Chapter 23

207 16 0
                                        

Cerita ini hanya fiksi, murni dari otak halu Author. Cerita ini mengandung unsur kekerasan dan pembunuhan, tidak diperkenankan untuk yang masih dibawah umur. Harap bijak dalam membaca.

Soo, Enjoy with my new story.

Di tengah malam yang dini, sebuah mobil mewah berwarna hitam melaju kencang di jalan raya yang sepi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Di tengah malam yang dini, sebuah mobil mewah berwarna hitam melaju kencang di jalan raya yang sepi. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, namun kedua penumpang di dalamnya tampak jauh dari rasa kantuk.

Di balik kemudi, ada Zack dengan raut wajah tegang terus menginjak pedal gas. Matanya sekilas melirik ke belakang, mengamati putranya yang terus menatap kosong ke arah luar.

Bigel terus melukai tangannya tanpa ia sadari, sedari tadi pikirannya tak pernah lepas dari apa yang sedang Alaska lakukan saat ini. Karena yang bisa ia lakukan saat ini hanya berusaha untuk tidak menjadi target selanjutnya.

"Jangan khawatir, kau tidak akan mati. Ayah tidak akan membiarkan hal itu," ucap Zack tiba-tiba.

Bigel melirik sinis, lalu seringai tipis muncul dari sudut bibir nya, seakan meremehkan ucapan Ayahnya yang kini terdengar konyol.

"Ayah yakin para keparat yang meneror kalian punya tujuan untuk melakukan Upacara Penebusan Dosa," ucapan Zack membuat Bigel mengerutkan keningnya.

"Sejauh ini, teman-teman mu yang telah menjadi target belum ada yang sampai mati. Karena jika ada, Penebusan Dosa akan berhasil dilakukan. Jadi saat ini, ayah akan pastikan kau akan menjadi salah satu yang selamat!" lanjut Zack sangat mampu membuat rahang Bigel menegas.

"Maksud Ayah ... Ayah ngebiaran Alaska yang nebus semuanya?" tanya Bigel dengan jantung berdegub kencang.

Zack mencengkram kemudinya, sejenak ia tak menjawab pertanyaan Bigel.

"JAWAB!!!" bentak Bigel

"YA!" jawab Zack yang terdesak, "Segalanya terjadi karena rencana Garaga, mau tidak mau dialah yang harus menanggungnya!" tambahnya cukup frustasi dibuatnya.

Bigel menggeleng miris dengan mata berkaca-kaca. Ia bersandar dengan perasaan campur aduk. Situasi macam apa ini?

'selama ini gue gak pernah punya teman yang bener-bener teman'

Perkataan Alaska yang sangat tertanam dalam benak Bigel. Seseorang yang baru merasakan pertemanan sesungguhnya, haruskah berakhir karena temannya juga?

"Tidak!"

Dengan gerakan cepat, Bigel merengkuh kemudi dan berusaha membuka kunci pintu di samping ayahnya

"Bigel, kau ingin apa?" panik Zack saat Bigel membuka pintunya dan hendak keluar dari mobil disaat mobil masih sedang melaju cepat.

Tanpa pikir panjang, Bigel melompat dari mobil yang melaju kencang, tubuhnya tergores kasar oleh aspal saat mendarat. Zack, yang terkejut, menginjak rem kekuatan dan menepikan mobil di bahu jalan layang.

THE EXTRACURRICULER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang