15

1.4K 64 2
                                        


     Suasana pasar riuh akan berita kematian mbok Lastri, terlebih Ningrum yang masih merasa ketakutan karena Mbah Sabeni tiba-tiba datang memberi tahu sebuah malapetaka.

     Kini ia meletakan bakul dalam kiosnya itu, menengok ke arah kanan tempat kios mbok Lastri bekerja tampak sepi tak ada yang membuka kios itu.

     Ningrum melamun, meratapi apa yang akan terjadi jika dia tak bisa memberi sesajen untuk terakhir kalinya.

"Hari ini aku harus kerumah Mbah Sabeni,"

     Napasnya terengah-engah, Ningrum merasa tak bersemangat hari di tambah ketakutan yang terus melanda dalam lubuk hatinya, cemas.

**

Dirumah.

"Buk mau kemana?"

     Anak semata wayang dari Ningrum tampak kebingungan melihat ibunya tampak beberes lemari.

"Kamu tinggal sama bude dulu ya sehari, ibu ada urusan yang penting."

**

     Pikiran kalut Ningrum kini menjadi gumpalan dalam otaknya, kini ia menyiapkan semuanya sesajen yang memang ia terlupa waktu tempo lalu.

     Debar jantungnya kini tak bisa membohonginya, sangat sangat takut dan ia pun tak ingin para jin itu menemukan korban lain hanya karena ulahnya yang sudah ceroboh.

     Andai waktu itu Mbah Sabeni tak mengunjunginya, mungkin Ningrum tak merasa ketakutan yang teramat.

     Berjalan jauh dari desa Kojo sampailah ia dirumah Mbah Sabeni, rumah sederhana seperti warga desa Kojo.

     Ketukan pintu pertama tak ada jawaban, hingga akhirnya ketukan ketiga terbukalah pintu itu dengan Mbah Sabeni dengan identik blangkon yang terikat rapi pada kepalanya itu.

     Ningrum memberi salam dan meminta maaf karena tidak sopan waktu hari yang lalu, ia di persilahkan untuk masuk dan duduk sejenak.

     Ningrum mengutarakan maksud apa yang ia akan lakukan, Mbah Sabeni tampak mengerti hingga ia membawa tampir yang memang sudah ada beberapa sesajen yang Ningrum inginkan.

"Mbah? sudah mempersiapkan ini semua?"

     Mbah Sabeni hanya mengangguk sejenak, lalu ia pindahkan dalam satu dipan yang memang sudah berada dalam ruangan itu.

     Duduk bersila dengan dupa yang menyala dengan asap yang terbang keatas langit-langit rumah. Mulutnya tampak berkomat-kamit merapalkan suatu doa.

     Ningrum kini menarik napas lega, beruntung Mbah Sabeni bukan termasuk pendendam, jika tidak Mbah Sabeni tak mau menolongnya lagi.

"Ning, sini."

     Ningrum berjalan pelan, mendekat pada Mbah Sabeni itu.

"Gimana Mbah?"

     Mbah Sabeni menceritakan perihal masalah yang sudah bertahun-tahun lamanya, tentang hubungan gelap Ningrum yang menjadi buah bibir warga desa Kojo. Mbah Sabeni mengatakan bahwa ini juga perihal mengapa desa tersebut mendapat wabah seperti itu, ini sebuah karma.

"Lalu bagaimana Mbah? aku sudah bertobat, "

     Mbah Sabeni mengisyaratkan agar tetap sabar dan tenang, ia akan terus membantunya sebisa mungkin.

     Waktu sudah berlanjut hingga satu jam penuh, hingga Mbah Sabeni menemukan titik terang. Mbah Sabeni menarik tangan Ningrum lalu disuruh lah ia duduk.

"Ada satu korban lagi yang akan menjadi tumbal, setelahnya tidak ada lagi."

     Ningrum menelan ludah kasar napasnya kembang kempis, kembali diliputi kebingungan. Pikirannya kalut, ia ingin sekali pulang lalu menjemput putra semata wayangnya itu.

"Mbah, jadi ini sudah menemukan titik terang, aku ingin pulang sekarang."

"Tapi belum selesai." Mbah Sabeni berucap.

     Ningrum mengerutkan dahinya perlahan. Belum paham apa yang Mbah Sabeni katakan, bukankah sesajen itu untuk penangkal?

"Kau harus membuat sesajen lagi."

     Ningrum kembali memohon agar Mbah Sabeni kembali membantunya. Perhomonan itu kembali di iyakan oleh Mbah Sabeni.

**

     Berjalan penuh menyusuri jalan setapak kecil yang di penuhi rumput yang menjulang tinggi.

"Maafkan aku Tuhan, aku telah khilaf."

     Langit hampir gelap, ia segera berlari menuju rumah bude tempat ia menitipkan anaknya.

"Bude! bude!"

     Wanita paruh baya itu keluar, bersama anak lelakinya yang berdiri di belakang.

"Ayo kita pulang."

     Segeralah Ningrum menarik tangan anaknya itu.

"Ning, habis dari mana?"

      Namun Ningrum tampak acuh, ia lantas meninggalkan bude tanpa berpamitan sama sekali.

**

"Bu pelan-pelan! disini licin, sendalku hampir mau putus."

     Ningrum mengisyaratkan agar tetap diam, karena langit sudah menuju gelap. Hingga ia sampai di ambang pintu rumah, merogoh saku mencari satu kunci untuk membuka pintu rumah.

     Krieett..

"Ayo cepat masuk! jangan keluar dari rumah!"

      Tampaknya Ningrum tampak berhati-hati setelah pulang dari rumah Mbah Sabeni, ia tampak was-was siapa yang akan meninggal lagi karena ulah nya itu.

     Napasnya kembang kempis, ia merasa ada sesuatu yang memang sedang mengawasi di dalam rumah.

"Cepat masuk ke kamar."

     Alangkah terkejutnya setelah membuka pintu kamar itu!

"Siapa yang sedang tidur di kasur Bu?"

THE MYSTERY ( Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang