"Ya, bapak kenal dengan Mbah Nursam?"
Pria tua itu tampak menengok ke arah Ningrum, begitu pula Lukman yang sedari tadi menunggu jawaban dari pria tua ini. Namun, kini Lukman melempari pertanyaan yang sama sebelumnya kepada Ningrum.
Namun, kembali Ningrum tampak mengacuhkan pertanyaan itu, hingga pria tua itu akhirnya bangkit lalu meninggalkan ku tanpa menjawab sepatah kata apapun.
Lukman yang sudah penasaran tingkat tinggi, akhirnya berlari mengejar pria tua itu, namun sayang, dia tak bisa berjumpa.
"Kemana pria itu?"
Lukman berdiri di tengah-tengah kerumunan orang pasar, berjalan memutar dengan bola mata yang fokus namun tak menemukan pria tua itu yang hilang mendadak.
Lukman hendak kembali ke ruko milik Ningrum namun, hari sudah menjelang siang, rasanya sudah sangat letih.
**
Sore itu, Mbah Nursam kembali kerumah lukman, ia kan menyelesaikan tahlil di hari ketiga pada malam itu juga.
Terlihat rapi, berbalut baju panjang putih dengan kain sorban yang terlilit pada lehernya, mengulurkan tangannya lalu di ciumlah punggung tangan itu oleh Lukman.
Tak ada percakapan yang banyak kala itu, hingga akhirnya waktu Maghrib itu tiba.
Pintu rumah Lukman tampak bergetar dengan ketukan yang berkali-kali. Lukman dan Mbah Nursam yang tengah duduk santai menatap satu sama lain, curiga.
"Sopo kui Mbah?"
Mbah Nursam menggeleng pelan, ia tampak tak tau siapa yang tengah bertamu sehabis Maghrib seperti ini. Mbah Nursam kini bangkit lalu berjalan pelan ke arah ketukan itu.
Lukman tampak di belakang mengendap-endap, memegang pucuk baju milik Mbah Nursam.
Krieet..
Pintu terbuka pelan, pandangan Lukman dan Mbah Nursam tidak jelas, namun dua sosok itu tengah berdiri di hadapan mereka.
"Sabeni?"
Lukman paham betul dengan pria itu, pria itu adalah pria yang tadi di pasar yang hendak ia cari namun mendadak menghilang, ternyata bernama Sabeni.
Kedua bola mata Mbah Nursam membulat, Lukman masih bingung dengan Mbah Nursam itu, tampaknya mereka berdua telah berkawan dari lama.
Mbah Nursam dengan raut wajah masam itu, memberi masuk Mbah Sabeni serta Ningrum yang mengekor dari belakang.
"Ono opo?"
Mbah Nursam mengawali percakapan tanpa basa basi, tampaknya ia tak ingin banyak bicara dengan pria tua itu, Mbah Sabeni.
Mbah Sabeni dengan wajah datarnya mengucapkan permohonan maaf atas kesalahan Ningrum membuat gaduh warga desa Kojo yang berakhir merenggut nyawa warga tersebut.
Namun, Mbah Nursam tampak memalingkan wajahnya hingga menghadap pada Lukman, gelagat Lukman yang bingung tak bisa ia tutupi lagi.
"Kalau kedatangan kami hanya menganggu, kami berniat pulang sekarang."
Mbah Sabeni dan Ningrum tampak bangkit dari duduk mereka, padahal Lukman belum menyuguhi apapun untuk kedua orang itu.
"Eh pak, duduk dulu, biar saya buatkan minuman."
Lukman menarik tangan Mbah Sabeni pelan, mengisyaratkan agar tak bangkit dari duduknya sebelum ia menyuguhi sesuatu yang layak untuk seorang tamu.
"Tidak perlu, terimakasih."
Tolakan itu mengakhirinya, kini Mbah Sabeni dan Ningrum dengan raut wajah yang sedikit memerah, Lukman menarik tangan Mbah Nursam agar bangkit dari duduknya.
"Mbah, sopo kae?-- Mbah, siapa dia?"
Mbah Nursam tampak tertunduk, seperti biasa ia ingin selalu merahasiakan apapun yang menurutnya tak penting untuk orang lain.
Mbah Nursam menghela napasnya, kini ia akan menceritakan sosok Sabeni yang telah bertamu tadi.
Dia adalah teman kecilnya sewaktu dulu, ayah dari Mbah Sabeni adalah dukun handal dalam hal apapun, hingga ilmu itu turun kepadanya, lalu Mbah Nursam pun memiliki ilmu yang setara dengan Mbah Sabeni, hanya saja ia tak memiliki ilmu kejawen seperti Mbah Sabeni.
Kala itu, ada pertikaian karena seseorang yang membuat ayah Mbah Sabeni murka kepada keluarga Mbah Nursam, padahal itu hanya fitnah belaka, sejak saat itu, permusuhan terjadi hingga sekarang.
Kini Lukman mengangguk pelan, tak ingin terlalu banyak bertanya pada intinya Mbah Nursam dan Mbah Sabeni, dua orang yang masih dalam satu masalah dari dulu hingga di bawa sampai sekarang.
"Sebenarnya mereka datang kemari ada hajat apa Mbah?"
Mbah Nursam menjelaskan, mereka hanya ingin meminta maaf dan pastinya itu hanya omong kosong dari Mbah Sabeni, secara raut wajah saja sudah bisa dibaca, itu hanya kebohongan agar para warga desa Kojo bisa memaklumi.
"Tapi ini sudah merenggut nyawa warga, rasanya tidak adil hanya dengan kata maaf." imbuh Mbah Nursam.
"Tapi kita jangan menjadi pendendam Mbah." perkataan Lukman itu membuat tatapan Mbah Nursam datar, bola matanya membulat napasnya memburu.
Kini ia memeluk anak bungsu dari Mbah Sanawi itu, "Sapurane Le, Mbah tidak bisa memberi contoh yang baik, benar apa yang kamu bilang, jangan menjadi pendendam."
Namun, Mbah Nursam mengatakan bahwa dendam itu masih nyata sampai sekarang.
**
Tahlil di malam ketiga, yaitu tahlil penutup, akan di lakukan di masjid desa Kojo yang tak jauh dari rumah Lukman.
Mbah Nursam sudah rapi duduk bersama Lukman dibarisan paling depan, namun dari ujung pintu, terlihat Mbah Sabeni datang dengan Ningrum, sontak membuat Mbah Nursam sedikit terkejut.
"Mbah mereka?" Lukman setengah berbisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MYSTERY ( Revisi )
HorrorSisi kelam di sebuah kampung, konon banyak hal ganjil di dalamnya. Karena kematian secara mendadak dan beruntun, mengharuskan para warga setempat mencari tahu akar penyebab dari kematian tersebut. Apa penyebab dari rentetan hal ganjil itu sebagai ak...
