12

1.4K 69 1
                                        

     Mbah Nursam mengangguk sejenak, mereka berdua tampak hangat membicarakan kondisi mbok Lastri yang terlihat memprihatinkan. Tak ada kondisi membaik setelah Mbah Nursam memeriksanya.

     Narti tampak sedang mengemasi barang-barang yang akan ia bawa bersama keluarga kecilnya. Tak ada pembagian harta warisan apapun karena hanya sepetak tanah rumah Mbah Sanawi yang menjadi peninggalan beliau.

     Juna dan Dewa tampak berlari-lari kecil, saling jerit satu sama lain dan tertawa cekikikan.

"Hey, Ojo berisik!" Lukman mengisyaratkan agar kedua keponakannya itu diam tak berlari-lari kesana kemari.

"Paman, itu siapa?"

Lukman mendengarnya dengan kedua alis mengerut.

"Ini? Mbah Nursam."

     Namun Juna menggeleng pelan, jari telunjuknya menunjuk pada belakang punggung Lukman. Lukman menoleh sejenak ke belakang namun tak ada siapapun disana. Lukman menatap Mbah Nursam bingung, namun Mbah Nursam hanya membalas dengan senyuman kecut.

"Sudah tak apa, namanya juga anak kecil."

     Mbah Nursam masih terus membungkam apapun yang berbau ghaib, Lukman berpikir ia tak bisa terus di rahasiakan seperti itu. Mbah Nursam perlu menjadi teman cerita apapun yang berkaitan dengan hal itu.

"Mbah, kenapa Mbah selalu diam?"

"Maksudmu?"

"Ya harusnya Mbah Nursam menjelaskan secara rinci, apa maksud yang Mbah bilang wabah, pasti ada akar dari balik itu semua kan?"

     Mbah Nursam menelan ludahnya pelan, sepertinya Lukman ingin segera tau apa yang tengah di sembunyikan Mbah Nursam.

"Nanti juga kamu akan tau."
 
     Mbah Nursam terus mengelak untuk memberitahu apapun yang berkaitan dengan itu. Tak ada obrolan di antara mereka, semua tampak merenung entah apa yang tengah di pikirkan.

     Mbah Nursam sesekali mengendus pelan, Lukman mendongak ia kembali menanyakan firasat buruk tentang apa yang akan menimpa desanya itu.

"Mbah?"

     Lamunan Mbah Nursam membuyar, kala Lukman tiba-tiba memanggilnya perlahan.

      Mbah Nursam menaikkan kedua alisnya, mempertandakan bahwa ia mendengar ucapan Lukman.

"Mbah ceritakno, piye masalah mbok Lastri kui?"

     Mbah Nursam kembali menatap Lukman dengan tatapan sayu. Kembali bercerita dari ujung sampai akhir mengapa mbok Lastri bisa mengidap penyakit aneh seperti itu.

     Lukman terkejut bukan main, jantungnya sangat cepat berdetak, rasanya zaman sekarang sudah bukan lagi tentang hal mistis seperti itu.

"Mau percaya tidak percaya, itu terserah kamu Le."

     Lukman masih terus mengingat-ingat waktu dimana bapaknya jatuh sakit. Kala itu malam hari, baru Lukman pulang dari bekerja di toko milik pak Karim, dia bekerja sebagai pembuat roti disana.

     Sebelum sempat ia meninggalkan tempatnya bekerja, pak Karim  memberinya sebungkus lauk yang dia bilang beli di kedai milik mbak Ningrum.

     Lukman tak menolaknya sedikit pun, karena ia pasti tau bapak hanya memasak sayur hasil memetik dari kebun. Tak ada rasa aneh yang dirasakan, hingga tiba akhirnya di rumah bersama bapaknya, Mbah Sanawi.

     Lukman membuka bungkusan lauk itu, ikan dengan sayur kuning sengaja ia hangatkan karena memang sudah dingin. Bapaknya tak ada rasa ragu sekalipun.

     Hingga akhirnya Lukman dan Mbah sanawi menghanguskan lauk tersebut dengan nasi yang masih hangat.

     Tak ada gelagat aneh setelah memakan habis makanan pemberian juragan roti itu. Semua kembali ke bilik masing-masing untuk melanjutkan istirahat dimalam itu.

     Pagi telah tiba, Mbah Sanawi mengeluh perutnya sakit. Lukman tak berpikir aneh sekalipun, ia berpikir ini hal lumrah karena bapaknya sempat mengidap asam lambung.

     Sempat ia berikan satu tablet obat pereda nyeri untuk bapaknya namun hasinya malah bertambah parah. Sakit itu tak dapat sembuh.
 
     Hingga akhirnya Lukman menelepon kedua kakaknya itu yang berada di luar kota agar segera pulang. Hingga Mbah Nursam yang terus mengontrol kondisi Mbah Sanawi.

     Semua saran untuk di bawa rumah sakit di tolak oleh sang kakak sulung, Yadi berpikir bahwa bapaknya bukan sakit biasa. Mbah Nursam pun mengiyakan pendapat dari Yadi.

     Semua sepakat namun pada akhirnya Mbah Sanawi harus pulang ke pangkuan sang ilahi, dan ini sebab akibat oleh seseorang yang memiliki sebuah penglaris.

"Ini kan hanya sekedar penglaris Mbah? kok bisa nyawa orang yang di ambil?"

     Mbah Nursam terus kembali menjelaskan, bahwa ini ada yang salah dari perhomonan sang pemilik penglaris, yang mengakibatkan nyawa orang lah yang akan menjadi tumbalnya.

"Seperti suatu hal yang bila kita tidak beri waktu ini juga, mereka akan mencari gantinya sendiri. Gantinya adalah nyawa orang lain."

     Lukman masih menelaah ucapan Mbah Nursam, tampak mengerikan bila mana sang pemilik penglaris itu belum pula ditemukan.

"Siapa yang punya hajat seperti itu Mbah?"

"Masih satu desa denganmu."

     Lukman sempat berpikir bahwa pak Karim lah mempunyai penglaris itu, tapi bila di lihat-lihat selama ia bekerja disana, tak ada hal aneh sekalipun.

     Namun ada nama seseorang yang ada dipikiran Lukman yang mungkin saja 99% dialah penyebab semuanya.

"Apa mungkin dia Mbah?"






THE MYSTERY ( Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang