Chapter 22

214 22 0
                                        

Cerita ini hanya fiksi, murni dari otak halu Author. Cerita ini mengandung unsur kekerasan dan pembunuhan, tidak diperkenankan untuk yang masih dibawah umur. Harap bijak dalam membaca.

Soo, Enjoy with my new story.

Soo, Enjoy with my new story

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_o0o_

Angin malam berhembus dingin menusuk tulang, membawa serta bau amis tanah dan dedaunan busuk. Zathura merapatkan jaket nya, tubuh nya gemetar bukan hanya karena hawa dingin, tapi juga karena rasa takut yang mulai menyelimuti. Sinar bulan remang memantul pada mata nya yang membulat, menatap penuh waspada ke sekeliling.

Meski begitu, ia harus menepis rasa takutnya dengan terus mencari keberadaan para guru, bukan tanpa alasan Zathura begitu gigih melakukan pencarian seorang diri, hal itu dikarenakan Kakek nya pun berada dalam mobil tersebut.

Untuk urusan Krytzal, ia sudah menghubungi Mevlana untuk menemani gadis itu.

Sepanjang jalan, Zathura hanya bisa berharap seraya mengumpat beberapa kali. Jalanan yang kecil dan becek, ditambah suara-suara hewan yang cukup membuat nya bergidik beberapa kali.

Hingga setelah sejam lebih pencarian, ia akhirnya bisa melihat mobil mewah yang ia yakini merupakan mobil sekolah. Cepat-cepat Zathura berlari ke arahnya.

Sementara di sisi lain, ditempat dirinya memarkirkan mobilnya, suara dering ponsel terdengar nyaring dari arahnya. Nyatanya suara itu berasal dari ponsel milik Zathura yang sengaja ia tinggalkan di dalam mobilnya.

Anehnya, ponsel itu berdering dengan menunjukkan jika si penelpon adalah sang Kakek.

Zathura berdiri mematung dengan raut cengo, matanya membulat sempurna, mendapati segerombolan orang berjubah merah tengah berdiri menghadap ke arahnya.

"Selamat datang, nona Zathura!"

_o0o_

Hujan turun dengan lebatnya, sementara ketiga Chaser masih melanjutkan pencariannya. Mereka semakin yakin jika segalanya memang terhubung dengan Atlantis setelah menemukan banyak kertas ulung yang mirip dengan kertas undangan ibadah orang tua mereka.

Rasa penasaran membakar dada Alaska. Ia kembali melangkah naik menuju kamar Atlantis, kakinya menginjak anak tangga kayu yang berderit pelan. Sesampainya, satu persatu laci nakas tua itu dibuka, debu beterbangan saat ia mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan. Sarang laba-laba menggantung menjuntai, seakan menjadi penjaga rahasia yang tersimpan di balik pintu-pintu kecil itu.

Matanya kembali menyorot pada bingkai foto yang terbalik, dengan langkah pasti, ia kembali mendekati, secepat kilat Alaska membaliknya, menampakkan sebuah foto seorang wanita dan seorang pria.

Pikiran Alaska buntu seketika, ia terkesiap, amarah membuncah dalam dadanya, terlihat dari rahangnya yang mengeras dan kepalan tangannya yang mengepal erat.

THE EXTRACURRICULER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang