17

1.3K 58 0
                                        

"Bu, siapa dia!"

     Namun sosok itu tampak menghilang, seperti salah satu warga desa Kojo namun Ningrum masih belum mengerti mengapa ia tengah tertidur di atas ranjangnya itu.

     Seketika ia mengingat perkataan Mbah Sabeni, jika ada salah satu tumbal lagi terakhir, setelahnya desa Kojo akan aman tak ada hal ganjil lagi.

     Ningrum tak ingin terlalu berpikir hal itu, biarlah saja jika itu akan terjadi artinya memang benar tumbal penglaris itu sudah tak ada lagi.

**

     Suasana pasar riuh, desas-desus tentang tumbal itu kembali mencuat, Ningrum sengaja membuka kiosnya agak siang tak seperti biasanya.

"Ning, kamu nggak ikut tahlil tadi malam?" salah satu warga desa Kojo tampak menyambangi kios milik Ningrum itu.

"Tahlil?"

     Ningrum memang tak tau menahu tentang tahlil itu, karena memang dia sosok yang tertutup tak sering bersosialisasi dengan warga desa Kojo.

"Iya, Mbah Nursam yang ngajak. Pantesan tadi malem saya nggak ketemu kamu."

     Namun, Ningrum kembali memalingkan wajahnya ia kini diliputi rasa takut dan khawatir. Ningrum takut semua warga desa Kojo tau bahwa dialah penyebab semua kematian beruntun yang terjadi itu.

     Ningrum berniat ingin kembali ke Mbah Sabeni, ia ingin semua warga desa Kojo tak tau menahu perkara ini.

**

     Sore itu, di tepi sungai dengan air yang tenang Ningrum memandang sejenak untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Mbah Sabeni.

"Ada pembersihan di sungai ini tadi malam, artinya desa Kojo mulai pulih kembali." Ningrum membatin.

     Kini ia kembali berjalan dengan sedikit berlari agar ia sampai pada rumah Mbah Sabeni di sebrang desa Kojo.

**

     Mbah Sabeni rupanya tengah menanti kedatangan Ningrum, wajahnya kini di liputi ketakutan yang teramat. Kini Ningrum berada dalam satu ruang khusus bersama Mbah Sabeni.

     Mbah Sabeni berucap bahwa warga desa Kojo akan tau siapa dalang di balik ini, dan yang akan mengungkapkan semuanya adalah Mbah Nursam, dan rupanya Mbah Nursam adalah musuh dari Mbah Sabeni.

     Ningrum semakin di liputi ketakukan, bisa-bisa dia akan dikucilkan bila benar Mbah Nursam akan mengungkapkan kebenaran itu.

"Mbah, aku ceroboh Mbah!"

     Ningrum sempat menangis di hadapan Mbah Sabeni karena telah ceroboh lalai dalam praktik penglaris itu hingga mengakibatkan beberapa terjerumus kedalamnya.

     Mbah Sabeni mengelus pundak Ningrum pelan, berusaha menenangkan bahwa akan baik-baik saja kalau tetap bersabar. Karena sesajen yang jin inginkan sudah di penuhi oleh Mbah Sabeni.

      Mbah Sabeni terus menerus memberi tahu bahwa semua akan baik-baik saja, namun jika semua akan di bongkar oleh Mbah Nursam, Mbah Sabeni berharap Ningrum mau meminta maaf kepada seluruh warga desa Kojo.

"Nanti aku ingin bertemu dengan Mbah Nursam!" gerutu Ningrum.

     Namun Mbah Sabeni melarangnya, ia tampak merautkan wajah tak senang bila Ningrum nekat menyambangi Mbah Nursam itu.

"Kenapa Mbah?"

     Mbah Sabeni menjelaskan, bahwa jika ia akan menemui Mbah Nursam secara tidak langsung dia akan ingin menyambangi kerumah Mbah Sabeni, dan Mbah Sabeni tak ingin bertemu dengannya.

     Ningrum menarik napasnya perlahan, memejamkan matanya sejenak walaupun pikirannya kini kalut sekali.

"Jangan risau, aku akan terus membantumu."

**

     Kini Ningrum memilih untuk pulang, berjalan kaki kembali namun salah satu warga tampak berlari kecil seperti orag yang terburu-buru.

"Kang Ridwan mau kemana?"

     Ningrum menghentikan salah satu pria paruh baya itu, hingga napasnya sempat tersengal-sengal.

"Pak Juhri meninggal, kena serangan jantung, saya mau mengambil keranda."

     Deg! artinya pak Juhri adalah tumbal terakhir yang di minta jin penglaris itu. Ningrum hanya berpura-pura tidak tahu dan sedikit merasakan iba.

"Nanti saya melayat juga kang," ucap Ningrum pelan.

      Kang Ridwan lalu kembali berjalan menuju tempat tujuannya, yaitu mengambil sebuah keranda.

     Ningrum kembali melangkah, kini ia sedikit berlari ingin segera sampai di ambang pintu rumahnya. Warga tampak berbondong-bondong akan melayat ke rumah pak Juhri, samping rumah Lukman itu.

     Napasnya tersengal-sengal, mengunci semua pintu ia sengaja tidak pergi melayat untuk saat ini.

"Buk?"

      Anak lelakinya tampak sedang duduk santai dengan televisi yang menyala. Ningrum segera duduk di samping anaknya itu yang tengah bersantai.

"Ibu mau pergi melayat?"

     Namun, belum lagi Ningrum menjawab pertanyaan anaknya itu, terdengar satu dentuman suara dari arah luar jendela. Ningrum sampai terkejut hingga memeluk anak semata wayangnya itu.

     Desir jantungnya tak terhenti, keringat dingin mulai mengucur membasahi dahinya itu. Ningrum, sempat berpikir pak Juhri pasti sedang menerornya untuk saat ini.

     Namun, bukankah Ningrum telah menyesali perbuatannya itu?







THE MYSTERY ( Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang