Sesuai janji Relci kemarin di sekolah, sekarang diri nya dan juga Gema sedang menuju ke rumah Bintang, dengan Zian yang menjadi supirnya. Arthur tidak mengizinkan Relci menyetir karena bahunya masih belum sembuh.
"Berhenti sebentar Zian," ucap Relci saat melihat toko kue. Dia ingin membeli pie kesukaan Buna sebagai tanda permintaan maaf jarang ke mansion nya. Dia tau nanti pasti akan kena omel, pie ini sebagai pelindungnya.
Zian mengangguk dan memakirkan mobil di tempat yang sudah di sediakan.
"Ingin ikut atau tetap disini?" Tanya Relci pada Gema yang sedang memakan coklat.
Gema menggeleng, "sini aja." Jawabnya.
"Oke, aku pergi sebentar. Jangan kemana-mana. Suruh temenin sama Zian kalau emang harus pergi. Mengerti?"
"Iya." Jawab Gema mengangguk lucu.
Sepeninggal Relci, Gema hanya memperhatikan suasana jalanan yang sedang sepi sambil terus memakan coklatnya. Pandangannya tidak sengaja melihat anak kecil yang sedang berjualan sesuatu di pinggir jalan yang bersebrangan dengannya.
"Zian." Panggil Gema pelan pada Zian yang duduk di kursi pengemudi.
"Iya Tuan Muda?"
"Temenin aku ke sana bentar boleh?" Tunjuk Gema pada anak kecil tadi.
Zian ikut melihat ke arah yang di tunjuk Gema, "tentu. Mari, saya temani." Jawab Zian dan turun untuk membukakan pintu tempat duduk Gema.
Zian bersama Gema menyebrang jalan untuk mendakati anak kecil tadi. Bisa di lihat anak itu masih sangat kecil untuk berjualan. seharusnya umur segitu sedang asik-asiknya bermain bersama teman-teman seusianya. Gema jadi merasa iba.
"Adek jualan apa?" Tanya Gema pada anak kecil itu. Sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.
Anak kecil itu tampak sedikit tersentak kaget mendengar pertanyaan Gema, pasalnya dia sedang melamun tadi.
"Arel jualan donat. Kakak mau beli?" Tanya anak kecil itu balik dengan excited. Membuat hati Gema ter-enyuh karena gemas.
"Iya, kakak beli tiga ya." Gema melemparkan senyuman termanisnya pada Arel.
Arel langsung membungkus pesanan Gema ke dalam plastik, setelahnya diberikan pada Gema. "Jadi enam ribu kak." Kqtanya, Gema pun memberikan beberapa uang pada Arel.
"Ini kebanyakan kak, Arel nggak punya kembalian." Ucap Arel sambil melihat beberapa uang merah yang di berikan Gema padanya.
"Nggak apa-apa, buat adek aja kembaliannya."
"Beneran?" Tanya Arel berbinar.
"Iya. Simpan yang baik ya." Gema mengelus pelan rambut Arel. Dia ikut senang saat melihat senyuman kecil di bibir Arel. Jika dilihat-lihat, Arel benar-benar imut dengan mata bulat dan kulit putih bersihnya, Belum lagi dengan pipi tembemnya yang seperti akan tumpah.
"Makasih kak, Kakak baik banget."
"Sama-sama. Arel juga harus jadi anak yang baik juga oke? Karna Tuhan selalu bersama orang yang baik. Enggak peduli seberapa sulit hidup Arel nanti, Arel pasti bisa ngejalaninya. Yang penting Arel tetap semangat, jangan nyerah sama keadaan. Satu hal lagi yang harus Arel ingat, setiap orang pasti akan menemukan kebahagian sejatinya suatu saat nanti, walaupun itu cuma beberapa menit dalam hidupnya." Arel hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Walau dia tidak mengerti semua yang di katakan Gema, tapi ada satu hal yang dia ingat. Arel harus jadi anak baik biar bisa ketemu sama kebahagian Arel nanti.
"Eumm, Arel bakal jadi anak baik." Ucap Arel sambil memamerkan deretan gigi susunya.
"Anak pintar. Ngomong-ngomong, kok Arel jualan nya sendiri? Mamanya mana?" Tanya Gema yang tak melihat satu orang dewasa pun fi sekitar anak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Relci [End] [Terbit]
Romance#FOLLOW DULU SEBELUM BACA! #MASA REVISI Biasanya di dalam sebuah hubungan, cowo lah yang akan memegang kendalinya. Namun, Bagaimana jika yang terjadi adalah kebalikannya? sifat yang mendominasi, obsesi, dan yang memegang kendali dalam hubungan malah...
![Gema Relci [End] [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/345209377-64-k255226.jpg)