Chapter 14

314 29 0
                                        

Cerita ini hanya fiksi, murni dari otak halu Author. Cerita ini mengandung unsur kekerasan dan pembunuhan, tidak diperkenankan untuk yang masih dibawah umur. Harap bijak dalam membaca.

Soo, Enjoy with my new story.

Soo, Enjoy with my new story

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_o0o_

Langit malam bagaikan kanvas hitam yang dilumuri tinta, diterangi oleh kilatan petir yang menyilaukan. Hujan deras turun tanpa henti, menghantam atap sekolah dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Di dalam gedung sekolah yang megah namun sunyi, sekelompok murid terjebak di tempat yang berbeda.

Saat ini, keempat Chaser tengah berhadapan dengan orang misterius yang tampak mengancam dengan kapaknya. Untungnya pengaman yang seperti jeruji besi itu menjadi penghalang mereka dengan orang misterius.

"Pfft, kayaknya dia kejebak juga deh," cibir Aron membisik temannya.

Bigel melangkah mundur, "Nggak usah diladenin, kita harus cari jalan keluar. Zura sama temennya juga lagi kejebak," ucap Bigel bagai perintah, membuat temannya ikut berbalik pergi meninggalkan orang aneh itu.

Namun baru saja mereka melangkah, suara gemuruh jeruji besi tiba-tiba terdengar. Serentak mereka berbalik dengan keterkejutan melihat orang aneh itu merusak pengaman dengan kapaknya.

"The hell!"

"Shit!"

Cepat-cepat mereka berlari kencang saat orang itu juga mulai mengejar seraya mengangkat kapak nya yang berkilauan dibawah cahaya petir.

Malam yang mengerikan disertai petir yang menyambar, para murid yang terjebak benar-benar bermandikan keringat demi bertahan dari orang aneh yang tiba-tiba menyerang mereka.

Kryztal berhenti sejenak mengatur napasnya, ia kemudian menatap ke arah balkon, lalu menyorot ke bawah mendapati lapangan kini terguyur oleh hujan.

"BUBUUU!!!" teriak Kryztal tiba-tiba, berharap kepanikannya akan berkurang jika memanggil nama Angkasa. Mevlana dan Zathura langsung menariknya berjongkok dibalik tembok balkon.

Mereka berdua menyumpal mulut Kryztal dengan raut panik, teriakan Kryztal bisa mengundang orang aneh itu menghampiri mereka.

"Shuut!" suruh Zathura, dan Kryztal mengangguk mengerti dengan raut takut.

"Dikit lagi kita sampai di ujung, gue yakin pengaman di tangga itu bisa di buka!" ucap Zathura sedikit menenangkan temannya.

Mereka berderap menyusuri koridor yang sangat panjang dan berliku. Mevlana yang berada paling depan tiba-tiba berhenti, membuat Kryztal mencoleknya, menyuruhnya untuk berjalan lebih cepat.

Ternyata pendengaran tajam Mevlana menangkap suara langkah yang berat disertai seretan besi yang mendecit dari lantai. Mereka berbalik dengan perlahan.

THE EXTRACURRICULER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang