11|| Hadir

9 2 0
                                        


Bolehkah aku hadir dihatimu untuk kali ini?

-Limit



Ruang BEM sore itu dipenuhi suara diskusi yang hangat. Di tengah meja bundar, Lavanya duduk dengan tenang, mencatat poin-poin penting dari rapat. Tiara, Karisa, dan Bima turut hadir, masing-masing menyumbang ide untuk masa orientasi mahasiswa baru yang akan digelar dua minggu lagi. Poster, rundown acara, pembagian tugas semuanya dibahas dengan serius.

Sejak awal rapat, mata Rey lebih sering tertuju pada gadis di hadapannya daripada pada outline MOMB yang tergeletak di depannya.

Lavanya, dengan tatapan seriusnya, sedang menjelaskan proposal kerjasama dengan beberapa sponsor potensial. Gerakan tangannya yang halus, cara dia merangkai kata-kata dengan yakin, semuanya terasa seperti melodi yang indah di telinga Rey. Di matanya, Lavanya bukan hanya sekadar rekan seperjuangan, tapi juga sumber inspirasi.

"Jadi, intinya, kita butuh satu sesi sharing yang benar-benar personal, bukan sekadar ceramah. Biar MABA merasa koneksi emosional dengan senior dan kampus," kata Lavanya, menutup penjelasannya dengan senyum tipis yang berhasil membuat jantung Rey berdetak sedikit lebih cepat.

Rey berusaha keras menyembunyikan getaran dalam suaranya. Ia berdeham, lalu mengambil alih kendali. "Setuju sama Lavanya. Bagus banget idenya. Bima, bagaimana dengan rencana outdoor kita? Apakah lokasi sudah fixed dan aman?"

"Aman tum." Ucap Bima.

Rapat berlangsung alot, memakan waktu hingga tiga jam. Semua poin krusial, dari anggaran, rundown acara, hingga pembagian tugas, berhasil disepakati. Keputusan akhir MOMB disahkan.

"Baik, berarti semua clear, ya. Minggu depan kita briefing besar dengan seluruh panitia," tutup Rey, mengetuk pulpennya di meja, menandakan rapat telah usai.

Rey menarik napas lega. Akhirnya kelar juga rapat maraton ini. Tiga jam gak kerasa, tapi otak udah kayak diperas. Begitu ketukan pulpen Rey jadi penutup, suasana tegang langsung mencair. Semua panitia langsung pada senderan di kursi masing-masing.

"Gila, kepala gue berasap," keluh Tiara sambil memijit pelipis. "Tapi worth it sih. Overall MOMB kita bakal pecah banget!"

"Pecah lah! Kan yang bikin konsepnya anak-anak all out," sahut Bima sambil menyambar botol minumnya. "Lav, proposal sponsorship lo keren parah. Benar-benar solutif. Next time gue butuh tips negosiasi nih."

Lavanya cuma senyum tipis. "Santai aja, Bim. Intinya kita harus tahu apa yang mereka butuhin dari kita."

"Lavanya emang jago, Bim. Proposal dia detail dan bikin client langsung trust," puji Rey, tatapannya langsung ke mata Lavanya.

"Udah, udah. Next kita tinggal eksekusi aja. Jangan lupa follow up semua keputusan hari ini. Lavanya, report keuangan langsung copy ke gue ya," pinta Rey, mencari alasan untuk tetap kontak langsung sama Lavanya.

"Siap, Rey. Nanti gue kirim soft file-nya," jawab Lavanya kalem, lalu mulai membereskan laptop dan buku catatannya.

Bima dan Tiara udah duluan cabut, sambil ngobrolin rencana makan malam. Tinggal Rey, Lavanya, dan Karisa yang masih di ruangan. Tiba-tiba, ponsel Karisa bunyi.

"Nah, perfect timing! Itu pasti David," seru Karisa, matanya berbinar melihat nama pacarnya di layar. "Gue cabut duluan ya guys. David udah di parkiran nih. See you next week!"

Karisa buru-buru menyambar tasnya, meninggalkan Rey dan Lavanya dalam keheningan yang awkward.

"Lav," panggil Rey pelan, sambil pura-pura sibuk mengaitkan kunci mobilnya ke jari.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 28, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Limit (Infinity 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang