10 || Nol

6 2 0
                                        

Haruskah aku mengambilmu dari keluarga dan juga tuhanmu?

-Lavanya Carolyn

Malam turun perlahan, menyelimuti kota dengan keheningan yang tak biasa. Di ruang makan rumah Felycia, ketegangan menggantung di udara. Mama duduk di seberang meja, wajahnya tegang, sementara Felycia menatap piringnya yang masih penuh.

“Aku udah ngomong baik-baik, Ma. Aku nggak mau lanjut perjodohan ini,” ucap Felycia, suaranya pelan tapi tegas.

Marsya meletakkan sendoknya, menatap putrinya dengan mata yang mulai berkaca. “Fel, ini bukan cuma soal kamu. Ini wasiat dari Papa kamu. Kamu tahu itu.”

Felycia menghela napas, menahan emosi yang sudah lama mengendap. “Aku tahu, Ma. Tapi Papa nggak pernah tahu isi hati Sagara. Dia nggak cinta aku.”

“Papa kamu percaya Sagara bisa jaga kamu. Dia anak baik, punya masa depan, dan keluarganya juga cocok. Kamu pikir Papa bikin wasiat itu tanpa pertimbangan?”

Felycia berdiri, matanya mulai memerah. “Justru karena aku tahu Papa sayang aku, aku nggak mau hidup dalam kebohongan. Aku nggak mau jadi istri dari seseorang yang hatinya bukan buat aku.”

Marsya terdiam, lalu berkata pelan, “Kamu tega mengabaikan harapan terakhir Papa?”

“Aku nggak mengabaikan, Ma. Aku cuma memilih untuk hidup dengan jujur. Aku sayang Papa, tapi aku juga harus sayang sama diriku sendiri.”

Air mata marsya jatuh, tapi ia tahu, putrinya sudah memilih jalannya sendiri.

---

Di sisi lain, di rumah Sagara, suasana tak kalah tegang. Ia duduk di ruang keluarga, berhadapan dengan ayah dan ibunya. Ayahnya berdiri di dekat jendela, sementara ibunya duduk di sofa, mencoba menenangkan suasana.

“Jadi kamu benar-benar nolak perjodohan ini?” tanya sang ayah, nadanya dingin.

Sagara mengangguk pelan. “Aku nggak bisa, Yah. Aku nggak cinta Felycia.”

“Ini bukan cuma soal cinta, Sagara. Ini soal kehormatan keluarga. Wasiat ayahnya Felycia itu bukan main-main. Kamu tahu hubungan kita dengan mereka sudah lama terjalin.”

Sagara menatap ayahnya, mencoba tetap tenang. “Aku tahu. Tapi kalau aku terusin, aku akan nyakitin dia. Dan nyakitin diri aku sendiri.”

Ibunya menyela, lembut. “Sagara, Felycia anak baik. Dia sayang kamu. Kamu yakin nggak bisa buka hati?”

Sagara menggeleng. “Aku udah coba, Ma. Tapi hati aku masih buat Lavanya. Aku nggak bisa bohong.”

Dimas berjalan mendekat, menatap Sagara tajam. “Kamu pikir hidup selalu soal cinta? Kadang kita harus berkorban demi keluarga.”

Sagara berdiri, menatap ayahnya dengan mata yang tak gentar. “Kalau aku harus kehilangan cinta demi kehormatan, aku rela. Tapi aku nggak rela kalau harus menghancurkan hidup orang lain demi tradisi.”

Riani menatap putranya lama, lalu mengangguk pelan. “Kalau kamu yakin ini keputusan terbaik, kami akan coba bicara dengan keluarga Felycia.”

Dimas menoleh, wajahnya keras tapi matanya melembut. “Tapi kamu harus siap dengan konsekuensinya, Ga. Termasuk kehilangan kepercayaan mereka.”

Sagara menatap ayahnya dengan mantap. “Aku lebih takut kehilangan diriku sendiri, Yah.”

---

Keesokan paginya, di taman yang biasa mereka datangi, Lavanya sudah duduk di bangku kayu, mengenakan sweater abu-abu dan celana jeans. Angin pagi berembus pelan, membawa aroma rumput basah dan bunga yang baru mekar.

Sagara datang, langkahnya pelan. Ia duduk di samping Lavanya, menjaga jarak tapi cukup dekat untuk bicara.

“Terima kasih udah mau ketemu,” ucap Sagara pelan.

Lavanya menoleh, matanya tenang tapi penuh tanya. “Ada apa?”

Sagara menatap ke depan, ke danau kecil yang memantulkan cahaya pagi. “Aku udah mutusin buat batalin perjodohan sama Felycia.”

Lavanya terdiam. “Kenapa?”

“Karena aku nggak bisa bohong. Aku nggak cinta dia. Dan dia tahu itu.”

Lavanya menunduk. “Tapi itu wasiat ayahnya, kan?”

“Iya. Dan itu yang bikin semuanya makin berat. Tapi Fely bilang, dia lebih milih lihat aku bahagia daripada terus jadi alasan aku pura-pura.”

Lavanya menatap Sagara, matanya berkaca. “Fely cewek hebat.”

Sagara mengangguk. “Dia kuat. Lebih kuat dari yang aku kira.”

Lavanya menggigit bibirnya, lalu berkata pelan, “Terus, sekarang kamu mau apa?”

Sagara menoleh, menatap Lavanya lekat-lekat. “aku mau jujur sama kamu Sama diri aku sendiri. Aku masih sayang kamu, Lavanya.”

Lavanya menatapnya lama, lalu menggeleng pelan. “Ga, kita udah coba. Dan kita gagal.”

“Karena waktu itu kita belum siap. Tapi sekarang, aku mau berjuang. Bukan buat nyenengin orang lain, tapi buat kita.”

Lavanya menghela napas panjang. “Aku takut, Ga. Takut kalau kita coba lagi, kita akan saling menyakiti lagi.”

Sagara menggenggam tangan Lavanya perlahan. “Kalau kita saling jujur, kita nggak akan saling menyakiti. Kita akan saling menyembuhkan.”

Lavanya menatap Sagara dalam. "Kita berbeda, Ga. Kamu tahu itu kan. " Ucapnya.

"Aku bisa ikut kamu." Ucap Sagara mantap.

"Kayaknya soal itu kamu harus pikirin lagi, Ga. Aku nggak mau ambil kamu dari keluargamu termasuk tuhanmu. " Ucap Lavanya.

Limit (Infinity 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang