32. Perasaan

9.5K 596 5
                                        

Relci melangkahkan kakinya menuju dapur, dia masih berada di rumah Bintang dan sekarang sudah menunjukkan waktunya jam tidur. Mereka akan menginap malam ini atas perintah dari Buna Wulan.

Saat sudah sampai, Relci bisa melihat Deral yang sepertinya sedang membuat kopi. Mungkin dia akan bergadang malam ini karena tadi mengambil cuti dari kantor.

"Baby girl? Belum tidur?" Relci memutar matanya saat mendengar panggilan yang di berikan Deral untuknya. Entah kenapa seluruh keluarganya sangat suka memanggilnya seperti itu. Oh ayolah.... lihatlah dia yang sudah sebesar apa sekarang.

"Belum, bentar lagi mungkin." Jawab Relci dan mendekat ke samping Deral.

"Ingin secangkir?" Tawar Deral. Relci mengangguk, memperhatikan Deral yang membuat kopi lagi untuk dirinya.

Setelah Deral selesai membuat kopi untuk dirinya juga Relci, dia membawanya menuju meja yang ada di dapur itu. Sedangkan Relci ikut mengekor di belakang.

Mereka berdua menikmati kopi itu dalam diam. Suasananya cocok karena sekarang udaranya terasa cukup dingin.

"Ayah mau nanya sesuatu boleh?" Tanya Deran dan di angguki oleh Relci.

"Boleh, mau nanya apa?"

"Kamu yakin dengan Rencana mu yang ingin menjatuhkan perusahaan keluarga Pratama?" Relci mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Deral. Bukanya mereka sudah membahas ini tadi siang? Atau Deral berubah pikiran?

"Entah lah, Relci cuma pengen balas dendam buat Gema." Deral melihat ke arah mata Relci dengan dalam, di sana terdapat keraguan yang sangat jelas saat menjawab pertanyaannya tadi.

"Untuk Gema? Kamu sudah pernah berdiskusi tentang itu dengan Gema?"

Relci menggeleng, "Gema nggak perlu tau soalnya ini, biar Relci aja yang bakal nanggung semuanya nanti."

"Lalu, bagaiman kalau yang diinginkan Gema berbeda dengan apa yang akan kamu lakukan? Dengar sayang, tidak ada Ayah di dunia ini yang benar-benar membenci anak mereka, begitu juga sebaliknya." Relci menunduk. Benar apa yang di katakan Ayahnya, bagaimana jika Gema malah mengingatkan sebaliknya?

"Ayah yakin di hati Gema, dia pasti merindukan keluarganya. Keluarga yang sudah membesarkan dirinya, walau seburuk apapun keluarga itu memperlalukannya, rasa itu pasti tetap ada. Dan saat dia tau kalau keluarganya hancur karena ulah kamu, orang yang paling dia sayang dan dia percaya saat ini, menurutmu apa yang akan dia pikirkan?" Tanya Deral sekaligus memberi nasihat pada Relci yang sudah seperti anaknya itu.

Sebenarnya Relci pernah memikirkan ini, tapi saat dia tau apa yang akan terjadi dengan kemungkinan terburuknya, dia menepis hal itu dari kepalanya dan melupakannya.

Jika bukan balas dendam yang harus Relci lakukan, lalu dia harus melakukan apa?

"Pikirkan itu baik-baik, Dan bicaralah dengan Gema." Deral mengelus rambut Relci beberapa kali. Setelahnya dia pergi dari sana menuju ruang kerja. Banyak pekerjaan yang sedang menunggu dirinya.

Relci duduk diam di sana cukup lama, kepalanya terus memikirkan apa yang di katakan Ayahnya, "jadi aku harus melepaskan mereka begitu saja setelah apa yang mereka lakukan pada Gema?"

_________________________________
________________________

Relci membuka pintu kamar secara perlahan takut kalau kalau Gema terbangun. Namun, yang dia lihat malah kasur yang kosong, tidak ada Gema di sana. Saat akan mencari Gema kemana, pandangannya tidak sengaja tertuju ke arah pintu balkon yang terbuka.

Relci mendekat, dan benar saja Gema ada di sana. Sebelum mendekati Gema, Relci terlebih dahulu mengambil sebuah selimu. Selimut itu di pakaikan di tubuhnya, mendekat ke arah Gema, dan memeluknya dari belakang. Yang otomatis, Gema juga ikut berada di dalam selimut itu.

Relci meletakkan dagunya di bahu Gema, "udaranya dingin, kenapa di luar, hm?"

"Cuma ingin, Suasananya tenang." Relci mengeratkan pelukannya pada Gema. Lagi-lagi dia teringat dengan perkataan Deral.

"Kenapa? Kamu lagi mikirin sesuatu?" Tanya Gema saat merasakan gelagat aneh dari Relci.

Relci menggeleng, "tidak, hanya memikirkan sesuatu yang nggak terlalu penting."

Gema mengelus lengan Relci yang memeluk dirinya, dia tau Relci pasti sedang memikirkan hal aneh-aneh.

"Kalau ada sesuatu jangan sungkan buat cerita." Relci terkekeh, apa sangat terlihat kalau dia sedang banyak pikiran?

Baiklah, tidak ada salahnya juga dia berbicara dengan Gema sekarang. "Kamu pernah memikirkan tentang keluarga mu?"

Gema reflek mendongak ke atas untuk melihat Relci, "selalu, bohong kalau aku nggak pernah mikirin mereka." Gema kembali mengarahkan pandangan ke depan. Memandangi suasana malam yang tenang dan sunyi.

"Kamu ingin kembali ke sana?" Relci sedikit khawatir dengan jawaban yang akan di berikan Gema. Jika Gema ingin kembali ke sana, dia tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Tapi tetap saja...

"Aku emang mikirin mereka, tapi kalau untuk kembali ke sana itu nggak akan mungkin. Aku juga nggak akan bisa ninggalin kamu lagi kan?"

'Kalaupun aku kembali kesana, kamu pasti bakal mikir buat ngerantai kaki aku lagi." Batin Gema.

"Beneran?" Tanya Relci untuk memastikan perkataan Gema. Terselip rasa senang ketika mendengarnya.

Gema membalikkan badannya menghadap Relci. Sekarang tatapannya bertemu dengan mata Relci yang selalu memancarkan pandangan dingin. "Iya, aku nggak akan kembali ke sana. Tapi aku juga kangen sama Papa."

"Kangen? Kamu merindukan orang yang yang sudah memberimu trauma dan membuat mu harus menciptakan Xabiru?" Relci tidak habis pikir dengan Gema.

"Ada alasan di balik itu semua, dan trauma itu tidak sepenuhnya salah Papa. Papa baik kok, dia cuma susah buat ngendaliin emosinya. Karna itu juga dia jadi sering ngambil keputusan tanpa mikir dua kali."

"Tetep aja itu salah nya Gema." Bantah Relci.

Gema jadi merasa tidak enak, sepertinya Relci sangat kesal dengan jawaban darinya. Akan ada banyak hal yang harus mereka bicarakan kedepannya.

"Ada hal yang mungkin kamu nggak tau tentang Papa dan Jay. Aku tau kok kamu pasti udah cari tau semua tentang aku, contohnya para bodyguard yang sesalu ngikutin aku kalau di luar?"

Gema tersenyum saat melihat wajah Relci yang kaget. "Nggak apa-apa, kamu bisa cari tau semuanya, aku nggak keberatan. Tapi untuk sekarang, bakal lebih baik kalau kamu nanya langsung ke aku."

Relci pikir selama ini Gema tidak tau, apa rencananya tentang keluarga Pratama, Gema juga sudah tau? "Maaf, aku nggak bermaksud."

Gema merasa gemas melihat ekspresi Relci sekarang. Dia seperti anak kecil yang terciduk melakukan kesalahan.

Gema sedikit berjinjit dan memberikan sebuah ciuman di pipi Relci. "Aku udah bilang nggak apa-apa kan? Kamu bebas mau ngelakuin apa aja tentang aku."

Relci membenamkan kepalannya di bahu Gema. Ahh.... rasanya dia sangat bersyukur memiliki pasangan seperti Gema. Gemanya yang selalu mencoba mengerti dengan sikapnya yang terkadang kekanak-kanakan.

"Love you," suara Relci terdengar pelan karena terendam di bahu Gema.

Sedangkan Gema terkekeh dengan kalimat yang di ucapkan Relci. Dia sudah menunggu kalimat itu cukup lama keluar dari mulut Relci.

"Love you more."

_________________________________
________________________

Jangan lupa vote, komen, follow setelah baca

Bye........

Jumat, 13 oktober 2023
Ig : huswarelci
Ttk : huswarelci

Gema Relci [End] [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang