"Sejak kapan rumah kita ada ular, Man!"
Narti tampak berteriak begitu histeris, semua napas tampak tersengal-sengal. Lukman mengendus kesal mengapa ada ular besar tengah menggeliat dekat dengan pintu belakang. Adi hendak maju mengusir ular tersebut, namun Lukman menghalanginya.
Mata Lukman membulat, tangannya mencari sesuatu yang bisa mengusir ular tersebut. Hitam legam mengkilap sisik ular tersebut. Lukman mengisyaratkan agar semuanya mundur, membiarkan ia menghadapi ular tersebut sendirian.
Lukman bergerak mengambil golok yang berada di sampingnya itu. Berjalan maju dengan napas yang kembang kempis. Ular itu seperti tau kehadiran Lukman hanya untuk membinasakan nya.
Buru-buru ular itu keluar dengan panjangnya yang tidak seperti ular pada umumnya, Lukman menghela napas lega, sorot matanya kini tenang. Lukman keluar pintu tersebut mengekor pada ular yang pergi, datang tak diundang. Ular itu masuk dalam semak-semak dekat pohon pisang.
"Le, mending di babat habis aja rumput ini." seru pak Parman.
Namun seruan itu tak Lukman gubris, hingga ia teringat kembali, ia harus mengunjungi rumah Mbah Nursam, meminta pertolongan untuk kesembuhan mbok Lastri. Lukman kembali masuk kedalam, menaruh golok diatas dipan kecil dekat dengan kompor sumbu.
"Ndang Melu tak, pak?-- Mau ikut nggak, pak?"
Pak Parman tampak menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan dia tidak bisa ikut bertemu dengan Mbah Nursam.
"Koe dewek Yo, bapak enek kerjaan-- Kamu sendiri ya, bapak banyak kerjaan."
Lukman mengangguk pelan, kini pandangannya terfokus pada Narti dan Adi serta kedua keponakannya itu yang dirangkul erat oleh sang bapaknya.
"Mbak, nek enek ula meneh, Ndak usah di usir, Ben lungo Dewe -- Mbak, kalo ada ular lagi, nggak perlu diusir, biarin pergi sendiri."
Lukman mencari kunci motor dalam lacinya, pak Parman dibelakang mengekor hendak pergi setelah lama bertamh dirumahnya.
"Man, aku pan muleh."
Pak Parman menepuk pundaknya pelan, tersenyum simpul membuang raut wajah ketakutan tadi.
"Nggih pak, nanti kalau Mbah Nursam sudah disini, langsung kerumah mbok Lastri."
**
Lukman segera menyalakan motornya itu, lalu pergi ke desa sebelah untuk menjemput Mbah Nursam. Pagi hari, masih sangat dingin dengan embun yang menempel pada dedaunan. Warga belum antusias mengawali pekerjaan karena hari ini, hari akhir pekan.
Melewati jembatan besar di desa Kojo, berhenti sejenak melihat air mengalir tenang namun tampak keruh. Menelisik jam tangannya sudah sedikit siang, buru-buru Lukman menyalakan motornya kembali menyusuri jalanan desa Kojo. Hingga akhirnya sampai juga di desa Mbah Nursam, Desa Kalirandu.
Harus melewati jalan setapak, dengan jalanan yang masih terbilang belum sehalus jalan di desa Kojo, dengan berhati-hati Lukman terus mengendarai motornya.
Harus melewati jalan dengan daun bambu yang berserakan dalam jalanan itu, dan harus bertarung dengan rerumputan liar yang menjulang tinggi.
Jalanan yang licin ini menjadi penghambat sampainya Lukman ke rumah Mbah Nursam, namun Lukman melewatinya sangat tenang dan berhati-hati, hingga pada akhirnya rumah yang ia tuju sudah ada di depan mata.
Rumah dengan anyaman bambu bercat putih itu sudah tampak jelas, pintu masih tertutup rapat, warga desa Kalirandu belum pula melakukan pekerjaan mereka.
Lukman segera memarkirkan motornya itu dihalaman rumah Mbah Nursam. Mematikan motornya lalu menuju ambang pintu dan mengetuknya.
"Assalamualaikum, Mbah."
Ketukan pertama itu disambut hangat, wanita seumuran Mbah Nursam yang tak lain adalah istrinya, Mbah Dasini. Mbah Dasini menyambut hangat kedatangan Lukman, lalu menyuruhnya masuk dan duduk sejenak.
"Masuk Le, Mbah Nursam masih sholat Dhuha." ucap wanita itu dengan pelan.
Lukman mengangguk pelan, sembari duduk dikursi kayu panjang khas orang jaman dahulu. Mbah Dasini, kembali ke dapur untuk mengambil beberapa yang perlu disuguhi pada Lukman.
"Ndak usah Mbah, jadi ngrepotin."
Namun, itu dibantah Mbah Dasini, ia terus berjalan menyusuri dapur untuk menyuguhi Lukman. Lukman masih terduduk diam, sesekali menelisik rumah Mbah Nursam, bola matanya bergerak kanan kiri.
Hingga akhirnya Mbah Nursam datang, dengan kemeja Koko panjang putih itu. Rambutnya sudah memutih, tak ditutupnya dengan songkok yang biasa ia kenakan.
Lukman kembali berdiri, menyalami Mbah Nursam, mencium punggung tangan beliau. Mbah Nursam kembali menyuruhnya duduk kembali lalu sedikit membuka basa-basi.
Mbah Dasini kembali, dengan secangkir kopi hangat pada nampan yang ia bawa itu.
"Iki Yo Man, di minum."
Ramah ketamahan Mbah Dasini membuat Lukman sedikit canggung dan tersenyum malu-malu.
"Jadi, ada perihal ada datang kesini Man."
"Iku Mbah, mbok Lastri tetanggaku, kemarin kejang-kejang, pak Parman sama mbok Sirih, bilang ke saya, suruh Mbah Nursam melihat kondisi mbok Lastri."
Dahi Mbah Nursam mengerut, dengan Mbah Dasini juga tampak jeli mendengarkan ucapan Lukman itu. Mbah Dasini menatap raut wajah Mbah Nursam itu dengan teliti.
"Opo iku bisa nyebar?" Mbah Dasini tampak membisik pada Mbah Nursam. Namun Lukman sedikit mendengar nya, tapi masih tak tau apa yang bisa menyebar itu.
Mbah Nursam menghela napasnya pelan-pelan.
"Ya, nanti kita kesana Man."
Lukman mengangguk pelan, sedikit tersenyum lalu menyeruput kopi yang bikinan Mbah Dasini. Mbah Nursam merautkan wajah yang tengah berpikir. Sedikit menggigit bibirnya, dan bola mata yang tampak bergerak.
"Tapi Mbah,"
Lukman tampak meneguk kopinya itu dengan keras, lalu kembali ia ingin mengatakan sesuatu. Kedua mata Mbah Nursam dan Mbah Dasini tampak menatap tajam, serius. Kedua telinga mereka siap mendengarkan penjelasan Lukman.
"Pak Parman juga bilang, perut mbok Lastri tiba-tiba membesar Mbah,"
Mbah Dasini tampak mengernyitkan dahinya lalu menatap suaminya itu.
"Pertama opo Iki, pak."
Mbah Nursam menaruh rona wajah curiga, ia tampak sedang memikirkan apa yang diungkapkan oleh Lukman tadi.
"Kira-kira, itu kenapa ya Mbah, kata Mbah sirih kena sawan."
Mbah Nursam menghela napasnya panjang, kini ia menyilangkan tangannya dengan mulutnya yang berkomat-kamit. Semua menaruh wajah tegang, termasuk Lukman yang sedari tadi menjelaskan perihal sakit mbok Lastri.
"Iya, nanti kita langsung kesana, takutnya ini wabah yang bisa menyebar."
Lukman tak tau betul apa yang dikatakan Mbah Nursam barusan, wabah apa yang beliau maksudkan, kalau bisa menyebar, bisa-bisa seluruh warga desa Kojo akan mati secara mendadak.
"Wabah opo Mbah?"
Namun tak ada jawaban dari Mbah Nursam tadi, ia masih terus merahasiakan apa yang barusan ia katakan, rona wajah masih diliputi rasa penasaran dan ketakutan.
**
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MYSTERY ( Revisi )
HorrorSisi kelam di sebuah kampung, konon banyak hal ganjil di dalamnya. Karena kematian secara mendadak dan beruntun, mengharuskan para warga setempat mencari tahu akar penyebab dari kematian tersebut. Apa penyebab dari rentetan hal ganjil itu sebagai ak...
