Ternyata Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Teman Sendiri
-Limit
Alunan musik yang lembut memenuhi mobil, tapi tak ada satu pun yang berbicara. Sagara fokus mengemudi sambil sesekali melirik Lavanya yang terlihat melamun. Felycia asyik dengan ponselnya, sementara Archakra justru sibuk memandangi Lavanya.
"Tuhan emang nggak pernah gagal ciptain lo," gumam Archakra tanpa sadar.
"Lo ngomong apa?" tanya Lavanya, menoleh pada Archakra, cowok yang selalu sukses membuatnya kesal.
"Nggak," Archakra menggeleng cepat, salah tingkah.
Felycia menoleh ke belakang, memecah keheningan. "Kalian laper nggak?"
"Laper banget!" seru Archakra.
"Makan dulu, yuk," ajak Felycia.
"Nggak," jawab Lavanya dan Sagara bersamaan.
Archakra berbisik pada Lavanya, "Tapi lo laper juga, kan?"
"Mau makan di mana?" tanya Sagara.
"Makan ramen enak kali, ya," usul Felycia.
"Ide bagus! Ayo, makan ramen aja," timpal Archakra antusias.
Lavanya hanya diam, kembali menatap jalanan kota. Sagara menyadari ada yang berbeda dari sikap Lavanya. Ia paham, Lavanya pasti sedang banyak pikiran, apalagi setelah putus darinya.
Mobil Sagara berhenti di sebuah kedai ramen. Mereka memutuskan untuk makan ramen. Sagara dan Felycia berjalan lebih dulu, diikuti Lavanya dan Archakra.
"Pasti sedih, ya, putus sama Sagara?" tanya Archakra sambil menoleh pada Lavanya.
"Menurut lo?" balas Lavanya.
Archakra tersenyum sambil menggeleng. "Nggak, karena udah ada gue di samping lo."
"Dih, najis. Pede banget lo," ucap Lavanya jengkel.
"Percaya diri itu harus, cantik," kata Archakra, lalu mencolek dagu Lavanya, membuat gadis itu semakin kesal.
Dari kejauhan, Sagara melihat mantan kekasihnya sedang dibuat jengkel oleh Archakra. Hatinya terasa sakit, tapi ia juga merasa Lavanya akan jauh lebih bahagia bersama Archakra.
Mereka akhirnya duduk. Archakra di samping Lavanya, Felycia di samping Sagara, dan Sagara duduk berhadapan langsung dengan Lavanya.
Setelah makanan datang, mereka langsung fokus menyantapnya.
"Nanti kita ke rumah aku dulu atau anterin Lavanya dulu?" tanya Felycia.
"Anterin Lavanya dulu," jawab Sagara.
Lavanya menatap Sagara. "Nggak usah, aku naik taksi aja."
"Aku anterin," kata Sagara tegas.
"Nggak usah, Ga. Biar Lavanya naik taksi sama gue aja," sela Archakra.
Sagara hanya bisa mengangguk, meskipun ia tidak ingin itu terjadi. Setelah selesai makan, Sagara dan Felycia berpamitan pulang.
"Aku duluan, ya, Lava," pamit Felycia.
"Hati-hati," ucap Lavanya.
"Jangan lupa anterin," pesan Sagara pada Archakra.
Archakra mengangguk mantap. "Tenang aja, dia aman sama gue."
Lavanya memandangi mobil Sagara yang menjauh dengan tatapan sedih. Ia sangat menyayangi Sagara, tapi ia tahu hubungan mereka tidak bisa dipaksakan.
Andai kamu tahu, Ga, sesakit ini rasanya nggak sama kamu, batin Lavanya.
"Ayo pulang," ajak Archakra.
Lavanya bangkit dan berjalan, diikuti Archakra. Archakra merangkul pundak Lavanya.
"Kenapa sih kayak nggak semangat gitu?" tanyanya.
"Apaan, sih? Nggak usah rangkul-rangkul," ketus Lavanya.
"Bukannya lo seneng kalo gue rangkul?" goda Archakra.
Lavanya memutar bola matanya kesal. "Archakra!"
"Iya, iya, maaf. Gue cuma pengen ngehibur lo. Jangan galau terus, dong," kata Archakra.
"Kapan sih lo bisa diam dan nggak ganggu gue?"
"Gue hidup memang ditakdirkan buat ganggu lo, Lavanya Carolyn," jawab Archakra santai.
Lavanya hanya menghela napas pasrah. Ia bingung harus menanggapi Archakra yang selalu bertindak sesukanya.
Di sisi lain, di dalam mobil, Felycia sesekali melirik Sagara yang tampak fokus mengemudi, tapi pikirannya entah melayang ke mana.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Felycia hati-hati, membuat Sagara menoleh.
"Apa?"
"Kamu keberatan dengan perjodohan kita?"
"Gue lagi nggak mau bahas itu," jawab Sagara.
"Aku udah ngomong ke mama buat batalin perjodohan ini," Felycia melanjutkan dengan suara pelan. "Karena aku tahu, kamu maunya sama Lavanya, bukan aku."
Sagara hanya menoleh, terdiam.
"Ga, kamu pasti tahu perasaan aku ke kamu gimana, kan? Jujur, Ga, aku mudah banget jatuh cinta sama kamu dengan semua perlakuan kamu ke aku. Tapi, aku juga tahu, hati kamu itu milik Lavanya, dan aku cuma mau lihat kamu bahagia."
Sagara menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia mematikan mesin dan menatap Felycia lekat-lekat.
"Fel... Kamu nggak harus sejauh ini," ucap Sagara, suaranya terdengar berat. "Aku tahu, ini berat buat kita berdua. Tapi kamu nggak bisa seenaknya mutusin ini sendiri."
"Kenapa nggak?" Felycia balas menatapnya. "Aku yang lihat kamu dari hari ke hari, dari matamu yang sedih setiap kali Lavanya disebut, atau senyum palsu yang kamu tunjukin di depan dia. Aku tahu kamu sakit, dan aku nggak bisa terus-terusan jadi alasan di balik rasa sakitmu itu."
Sagara menghela napas panjang. "Aku nggak pernah minta kamu jadi alasan. Aku cuma butuh waktu."
"Ga, kita udah dewasa. Kita tahu cinta itu nggak bisa dipaksakan. Aku tahu kamu masih sayang Lavanya, dan kamu juga tahu aku..."
Felycia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Sagara paham. Mereka berdua terjebak dalam situasi yang sama-sama menyakitkan.
Sagara tidak bisa memutuskan begitu saja perjodohan ini, karena memang perjodohan itu sudah ada sejak mereka lahir. Wasiat dari papahnya Felycia membuat Sagara berat menolak setelah tau semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Limit (Infinity 2)
عاطفية"Ada batas diantara kita yang tidak bisa aku robohkan sampai kapanpun." -Lavanya Carolyn. "Kalo cari imam di masjid. Jangan ngelirik yang di gereja," sindir Archakra pada gadis yang tengah duduk menunggu kekasihnya selesai beribadah. Lavanya terdia...
