8|| Imam bukan di gereja

58 11 0
                                        

Yang enggak seiman emang bisa ngasih hati, tapi akan tetap berujung dengan perpisahan yang akan menyakiti hati.

-Archakra Jonathan

Minggu ini adalah hari yang berbeda karena kini Lavanya bukan lagi menjadi kekasih Sagara.

Lavanya sedang duduk di halaman gereja bersama dengan Archakra. Dari kejauhan terlihat Sagara dan Felycia keluar dari gereja.

"katanya mau nyari imam di masjid, kok sekarang malah ngelirik  yang di gereja Lavanya?!"

Perkataan Arca membuat dia teringat kejadian dulu saat mengantar Archakra ke masjid.

"Yang seiman enggak ngasih hati. Tapi yang enggak seiman malah ngasih hati." ucap Vanya asal.

"Yang enggak seiman emang bisa ngasih hati, tapi akan tetap berujung dengan perpisahan yang akan menyakiti hati." timpal Archakra .

"Bacot Lo!!" kesal Lavanya.

"Dihh!! Itu kan fakta kali. Buktinya Lo..."

Lavanya langsung membekap mulut Archakra yang terus saja nyerocos tak henti-henti.

Disisi lain Sagara menatap datar tingkah mantan kekasihnya dengan Archakra. Felycia yang menyadaripun langsung menggenggam lengan sahabatnya itu.

"Sakit ya, Ga?" tanya Fely.

"Enggak kok. Lava pasti bahagia kalo sama Arca." ucap Sagara sambil tersenyum.

"Aku tau kamu lagi rapuh. Tapi aku tau juga kamu pasti kuat."

"Udah yuk."

"Nunggu lama?" tanya Fely yang membuat Archakra dan Lavanya berhenti tertawa.

"Ehhh, enggak kok." Balas Archakra.

"Kita mau langsung ke bandara?" tanya Lavanya sambil menatap Sagara.

"Iya. Yuk!!" jawab Sagara kemudian mengeratkan genggaman tangannya dan menarik Fely menuju mobil.

"Ga.." Fely menatap Sagara dan menggelengkan kepalanya. Sagara mengerti maksud dari sahabatnya itu. Namun dia pun harus terbiasa tanpa Lavanya dan harus berusaha melupakan perasaannya untuk Lavanya.

"Sakit ya?" tanya Archakra dengan wajah meledek.

"Enggak." jawab Lavanya ketus.

"Seru nih kalo udah ngambek." Archakra malah semakin senang jika sahabatnya itu sudah semakin marah padanya. Karena jika Lavanya marah tingkat kegemasannya semakin bertambah seratus persen.

Lavanya tidak menjawab apapun dia memilih untuk menyusul ke mobil Sagara. Karena bagaimanapun mereka harus ke bandara untuk mengantar Lily dan Leo yang akan pergi lomba dance di Bali.

"Sayang. Ko diem aja?!!" Goda Archakra.

"Mulut Lo mau gue tonjok?!" Kesal Lavanya.

"Mau dong!" Archakra semakin menggoda Lavanya dan justru Lavanya semakin emosi. Dan itu sangat bagus bagi Archakra Jonathan.

"Gue bunuh Lo!!"

"Lo enggak akan berani bunuh gue." ucap Archakra dengan yakin.

"Kenapa enggak?!"

"Pertama Lo enggak mau di penjara. Kedua Lo sayang sama gue, jadi mana mungkin Lo berani kan." Ucap Archakra dengan percaya diri.

"Sumpah ya Lo dari tadi bacot banget. Lama-lama gue kesel deh sama Lo."

"Gue malah makin sayang." Ucap Archakra.

Tiba-tiba Lavanya terdiam melihat Fely di bukakan pintu untuk masuk ke tempat paling depan. Tempat yang biasa dia tempati jika bersama dengan Sagara.

Namun, kini dia tidak lagi bersama Sagara. Seharusnya tidak perlu ada rasa sakit hati jika tempatnya kosong dan di isi oleh orang lain.

"Kan udah gue bilang kita ke bandara naik mobil gue aja." ucap Archakra.

"Gue nyesel enggak nurut sama Lo." balas Lavanya.

Kemudian Lavanya masuk ke belakang bersama dengan Archakra.

"Lava kamu di depan aja, biar aku disitu." ucap Fely.

"Ehhh enggak usah gapapa. Aku disini aja." Balas Lavanya.

"Tapi..."

"Enggak papa Fel." Sagara memegang tangan Felycia.

Lagi-lagi hati Lavanya hancur. Bagaimana tidak? Mantan kekasihnya memperlakukan perempuan lain dengan sangat lembut di hadapannya. Tapi anehnya, ketika dia masih pacaran dengan Sagara tingkat cemburu pada Felycia bisa dibilang hanya sedikit. Entah kenapa setelah putus semua terasa lebih menyakitkan. Mungkin karena hatinya sedang sensitif.

Selama perjalanan mereka berempat hanya diam. Semua terasa semakin awkard, Archakra mulai kembali dengan celotehannya.

"Ini kita masih lama ya?" tanya Archakra.

"Bentar lagi, Arca. Kenapa?" sahut Felycia.

"Suasana di dalem mobil makin dingin, gue takut hipo nih." ucap Sagara asal.

Lavanya menoleh pada cowok yang duduk disampingnya. "Lo tuh dari dulu enggak bisa diem mulutnya."

"Gue anaknya pendiem, tapi kalo sama Lo, gue enggak bisa jadi pendiem."

"Bacot Lo."

"Namanya juga sama sahabat wajar kan?!"

Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, yaitu bandara. Yaa, mereka datang ke bandara untuk mengantar Lily dan Leo pergi ke Bali. Mereka berdua akan ikut lomba dance disana.

Ternyata Anggota infinity lainnya sudah berada lebih dulu disana. Terlihat Lily melambaikan tangannya pada Lavanya.

Lavanya memeluk Lily erat. "Hati-hati ya."

"Pasti. Terus berkabar ya kalo ada apa-apa." Ucap Lily.

"Iya, cepet pulang ya ly." Ucap Lavanya.

Lily tersenyum. "Belum juga berangkat udah disuruh pulang aja."

"Yaa gakpapa dong."

"Gue minta maaf ya, disaat Lo lagi butuh sahabat gue malah pergi." Ungkap Lily

"Apaansih, santai aja kali lagian lomba Lo lebih penting." Ucap Lavanya.

Lily menatap dalam sahabatnya. "Gue tau Lo galau."

"Enggaklah. Mana ada gue galau." Lavanya tertawa renyah.

"Lo enggak cocok sok kuat." ucap Lily. "Cocoknya sama Archa." Bisiknya yang membuat Lavanya menatap Archakra yang kini sedang menatapnya.

Archakra mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jahil yang membuat Lavanya membalasnya dengan menatap sinis.




Limit (Infinity 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang