Ke Sekolah Cari Ilmu. X
Ke Sekolah Cari Mati. ✓
Luxury High School merupakan sekolah terpandang yang dihuni oleh para murid populer yang dikenal diberbagai sekolah.
Tapi semuanya bukan mengenai sekolah itu ...
Melainkan, suatu hal menyeramkan, di...
Cerita ini hanya fiksi, murni dari otak halu Author. Cerita ini mengandung unsur kekerasan dan pembunuhan, tidak diperkenankan untuk yang masih dibawah umur. Harap bijak dalam membaca.
Soo, Enjoy with my new story.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kaki Aron melangkah cepat menuju tempat motornya terparkir. Namun tiba-tiba pagar terbuka memperlihatkan mobil sang Ayah yang memasuki pekarangan. Aron melihatnya seraya memasang helm nya.
Royan yang masih belum memarkirkan mobilnya dengan baik, tiba-tiba keluar untuk mencegat Aron.
"Mau kemana kamu?" tanya Royan dengan raut tegas.
Aron kembali membuka helm nya, "Kenapa gak bilang sih Pah, kalau Zeyn abis kecelakaan?" bukan jawaban yang ia katakan, dan Aron yakin jika ayahnya pasti tau.
"Kita bahas itu nanti, sekarang masuklah dan kumpulkan barang mu!" paksa Royan seraya menarik Aron turun dari motor.
"Apaansih Pah, Aron mau jenguk Zeyn!" kesal Aron, memang ia selalu ingin merasakan larangan dari Ayahnya. Tapi untuk sekarang, adalah waktu yang tidak tepat.
"Tidak untuk sekarang!" lontar Royan terus memkasa Aron masuk kembali.
"Aisshh. Kenapa sih Pah, gak biasanya kayak gini!" kesalnya penuh keluhan.
Royan tiba-tiba berbalik dengan tatapan sangar, "Berhenti mengeluh Aron! Kamu sendiri juga tidak pernah memberitahu Ayah hal-hal buruk yang terjadi di sekolah mu. Lihat sekarang, segalanya harus dilakukan secara mendadak!" oceh Royan untuk pertama kalinya, biasanya ia hanya menegur dengan sepatah dua kata saja.
Aron terdiam seraya mengikuti langkah Ayahnya memasuki lift yang akan membawa mereka naik ke lantai 4. Sementara itu, diluar sana, sudah terlihat seorang wanita yang keluar dari mobil mewah dengan raut cemas.
Ia melangkah cepat menyusuri pekarangan yang luas itu. Lalu didalam sana, saat Ayah dan anak itu sudah sampai di lantai 4, Aron segera menepis cengkraman ayahnya.
"Apalagi? Jangan melawan Aron, ayah sedang berusaha menyelamatkan mu!" lontar Royan dengan suara tinggi.
Aron tersenyum miris, "Selamat dari apa?" tanya nya dengan alis terangkat, "dari Black eye?" imbuh Aron membuat kepalan tangan Royan mengerat dengan rahang mengencang.
"MASUK KE KAMAR MU ARON!" titah Royan penuh penekanan seraya menunjuk ke arah kamar Aron.
Aron menggigit bibir nya dengan mata berkaca-kaca, "Papah beneran gak punya hubungan kan sama mereka?" tanya Aron dengan suara sedikit bergetar, takut jika segalanya sesuai dengan kecurigaannya.
"Berhenti bertanya, dan masuk ke kamar mu!" Royan tak menatap Aron.
Buliran-buliran air mata jatuh bebas membasahi pipi Aron, "Pah, papah gak bunuh orang cuma untuk kekayaan kan?" tambah Aron, matanya menatap dalam ke mata Royan. Royan merasakan dadanya sesak mendengar pertanyaan itu. Dengan cepat ia meraih bahu Aron, berusaha mencari kata-kata yang tepat.