Lukman tampak memijat pelipisnya, serta Mbah Nursam pun terlihat sangat bingung mengenai hal ini.
"Ada tumbal satu lagi Man,"
Lukman membulatkan matanya serta mengerutkan dahinya perlahan.
"Siapa Mbah?"
Namun Mbah Nursam menggeleng tidak tau, pada intinya ini ada suatu kesalahan di dunia penglaris hingga mereka memilih untuk mencari tumbal.
Lukman dan Mbah Nursam memutuskan untuk memberi tahu seluruh warga desa Kojo agar mengikuti tahlil yang akan mereka adakan nanti malam.
"Berapa hari Mbah?"
Mbah Nursam mengisyaratkan dengan tiga jari, Lukman paham bahwa tahlil ini akan dilakukan tiga hari berturut-turut tanpa berhenti.
"Kita akan memulai di sungai desa Kojo ini."
"Kenapa disungai itu Mbah?"
"Karena mereka datang dari sana, kita akan melakukan pembersihan disana."
Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke masjid, mengumumkan perihal acara tahlil untuk menyelamatkan desa Kojo itu.
Seluruh warga desa Kojo di kumpulkan, terlebih para sesepuh yang masih hidup disini.
Beruntung mereka sangat antusias dengan di adakannya acara seperti ini, semua tampak setuju dengan usul yang diberikan oleh Mbah Nursam itu.
"Baik Mbah kalau begitu, saya sangat setuju!" teriakan salah satu warga desa Kojo.
**
Malam berlarut, sehabis sholat isya semua warga Kojo di kumpulkan di halaman masjid, Mbah Nursam membawa buku kecil berisi doa-doa yang mungkin akan di rapalkan nantinya.
Lukman tampak berjalan di belakangnya dengan balutan baju Koko dan sarung yang ia kenakan, beberapa warga membawa senter untuk penerangan di saat tahlil itu di mulai.
Semua bergegas menuju tempat yaitu sungai yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, berjalan pelan dengan melantunkan sholawat bersama-sama.
Hingga akhirnya sampailah di tepi sungai dengan aliran air yang tenang, dan angin dingin menyelimuti malam itu.
Semua berjongkok ataupun duduk di dasar batu sungai, Mbah Nursam meraih Lukman agar duduk tepat disampingnya.
Suasana hening, semua tampak bermunajat meminta pertolongan Allah SWT untuk kejadian yang tengah menimpa desa Kojo. Mbah Nursam memimpin memberi wejangan sejenak sebelum tahlil itu di mulai.
Tak ada perasaan aneh maupun ganjil saat tahlil berlangsung, aliran air sungai tetap mengalir tenang walaupun gerimis melanda malam itu juga.
20 menit berlalu, tahlil berjalan dengan khidmat dan pastinya membuahi ketenangan batin di setiap hati warga desa Kojo tersebut.
"Alhamdulillah." Mbah Nursam berucap.
Mbah Nursam menutup buku kecilnya itu lalu menatap warga desa Kojo yang telah mengikuti tahlil bersamanya. Seperti sebelumnya ia kembali memberi wejangan, agar warga tak perlu risau lagi karena lambat Laun akan terungkap siapa dalang sebenarnya dalam kejadian yang tengah menimpa mereka.
Namun salah satu warga bersikukuh ingin tau siapa yang membuat kekacauan hingga merenggut nyawa warga desa Kojo.
Mbah Nursam kembali memberitahu agar tetap bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT, semata-mata ini untuk menjadi pengingat bahwa Tuhan adalah tempat pertolongan pertama.
Mbah Nursam tampak menarik tangan Lukman agar berdiri, Lukman menahan rasa kesemutan karena terlalu lama duduk di dasar batu itu.
"Mbah, mulih?-- Mbah, pulang?" bisik Lukman pelan.
Mbah Nursam mengangguk pelan, lalu berjalan pelan di ikuti para warga yang berada di belakangnya. Malam itu hampir hampir menuju jam 11 malam, sunyi dan senyap di desa Kojo.
"Mbah, nginep dulu dirumahku ta?"
"Iya Man."
Sesampainya dirumah, duduk lesu sembari membuka sarung yang Lukman pakai. Segera menyeduh kopi untuk dia dan Mbah Nursam.
Kopi itu sudah siap, asap mengepul dalam gelas bening kecil itu.
"Minum Mbah."
Mbah Nursam meminumnya pelan karena masih terasa amat panas, kini ia kembali menceritakan sosok yang menjadi dalang dalam ini tak lain adalah Ningrum, janda muda yang telah bekerja lama di pasar sebrang.
Dugaan Lukman kini memang tak salah, Mbah Nursam tampak santai setelah mengetahui siapa yang bertingkah seperti itu. Kini mereka hanya ingin terus melanjutkan tahlil hingga hari ketiga.
"Kalau sudah hari ke tiga, dalangnya bakal menyerahkan diri." Mbah Nursam berucap.
"Ningrum Mbah? apa ada perkara lain selain itu?"
Mbah Nursam kembali menceritakan, bahwa ini ada sebuah karma karena Ningrum telah mengotori desa Kojo karena ulahnya, berhubungan gelap dengan pria lain.
Lukman sendiri bergidik ngeri, "Lalu siapa lagi yang akan menjadi tumbal terakhir Mbah?"
Mbah Nursam terlihat kebingungan, tidak ada prediksi siapa yang akan menjadi tumbal ini namun korban tak lain masih bertetangga dengan Lukman.
Entah itu di depan rumah Lukman, samping ataupun belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MYSTERY ( Revisi )
HorrorSisi kelam di sebuah kampung, konon banyak hal ganjil di dalamnya. Karena kematian secara mendadak dan beruntun, mengharuskan para warga setempat mencari tahu akar penyebab dari kematian tersebut. Apa penyebab dari rentetan hal ganjil itu sebagai ak...
