8

1.7K 74 1
                                        

"Ningrum itu..."

     Belum sampai habis Yadi mengatakan, tiba-tiba teriakan seorang pria mengangetkan mereka berdua.

"Yad! Man! Nyelang motore!"

     Ketukan demi ketukan serta teriakan pria itu, membuat  mereka segera keluar, Dibarengi Narti yang datang dari arah dapur.

"Enek opo?-- Ada apa?"

     Tampak pria paruh baya yang diduga pak Parman itu, berdiri tepat diambang pintu rumah, napasnya terengah-engah, mereka yang dari dalam rumah tampak heran.

"Pinjam motormu!"

"Buat apa pak?"

"Mbok Lastri kejang-kejang, mau tak bawa rumah sakit."

"Innalilahi, Yo wes cepetan."

     Yadi segera berlari mengambil kunci motornya, serta Lukman pun sama mengambil kunci motor miliknya.

"Mas, Ndang Melu tak?-- Mas, mau ikut juga?"

"Yo wes, ayo."

"Nar, koe Nang omah wae-- Nar, kamu dirumah saja."

     Narti tampak mengangguk dibarengi suaminya itu, mereka segera kerumah mbok Lastri dengan pak Parman tadi. Rumahnya tak jauh hanya beberapa meter saja dari rumah Mbah Sanawi.

     Sampailah di rumah mbok Lastri itu, masuklah kedalam rumah sederhana ini sudah ada beberapa orang yang tengah menangani mbok Lastri.

"Sido Ra?--- jadi nggak?"

     Pak Parman tampak bertanya pada salah satu dari anak mbok Lastri, namun mereka hanya menggelengkan kepalanya.

"Kenapa Ndak panggil Mbah Nursam saja?" Lukman tampak berbisik pada Yadi.

     Namun Yadi, mengisyaratkan agar tetap diam saja, biarkan menunggu waktu yang tepat.

     Wanita itu sedang membasuh wajah mbok Lastri agar segera siuman, dengan segelas air pada genggamannya.

"Ndak usah dibawa dokter." wanita tua itu berucap, yang biasa dipanggil Mbah Sirih, karena beliau suka menginang/ memakan daun sirih beserta rempah-rempah nya.

"Lho sing bener Mbah?-- Lho yang bener Mbah?"

     Mbah sirih itu mengangguk pelan, "Lho, enek Yadi karo Lukman? Rene, Le.-- Lho ada Yadi dan lukman, sini nak."

     Lukman dan Yadi mengikuti arahan Mbah Sirih itu.

"Sehat koe Podo?-- sehat kamu semua?"

     Lukman dan Yadi tampak menyalami, mencium punggung tangan Mbah Sirih perlahan, dingin tangannya.

"Nggih Mbah, Alhamdulillah."

     Dan, hanya butuh beberapa menit saja, mbok Lastri akhirnya dapat tersadar juga, segeralah ia diberi air minum oleh Mbah Sirih.

"Kalo ada apa-apa lagi, panggil Nursam saja." ucap Mbah Sirih.

"Mbah Nursam yang dirumah Mbah Sanawi itu?" pak Parman tampak teliti mendengarkan.

     Pak Parman tampak mengisyaratkan kepada dua pria muda itu, Lukman dan Yadi. Mereka bertiga saling menatap satu sama lainnya.

"Besok panggil Mbah Nursam Le." pak Parman memberi usul.

**

     Pagi-pagi buta itu Lukman bangun lalu mandi pagi dibarengi Yadi beserta Narti.

"Mas Sido Maring kota?-- Mas, jadi ke kota?"

THE MYSTERY ( Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang