"Lo kenal sama tu orang? Enggak punya sopan santunnya anjir, main pergi-pergi aja." tanya Rian dengan kesal.
Pasalnya tadi dia lagi marah-marah. Tapi malah tidak di respon apa-apa. Terus apa lagi tadi main bisik-bisik sama Gema.
"Itu Jay." Gema masih masih terus memperhatikan ke arah mana Jay pergi.
Tadi Jay memakai baju pemain basket, sepertinya dia di sini karena harus ikut pertandingan persahabatan antar sekolah.
Rian mengerutkan alisnya, "Jay? Jay ... adek lo itu?"
"Hmm, Iya."
"Pantesan anjir enggak ada sopan-sopannya, rupanya emang anak dakjal." Bukan apa-apa Rian marah seperti ini, dia tau kalau Jay yang buat Gema selama ini menderita sampai di usir dari mansion Pratama.
Ya Rian tau mereka bukan saudara kandung, tapi kelakuannya bener-bener keterlaluan cuma karena mereka bukan sedarah. Enggak habis pikir dia.
"Dakjal? Siapa yang dakjal?" Tanya Cara yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Tadi dia sempat mendengar ribut-ribut, ternyata itu Rian sama anak Dirgantara yang lagi berantem.
"Ada tadi anak setan. Dah yok nonton aja." Rian menarik tangan Gema dan Cara agar mengikutinya ke tempat para penonton.
Saat pertandingan sudah dimulai, Gema sama sekali tidak fokus, banyak hal yang sedang di pikirkannya sekarang. Belum lagi apa maksud perkataan Jay tadi? Gema benar-benar tidak mau berurusan dengan keluarga Pratama sekarang.
"Gema, ngelamun trus mikirin apa sih?" Tanya Cara sambil memberikan minuman yang dibelinya tadi.
Gema meraih minuman yang di berikan Cara, "enggak mikirin apa-apa,"
"Beneran?" Tanya Cara lagi tidak percaya. Pasalnya ekspresi Gema seperti orang yang lagi banyak pikiran.
"Iya. Aku ke toilet dulu ya."
"Mau ditemenin?" Tanya Rian yang hanya menyimak sejak tadi.
Gema meberikan minuman Tadi pada Rian,"engga usah." Setelah mengatakan itu, Gema bangkit dari duduknya dan berjalan menuju toilet.
_________________________________
________________________
"Gema!" Panggil pak Tono cukup keras.
Gema yang merasa di panggil pun mendekat ke arah pak Tono, "Iya Pak kenapa?"
"Ini tolong bapak taruh bola ini di gudang sebentar." pak Tono memberikan dua bola yang dia pegang sejak tadi dan di terima dengan baik oleh Gema.
"Kalau gitu saya permisi dulu." pamit Gema dengan sopan.
"Iya makasih banyak ya Gema." Ucap pak Tono sambil menepuk bahu Gema beberapa kali.
Gema hanya menganggukkan kepalanya sebelum pergi menuju gudang sekolah. Gudang sekolahnya berada di belakang gedung anak kelas sebelas, agak jauh dari lapangan tempat pertandingan tadi.
Saat sampai dia membuka pintu gudang dengan sedikit susah, itu karena pintunya sudah agak tua padahal sekolah elite tapi enggak di renovasi, heran.
Pintunya berhasil di buka, Gema masuk ke dalam. Gelap itu yang pertama kali Gema rasakan. Dia berusaha mencari-cari saklar lampu sedikit hati-hati agar tidak menabrak barang-barang di sana.
"Ini dia." Ucap Gema saat sudah menemukan saklarnya. Tapi tunggu, kenapa tidak mau hidup? Gema terus menekan-nekan saklarnya, namun nihil, lampunya tidak kunjung hidup juga.
"Putus kah?" Tanya Gema pada dirinya sendiri.
Sudahlah, lebih baik dia letakkan saja bolanya sembarangan, toh pasti enggak akan hilang juga kan. Dia juga sedikit merasa takut sekarang. Karena Gema tidak suka dengan suasana gelap seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Relci [End] [Terbit]
Roman d'amour#FOLLOW DULU SEBELUM BACA! #MASA REVISI Biasanya di dalam sebuah hubungan, cowo lah yang akan memegang kendalinya. Namun, Bagaimana jika yang terjadi adalah kebalikannya? sifat yang mendominasi, obsesi, dan yang memegang kendali dalam hubungan malah...
![Gema Relci [End] [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/345209377-64-k255226.jpg)