Narti tampak sedikit kebingungan dengan ucapannya itu, dengan Adi yang terus mengisyaratkan sesuatu.
"Kata bapak masih warga desa Kojo, tapi aku lupa namanya siapa." sambung Narti.
Yadi menghela napas pelan, dibarengi Lukman yang sedari tadi menunggu jawaban dari Narti.
"Kalo Ndak tau, Ndak usah bilang mbak." sambung Lukman dengan ketus sembari berlalu menuju kedalam rumah.
**
Narti tampak sedang memberesi bilik peninggalan Mbah Sanawi dengan suaminya itu, Yadi dan lukman memilih untuk membersihkan area depan saja.
"Buk, apa iya ada yang punya penglaris di desa ini?" Adi sedikit berbisik pada Narti.
"Iya pak bener, bapak yang bilang sendiri, tapi ya aku Ndak tau siapa orangnya."
Adi sedikit bergidik ngeri, bisa-bisa yang punya penglaris itu sedang mencari tumbal untuk ilmu penglaris itu.
"Ayo kita cepat pergi dari sini buk.."
Narti tampak menghela napasnya, dengan bola matanya yang menatap tajam suaminya itu.
"Tugasku belum selesai pak,"
Namun, Adi tak bisa menutupi kengerian yang ia alami itu, bukan penakut, hanya saja untuk berjaga-jaga karena suatu saat nanti mungkin ada hal buruk yang akan menimpa.
**
Lukman dengan santainya menyapu serta mengelap beberapa meja di hadapannya itu serta Yadi ikut dalam membantunya.
"Mas, Mbak Sri nggak kesini?"
Yadi menggeleng pelan, "Nggak, besok aku harus pergi ke kota lagi."
Lukman dengan spontan menepuk punggung kakaknya itu dengan amat keras, dengan tatapan melotot.
"Mas, tego!"
Yadi melongo melihat tingkah adiknya itu, namun ia tak menggubris malah berbalik arah menuju ke dapur.
"Mas Yadi!"
Teriakan Lukman tak didengar oleh Yadi, Yadi masih terus berjalan menuju dapur dan segeralah ia mengambil satu gelas air untuk minum.
Tiga tegukan air itu dapat membasah dalam kerongkongannya hingga ia mengingat seseorang yang masih dalam rasa penasaran itu.
"Ningrum?" Batinnya.
Wanita muda itu masih terus pada angan-angan Yadi, rasanya ada sesuatu yang janggal dari aura nya. Ia mengingat, sedari kecil Yadi selalu bisa merasakan hal-hal aneh dari dalam diri seseorang, karena berkat bapaknya, Mbah Sanawi itu. Namun Yadi terus-menerus menepis pandangan buruknya pada wanita muda itu.
Krieet.
Pintu yang terbuat dari anyaman bambu itu tampak terbuka sedikit, tak ada rasa takut sedikitpun karena suasana masih menjelang siang hari.
Yadi melihat keluar area itu dengan gelas berisi air masih salam genggaman tangannya. Berjalan perlahan melihat seisi pekarangan rumah milik bapaknya itu.
"Mas!"
Yadi seketika menengok kebelakang ke sumber suara orang yang memanggilnya itu.
"Opo?!"
Lukman berjalan pelan dengan golok yang ditangannya, menengok kanan kiri hanya rerumputan yang sangat tinggi.
"Mas, nyapo nang kene?-- Mas, kenapa disini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MYSTERY ( Revisi )
HorrorSisi kelam di sebuah kampung, konon banyak hal ganjil di dalamnya. Karena kematian secara mendadak dan beruntun, mengharuskan para warga setempat mencari tahu akar penyebab dari kematian tersebut. Apa penyebab dari rentetan hal ganjil itu sebagai ak...
