Namun Mbah Nursam tak segera melanjutkan ucapannya itu karena teriakan Narti memanggil membuat mereka terkejut serempak.
"Mbah, Bapakku Mbah, Ayoo cepet!"
"Opo Meneh?-- Apalagi?"
Mbah Nursam segera bangkit dengan raut wajah yang sudah masam, Lukman dan Yadi mengekor Mbah Nursam.
**
Ternyata beberapa warga sudah kerumun di depan rumah Mbah Sanawi.
"Opo koe Nang kene, muliho!-- Apa kalian disini, pulang saja!"
Mbah Nursam tampak marah melihat warga berkerumun lagi seperti tempo hari lalu, Mbah Nursam segera menyingkirkan warga yang menghalangi jalannya menuju pintu rumah Mbah Sanawi.
Masuk dalam bilik Mbah Sanawi, terlihat memejamkan matanya dengan tangan terlipat di dadanya.
Mbah Nursam tak bisa menahan raut wajahnya lagi, matanya memerah napasnya tersengal-sengal, dibarengi Lukman dan Yadi dari belakangnya.
"Bapak kenapa mbak!"
Narti hanya menggeleng dengan tangis pecah tepat disamping Mbah Sanawi.
"Minggir dulu Nar."
Mbah Nursam segera mengusap wajah Mbah Sanawi dengan telapak tangannya itu, berdoa merapalkan sebuah mantra.
"Piye Mbah?-- Bagaimana Mbah?"
Mbah Nursam menggelengkan kepalanya, napasnya sangat tak beraturan, sesekali ia menelisik ke nadi tangan Mbah Sanawi, Mbah Nursam terus menggelengkan kepalanya.
Mbah Nursam membuka selimut yang menutup sebagian tubuh Mbah Sanawi, mengecek suhu kaki Mbah Sanawi, Dingin sekali.
Mbah Nursam menelan ludah dengan kasar, sembari menengok anak bungsu dari Mbah Sanawi itu, Lukman.
Lukman tak berucap apapun, derasnya air mata yang keluar membuat Mbah Nursam langsung memeluk Lukman dengan amat erat.
"Bapakmu, bapakmu sampun Sedo...-- Bapakmu, bapakmu sudah meninggal."
Tangis pecah, Narti dan Yadi saling memeluk satu sama lainnya, terlebih Lukman yang memberontak keluar dari pelukan Mbah Nursam lalu menghampiri Mbah Sanawi yang sudah terbujur kaku itu.
"Wis Man, Rene! ---Sudah Man, Sini!"
Yadi menarik pada Lukman agar tak menangis tepat di jasad bapaknya itu, warga saling berdatangan, saling dorong mendorong karena ingin melihat kondisi Mbah Sanawi.
"Ojo mlebu Rene! --Jangan masuk kesini!"
Mbah Nursam tampak mengusir beberapa warga yang memaksa untuk masuk kedalam bilik itu.
Mbah Nursam segera menyingkirkan ketiga anak Mbah Sanawi itu agar tidak berada tepat disamping Mbah Sanawi. Kini Mbah Sanawi dirapikan ditutup dengan kain jarik dari ujung kepala sampai menutupi ujung kakinya.
"Yad, siapkan meja panjang, nanti bawa keluar bapakmu disana."
Yadi segera keluar dengan sedikit berlari, mengambil meja panjang berukuran panjang 2 meter, tepat ia sandingkan dalam bilik paling depan.
"Yad, piye bapakmu, sampun Sedo? ---Yad, gimana bapakmu, sudah meninggal." tanya seorang pria paruh baya yang menjadi warga setempat itu.
Yadi mengangguk pelan, "Nggih pak ---Iya pak."
"Innalilahi wa Innailaihi rojingun." warga berucap serempak.
**
Dari seluruh prosesi pemakaman Mbah Sanawi semuanya berjalan dengan khidmat dan tenang. Mbah Nursam yang memimpin dari awal sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MYSTERY ( Revisi )
HorrorSisi kelam di sebuah kampung, konon banyak hal ganjil di dalamnya. Karena kematian secara mendadak dan beruntun, mengharuskan para warga setempat mencari tahu akar penyebab dari kematian tersebut. Apa penyebab dari rentetan hal ganjil itu sebagai ak...
