, kepala tertunduk. Tapi bibirnya tetap terkunci. Air mata mengalir pelan di pipinya. Ia terlihat seperti seseorang yang menyimpan sebuah rahasia besar… dan memilih terluka daripada mengungkapnya.
Farrel berdiri di depannya, diam. Napasnya berat. Matanya tidak lepas dari Amir.
Lalu dengan suara rendah, tanpa emosi, ia berkata:
“Panggil Dani.”
Pintu terbuka cepat. Seorang petugas masuk. Polisi muda, mengenakan rompi taktis berlogo satuan reskrim.
“Ambilin STUN GUN. Sekarang.”
Dani menatap Farrel sejenak, seolah ragu, tapi kemudian mengangguk "Siap, Ndan" lalu keluar.
Amir mendongak pelan. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Ia belum tahu alat itu akan dipakai padanya — tapi kata “stun gun” sudah cukup untuk membuatnya kaku. Sorot matanya berubah. Ada kepanikan yang naik dari dasar tubuhnya, perlahan, tapi pasti.
Farrel tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Amir dari balik meja. Mata tajamnya menelanjangi segalanya.
Beberapa menit kemudian, Dani kembali. Di tangannya, sebuah alat genggam berwarna hitam — TASER X26 — model yang umum dipakai di divisi penegakan hukum, dengan dua elektroda di ujungnya. Siap untuk menghantam saraf otot siapa pun yang menolak bicara.
Dani meletakkan alat itu perlahan di atas meja.
Klik.
Suara kecil ketika pelindungnya dibuka.
Cahaya biru menyala singkat di ujungnya. Tegangan listrik mengeluarkan suara "zzzzttt" yang menyayat udara.
Farrel memandang Amir, tanpa berkedip. “Gue kasih lo kesempatan terakhir.”
“Lo mau ngaku…” Ia menggeser alat itu pelan ke arah Amir. “…atau lo mau lidah lo kebakar duluan?”
Amir menelan ludah. Matanya membelalak.
Ia mulai gemetar. Bahunya naik-turun, nafasnya pendek. Terlihat jelas — ia panik. Sangat panik. Ia ingin bicara… tapi sesuatu di dalam dirinya menahan kuat-kuat.
“Gue... gue gak bisa...” katanya lirih, gemetar.
Farrel menoleh ke Dani.
“Nyalain lagi.”
Zzzttttttt!
Suaranya lebih panjang kali ini. Petir kecil itu menyala terang di ruang remang.
Amir mendongak, matanya mulai basah lagi, tapi bukan karena luka — karena ketakutan yang luar biasa.
“Farrel… jangan… jangan...” suaranya putus-putus. "Gue beneran gak bisa…”
Farrel membentak:
“LO GAK MAU ATAU GAK BISA?!”
Amir menggeleng cepat. “Gue takut… gue takut, Rel...”
Farrel menarik napas panjang.
“LO TAKUT?! SIAPA YANG HARUSNYA TAKUT, HAH? GUE?! GUE YANG GAK TAU DIA MASIH HIDUP ATAU UDAH MATI?! ATAU LO YANG SEMBUNYIIN SEMUANYA?!”
Zzzzttttt!
Stun gun kembali menyala. Dani bersiap.
Amir mulai menangis terbuka sekarang. Tangis yang bukan hanya karena rasa sakit atau teror… tapi karena beban yang terlalu besar untuk ia pikul sendiri. Kepalanya menggeleng-geleng. Tubuhnya makin bergetar di kursi.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ON YOU (END 18+)
Teen FictionWARNING : LGBT CONTENT 18+ HOMOPHOBIC BETTER READ ANOTHER STORY "Nakal dulu, baru jadi polisi" - Farel Abdul Fatturachman, 2016 Farrel adalah cowok flamboyan, idaman para gadis di SMA Bakti Perwira. Lelaki bergigi gingsul imut itu cukup populer di s...
