Suasana pasar riuh dengan kabar mbok Lastri yang tengah sakit, Ningrum kini hanya sendiri berjualan di kios yang biasanya ditemani mbok Lastri, berdagang di samping kiosnya. Berita demi berita, mulut demi mulut, hingga gosip pun kin sudah ramai berada di pasar itu.
Wanita paruh baya yang tengah berbelanja di kios milik Ningrum pun tampak antusias membahas nya. Sampai-sampai membuat pening kepala Ningrum.
"Kasian ya, mbok Lastri."
Bibir Ningrum tampak menyungging, dengan rona wajah yang masam merasa bodoamat dengan berita yang tengah heboh itu.
"Jangan bahas mbok Lastri deh Bu, ngeri."
Wanita paruh baya itu menatap heran, apa yang perlu ditakutkan bukankah mbok Lastri hanya sakit biasa, kini wanita itu mengernyitkan dahinya berkali-kali.
"Ngeri gimana Ning?"
Ningrum tampak mengisyaratkan tangannya, matanya bergerak kanan kiri melihat situasi.
"Itu kayak bukan kena sakit, kayak guna-guna." timpal Ningrum berbisik.
Wanita paruh baya yang sedang berbelanja itu terkejut, matanya menatap tajam pada Ningrum, kedua telinganya masih kuat untuk mendengar cerita huru-hara tentang mbok Lastri.
A sampai Z, Ningrum jelaskan bagaimana kondisi mbok Lastri Sebenarnya, hingga membuat wanita paruh baya itu bergidik ngeri.
"Kamu Ndak ada niatan buat nengokin si mbok Lastri?"
Ningrum menggeleng pelan, menghela napasnya perlahan. Dengan senyuman kecut.
"Belum berani, nanti saja kalau memang kondisinya tambah buruk."
"Eh, kok gitu Ning, ya doain biar cepet sembuh."
Ningrum menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, dengan cengengesan.
"Hehe iya, maaf."
**
Semua berita tampak simpang siur, Ningrum masih menaruh perasaan penasaran, seperti apa kondisi mbok Lastri sekarang. Ningrum tampak mengemasi barang dagangan yang masih tersisa.
Buru-buru ia pulang kerumah dengan tergesa-gesa. Ia melihat Akbar tengah duduk sembari membaca buku di teras rumah.
Akbar bangkit lalu menghampiri ibunya itu dengan membawakan barang dagangan yang tersisa.
"Jam berapa sekarang, Le."
"Udah agak sore Bu."
Ningrum tampak tergesa-gesa sekali, lalu ia langsung masuk kedalam rumah sembari mengganti semua baju yang ia kenakan.
Duduk di kursi kayu kecil, ia merias dirinya dan menggunakan hijab panjang berwarna coklat muda. Mencari amplop untuk mengisi sebuah lembaran uang, yang akan diberikan untuk mbok Lastri.
"Ibu mau kemana?"
Akbar membuka pintu kamar sedikit, melihat ibunya tengah sibuk merias diri.
"Mau nengokin mbok Lastri, ibu belum sempat."
**
Ningrum terpaksa berjalan kaki, menyusuri jalanan desa Kojo yang sepi. Dengan wajah yang cerah bibir merah merona, janda muda yang bernama Ningrum itu berjalan berlenggak-lenggok.
"Duh, janda muda mau kemana?"
Pria paruh baya yang di duga pak Sukri itu tampak menggoda Ningrum yang sedang berjalan sendirian.
"Kerumah mbok Lastri, memang bapak nggak tau, dia kan sekarang lagi sakit."
Pak Sukri tadi mengangguk pelan.
"Rumornya dia kena sawan lho, emang nggak takut pergi kesana?"
Ningrum sedikit mengurungkan diri untuk pergi kerumah mbok Lastri. Kedua telinganya tampak jeli mendengarkan ucapan pak Sukri tadi.
Ningrum meremas tali tas yang ia kenakan, pak Sukri tampak heran melihat gelagat Ningrum yang tiba-tiba ketakutan. Ningrum kembali mengingat kejadian Mbah Sanawi yang tiba-tiba bertamu kerumah nya. Apalagi sekarang ia harus melewati rumah peninggalan Mbah Sanawi agar sampai ke kediaman mbok Lastri.
"Emang bapak sudah liat mbok Lastri?"
Pak Sukri tampak menyilangkan tangannya.
"Udah, makanya saya bilang itu ke kamu. Kondisinya semakin buruk." pak Sukri itu berbisik.
Namun, rasa penasaran itu tumbuh kembali, Ningrum nekat mengunjungi rumah mbok Lastri walaupun agak sedikit rasa takut.
"Wes lah, saya mau pergi." Ningrum berjalan dengan kasar.
**
Pintu rumah sederhana itu tampak terbuka lebar, banyak obrolan dalam rumah itu. Ningrum menelisik, mendengar dari arah luar, sepertinya suara yang kini ia dengar tak asing di kedua telinganya.
Ningrum berjalan mengendap-endap, pelan namun pada akhirnya ia tiba juga di ambang pintu itu.
Ia sedikit mengintip lalu memberi salam pelan, salah satu pria paruh baya yang di duga pak Parman itu mengajak Ningrum untuk masuk kedalam.
Berjalan pelan hingga akhirnya, ia di antar pada satu bilik disitu mbok Lastri terbaring lemah. Namun, ternyata Lukman dan Mbah Nursam berada dalam bilik itu juga.
Ningrum bak bertemu seorang musuh, hendak lari namun sudah terperangkap didalamnya. Mata Lukman membulat di saat Ningrum masuk ke dalam bilik hanya untuk melihat mbok Lastri.
Mbah Nursam melihat sekejap, ia kembali merapalkan doa-doa untuk kesembuhan mbok Lastri.
Mbok Lastri tampak diam dengan tatapan datar pada langit-langit bilik kecil itu. Perutnya terus bertambah membesar layaknya orang yang tengah hamil.
Ningrum melihat getir kondisi tak lazim yang di alami mbok Lastri itu. Akhirnya Ningrum berjalan mundur, memilih untuk keluar dan menunggu di ruang depan yang sudah ada pak Parman disitu.
"Ning, kenapa keluar?"
Ningrum terduduk dengan merautkan wajah sedih.
"Anak-anak mbok Lastri dimana?"
"Di ladang, mereka masih sibuk cari bahan makanan, uang sudah habis untuk berobat."
Ningrum mengangguk pelan, namun kini sedikit canggung.
"Itu Mbah siapa, yang ada di dalam?"
"Nursam namanya, masih saudara dengan bapaknya Lukman."
Pantas saja garis wajahnya mirip sekali dengan Mbah Sanawi, apa mungkin yang bertamu kala itu Mbah Nursam bukan Mbah Sanawi?
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MYSTERY ( Revisi )
HorrorSisi kelam di sebuah kampung, konon banyak hal ganjil di dalamnya. Karena kematian secara mendadak dan beruntun, mengharuskan para warga setempat mencari tahu akar penyebab dari kematian tersebut. Apa penyebab dari rentetan hal ganjil itu sebagai ak...
