Dan akhirnya...
Sosok wanita tengah mengendap-endap itu tampak berjalan menuju Mbah Nursam. Kedua mata Mbah Nursam menyipit dengan napas kembang kempis.
"Ningrum?"
Wanita diduga Ningrum itu, menarik tangan Mbah Nursam pelan.
"Onok opo!"
Mbah Nursam tampak marah, kini derap kaki Lukman tampak terdengar keluar karena suara Mbah Nursam yang sedikit keras.
"Mbah!"
Lukman dengan buru-buru melangkah lalu terkejut melihat Ningrum tengah bersama Mbah Nursam. Raut wajahnya masam.
"Ning? koe?"
Raut wajah Ningrum tampak gelisah, langkahnya hampir mundur kala Lukman datang.
"Mbah, ampun Mbah. Ojo ngomong Yen aku sing gawe masalah Iki."
Dahi Mbah Nursam mengernyit, kini ia berbalik badan menarik tangan Lukman pelan lalu berjalan pelan menjauhi Ningrum.
Ningrum sempat kembali memohon, namun Mbah Nursam tampak murka ia memilih untuk masuk kedalam rumah dan mengunci semua pintu.
"Man, kalau kamu ketemu Ningrum lagi, jangan banyak bicara dengan dia."
Lukman hanya mengangguk pelan, ia tau bahwa Mbah Nursam sedang marah dan pastinya ia sangat murka karena ulah Ningrum.
Aku berinisiatif untuk menyeduh kopi, untuk menenangkan hati Mbah Nursam. Lukman tampak sedikit takut, bagaimana kalau Ningrum di kucilkan warga setelah ini?
Lukman tampak menepuk-nepuk dahinya pelan, ia rasa kasihan kepada Ningrum itu, karena salah mengambil pemujaan akhirnya berakhir memakan korban.
Kini ia berjalan pelan dengan membawa segelas kopi panas dengan asap kecil yang mengepul.
"Ngopi Mbah."
Raut wajah Mbah Nursam masih masam, napasnya tampak kembang kempis sambil sedikit menggelengkan kepalanya.
Lukman tampak datar menatap Mbah Nursam kini, ia meniup-niup kopi yang mengepul itu secara perlahan.
"Ningrum kui, arghh!"
Mbah Nursam kembali emosi, baru kali ini Lukman melihat tingkat kesabaran seorang Mbah Nursam seperti sudah habis. Mungkin saja Ningrum akan di kucilkan.
"Mbah, sabar dulu."
Lukman menepuk pundak Mbah Nursam itu pelan, ia terus menenangkan Mbah Nursam yang terus beraut wajah masam itu.
Beberapa menit telah berlalu, tak ada obrolan dalam malam ini hingga jam menunjukan pukul satu dini hari. Lukman memutuskan untuk tertidur terlebih dahulu.
**
Pagi itu di kejutkan oleh Mbah Nursam yang hendak pulang untuk menemui istrinya, Mbah Dasini.
"Man, bangun."
Pagi-pagi buta itu, Lukman terpaksa bangun melihat Mbah Nursam yang terlihat rapi.
"Kenapa Mbah?"
Mbah Nursam menjelaskan bahwa ia akan pulang sebentar, lalu di sore hari akan kembali untuk melanjutkan tahlil terakhir.
Lukman memahami itu, lalu ia mencium punggung Mbah Nursam pelan, mengantarkan hingga ke ujung pintu.
**
Pagi itu Lukman memilih untuk pergi ke pasar, menyusuri pasar untuk membeli keperluan dapur yang memang sudah habis.
Dengan bermodal sepeda motor, ia memakirkan secara pelan hingga ia tertarik di salah satu ruko penjual.
"Mbak, trigune wonten?-- mbak, terigunya ada?"
Sang penjual mengangguk pelan, "Wonten, Badhe tumbas pinten mas?"
"Sekilo."
Sang penjual tampak tersenyum simpul, lalu Lukman terduduk pelan di salah satu kursi plastik yang sudah di sediakan. Bola matanya memutar melihat-lihat sekeliling pasar yang ramai dengan orang berlalu lalang.
Ningrum itu tampak tergesa-gesa, hendak membuka rukonya padahal hari sudah menjelang siang.
Lukman masih melihat dengan fokus, hingga ia terfokus pada pria tua yang memang sudah mengikuti Ningrum dari belakang.
Pria tua itu tampak mengenakan blangkon serta baju yang terlihat sangat kuno untuk di kalangan orang jaman sekarang.
"Sopo kui?" Lukman membatin.
Seperti pernah bertemu, namun Lukman lupa siapa orang yang tengah bersama Ningrum itu. Mereka berdua tampak ngobrol dengan serius.
Lukman kembali menengok sang penjual untuk mengambil terigu yang telah ia pesan. Buru-buru ia ke ruko milik Ningrum, karena rasa penasaran itu semakin meninggi.
"Ningrum."
Lukman berhenti sejenak, pria tua itu tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Lukman pada ruko milik Ningrum itu.
"Lukman? mau belanja?"
Ningrum tampak terkejut pula, namun ia segera menjajakan sayuran di hadapan Lukman.
Lukman masih terdiam, dengan bola mata yang membulat melihat pria tua itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Man?"
Panggilan Ningrum itu membuyarkan lamunan Lukman, ia segera duduk di kursi kecil lalu ia memesan seikat kangkung dan satu bungkus garam.
"Ini."
Lukman kembali mengingat kejadian tadi malam, ketika Ningrum mengendap-endap ingin bertemu dengan Mbah Nursam.
"Tadi malam, kamu kenapa mengendap-endap dari belakang rumahku? ada urusan apa dengan Mbah Nursam?"
Bola mata Ningrum tampak bulat penuh, ia sempat menoleh pada pria tua itu, hingga pria tua itu bangkit dari tempat duduknya dan mendekat perlahan pada Lukman.
"Kau cucu dari Nursam?"
Pria tua ini memberi jari telunjuk tepat pada wajah Lukman. Lukman diam mematung napasnya kembang kempis.
"Ya, bapak kenal dengan Mbah Nursam?"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MYSTERY ( Revisi )
TerrorSisi kelam di sebuah kampung, konon banyak hal ganjil di dalamnya. Karena kematian secara mendadak dan beruntun, mengharuskan para warga setempat mencari tahu akar penyebab dari kematian tersebut. Apa penyebab dari rentetan hal ganjil itu sebagai ak...
