Gema memperhatikan Relci yang sedang menaburkan bunga di sebuah makam. Relci tidak memberitaunya itu makam siapa, tapi sepertinya dia bisa menebaknya. Di pemakama itu ada Relci, Gema , Arthur, dan Zian. Mereka duduk di samping makam untuk berdoa. Gema bisa melihat sebuah senyuman di bibir Relci saat sedang berdoa.
'Mami Relci ke sini sama papi sama bunga Relci juga. Relci belum kenalin dia ya? Nama nya Gema Pratama ada Xabiru juga sih, dia alter ago nya Gema, tapi mereka tetep satu bukan dua. Mami pernah cerita tentang bunga dandelion bukan? Relci tau siapa itu sekarang. Mami bilang kalau suatu hari nanti Relci ketemu bunga yang sama kayak Mami Relci harus jaga dia baik-baik, dan Relci bakal lakuin itu. Semoga Mami suka sama bunga Relci ya.'
Walaupun tersenyum, tetap saja satu air mata lolos membasahi pipinya. Namun, Relci benar-benar merasa lega sekarang setelah meceritakan hal itu pada maminya. Gema yang menyadari itu menyenderkan kepala Relci ke bahunya, mengusap air mata di pipi Relci pelan.
'aku akan selalu menepati janjiku'
Arthur mengusap nisan almarhum istrinya, satu-satunya wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta, wanita yang meberinya permata terindah dalam hidupnya. Dia akan menjaga permata itu dengan nyawanya seperti Anna yang menjaganya.
"Papi." panggil Relci.
Arthur menoleh ke arah Relci, "Ya?"
"Jenis bunga apa yang Papi suka?" Tanya Relci dengan pandangan tetap fokus pada makam Maminya.
Sedangkan Arthur yang mendapat pertanyan itu sempat tediam sebentar sebelum menjawab, "Wisteria."
"Ya, itu cukup mirip." Relci terkekeh, terlintas sesuatu di kepalanya. Apa nama keluarganya harus di ganti menjadi bunga? Ya mari kita coba kapan-kapan.
Gema penasaran apa yang di bahas mereka, kenapa tiba-tiba membuka topik tentang bunga? Gema tidak mengerti apa maksudnya.
_________________________________
________________________
Di dalam mobil Relci rebahan dengan bantalan paha Gema, meskipun agak sempit tapi cukup nyaman, mungkin karena Gema terus mengelus rambutnya.
Tadi dia berpisah dengan papinya karena harus ke kantor, ya Arthur akan sangat sibuk dengan pekerjaan untuk selanjutnya. Sedangkan Zian ikut bersama Relci dan Gema, dia yang mengemudi.
"Gema menurutmu bunga matahari itu gimana?" Tanya Relci sambil sedikit mendongak agar bisa menatap mata Gema.
Bunga lagi? Apa Relci benar-benar menyukai bunga? "Cantik, kalau bunganya lagi mekar dia kayak selalu senyum"
"Kamu suka bunga matahari?" Tanya Relci lagi.
"Ya, lumayan." Jawab Gema sambil menganguk-anggukkan kepalanya.
Relci memutar kepalanya ke arah Zian yang sedang memgemudi di depan, "Zian kalau menurutmu gimana?"
"Bunga matahari milik anda atau yang lain?" Tanya Zian sambil melirik sekilas ke arah spion.
"Milikku." Tekan Relci.
"Hanya butuh beberapa perawatan lagi untuk menjadi seperti yang Tuan muda katakan." Jawab Zian dengan pandangan yang kembakli mengarah ke jalanan yang ramai. Entahlah, mendengar pertanyaan itu membuat Zian sedikit merasa aneh.
"Kamu punya bunga matahari?" Tanya Gema antusias, pasalnya dia tidak pernah melihat satu bunga matahari pun di mansion. Apa mungkin Gema yang tidak menyadarinya?
"Ya satu, nanti kapan-kapan aku kasih liat."
"Janji ya?" Ucap Gema sambil memberikan jari kelingkingnya ke arah Relci.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Relci [End] [Terbit]
Romance#FOLLOW DULU SEBELUM BACA! #MASA REVISI Biasanya di dalam sebuah hubungan, cowo lah yang akan memegang kendalinya. Namun, Bagaimana jika yang terjadi adalah kebalikannya? sifat yang mendominasi, obsesi, dan yang memegang kendali dalam hubungan malah...
![Gema Relci [End] [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/345209377-64-k255226.jpg)