Chapter 11

330 32 5
                                        

Cerita ini hanya fiksi, murni dari otak halu Author. Cerita ini mengandung unsur kekerasan dan pembunuhan, tidak diperkenankan untuk yang masih dibawah umur. Harap bijak dalam membaca.

Soo, Enjoy with my new story.

Soo, Enjoy with my new story

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_o0o_


17 April 2023

Langit pagi ini bagaikan cerminan hati Zathura. Abu-abu, mendung, tanpa semburat jingga mentari yang biasa menghangatkan jiwa. Angin bertiup semilir, menerbangkan dedaunan kering yang berputar-putar di udara, bagaikan gambaran kekacauan dalam benaknya.

Zathura duduk di sofa tepi jendela, tatapannya kosong, menerawang ke luar jendela. Cahaya redup pagi hari menyapa wajahnya, namun tak mampu menembus kabut tebal yang menyelimuti hatinya. Rambutnya yang panjang terurai, kusut karena ia tak sempat mengurainya semalam.

Pagi ini, ia rasanya sangat malas ke sekolah. Ditambah berita jika perlombaan lanjutan harus ditunda karena suatu alasan penting, membuat Zathura semakin berat melangkah ke sekolah.

Sesekali, Zathura menarik napas panjang, berusaha menenangkan hatinya yang gundah. Tapi rasa sesak di dadanya tak kunjung hilang. Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di kepalanya, tak terjawab dan semakin memperparah rasa kalutnya.

Hingga ketukan pintu membuyarkan segalanya. Ia berbalik, mendapati Kiano yang kini berdiri di ambang pintu dengan seragam lengkap.

Zathura menatapnya lesu, "Duluan aja, gue lagi malas sekolah!" ucapnya lalu kembali menatap jendela.

Entah sejak kapan mereka jadi akrab.

Kiano menghela napas berat, kemudian melangkah masuk tanpa menunggu izin Zathura. Ia bergerak membuka lemari besar yang dihias ukiran bunga, kemudian meraih seragam Zathura dan menaruhnya di kasur.

Kiano kembali menatap Zathura yang kini juga menatapnya dengan tatapan bingung. Ia bergerak mendekat, kemudian duduk di hadapan Zathura.

"Ngurung diri gak akan ngasih lo jawaban apapun," ucapnya pada Zathura yang kini sedang menahan air mata.

"Kita sekarang punya tanggung jawab Za. Gimana kalau kakek beneran terlibat dalam teror ini?" ucapan Kiano membuat Zathura menggeleng dengan buliran air mata yang mulai meluncur deras.

"Nggak, gue gak mau kakek terlibat!" ujar Zathura yang kini tertunduk seraya terisak.

Kiano terdiam seraya menggigit bibir bawahnya, ia paham dengan perasaan Zathura. Ia sangat sayang dengan kakeknya, melihat kejadian semalam tentu membuatnya sangat terpukul.

Zathura tiba-tiba mendongak, ia mengusap wajahnya, menyekanya dari linangan air mata yang membasahi. Zathura nampak mencoba untuk tetap tegar sebelum segalanya terungkap.

"Shit! Gak ada waktu buat nangis, gue harus ke sekolah dan mastiin semuanya!" ucapnya tiba-tiba antusias, membuat Kiano tersenyum tipis melihat perubahan mood nya yang cukup cepat.

THE EXTRACURRICULER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang