"Mbah, piye?"
Mbah Nursam tampak mengedipkan matanya pada Lukman, mengisyaratkan sesuatu. Wanita yang di duga Ningrum itu kini sudah berada di ruang diluar.
"Dia siapa?"
Lukman menelisik siapa yang Mbah Nursam maksudkan. Matanya membulat melirik pintu bilik ini.
"Ningrum, Mbah."
Seketika Mbah Nursam menatap tajam Lukman, kedua pupilnya membulat, kemudian mengernyitkan dahinya perlahan.
"Nanti aku ceritakan sesuatu."
Lukman masih menatap bingung mbah Nursam kemudian fokus kembali ke arah mbok Lastri yang masih terbaring salam ranjangnya itu.
Suasana kian mendingin, Mbah Nursam masih berkomat-kamit berkonsentrasi dalam menyembuhkan mbok Lastri. Lukman hanya menemani dengan merapalkan beberapa doa yang mungkin dapat membantu kesembuhan mbok Lastri.
Mbah Nursam berjalan mundur, mbok Lastri kini memejamkan matanya dengan bibir yang masih pucat pasi dengan perut yang semakin membesar. Tangan Mbah Nursam kini meraih tangan Lukman, membawanya keluar dalam bilik itu.
Duduk dalam kursi panjang, dua anak dari mbok Lastri kini masuk ke dalam bilik itu untuk menemani sang ibunya.
Duduk di kursi panjang itu dengan suguhin kopi hangat yang sudah ada di meja. Pak Parman masih menanti ungkapan Mbah Nursam tentang penyakit apa yang sedang di idap mbok Lastri.
"Piye Mbah?"
Mbab Nursam tampak menyeruput kopinya perlahan, dibarengi Lukman yang ikut pula.
"Gini Le."
Telinga-telinga itu tampak siaga siap mendengarkan, mata menatap tajam pada pupil Mbah Nursam, membulat penuh.
"Penyakit ini hampir sama dengan bapaknya Lukman, Mbah Sanawi. Tapi yang di idap mbok Lastri tampak lebih ganas."
"Penyakit opo Mbah? opo bener kena sawan?"
Pak Parman memang tampak menaruh rasa penasaran dan sedikit curiga. Matanya membulat, kedua telinganya siap untuk mendengarkan.
Mbah Nursam tampak santai menyeruput kopi yang memang terkhusus untuk dirinya, dibarengi Lukman yang sudah meneguk kopinya berkali-kali.
"Harus dibarengi ibadah aja semoga sawan itu cepat hilang." Mbah Nursam berucap dengan cangkir yang di letakkannya secara perlahan.
Mbah Nursam tampak menaruh wajah sangat lesu, siapa sangka wabah yang di takutkan Mbah Nursam dari tahun ke tahun akan menjadi kenyataan.
Mbah Nursam terus meneguk kopinya hingga hanya sisa ampas, segera berdiri lalu menyikut Lukman perlahan.
"Mbah, Mulih?-- Mbah? Pulang?"
Mbah Nursam mengangguk pelan, bangkit lalu segera manggandeng lengan Lukman itu. Lukman tampak grasa-grusu karena mbah Nursam sedikit menahan sesuatu.
"Mbah, piye? kok cepet banget?"
"Kerumah kamu dulu Le."
Tibalah sudah di rumah Lukman yang memang tak jauh dari rumah mbok Lastri. Sudah ada Narti beserta kedua anaknya yang tengah asik bermain.
"Man?"
Narti itu berdiri.
"Besok aku mau ke kota lagi Man, kamu sendirian gapapa?"
Raut wajah Lukman sedikit terkejut, menghembuskan napasnya pelan dengan alis yang berkerut. Napasnya kembang kempis.
"Lah cepet banget mbak?"
Mbah Nursam tampak terduduk santai di kursi kayu, melihat Narti dan Lukman tampak berbincang-bincang. Ia melepas sorban yang membalut lehernya itu sembari mengibaskan pada tubuhnya.
"Iya Man, banyak kerjaan. Takutnya malah kena pecat sama bos."
Lukman tampak mengendus kesal mendengar penuturan Narti itu. Duduk dengan kasar menatap Mbah Nursam yang dari tadi terdiam mendengar kan.
Senyuman simpul dari Mbah Nursam membuat Lukman sedikit merenung mengingat bapaknya, Mbah Sanawi kala masih hidup. Bukan apa, tapi Lukman memang hanya hidup dengan bapak nya karena kedua kakaknya semua berada di luar kota.
Berdecak kesal, napasnya memburu masih memilih merenung sedikit melamun. Mbah Nursam hanya menatap kasian kepada Lukman itu.
"Mending nikah aja Le, kalau memang sudah ada calonnya."
Mata Lukman membulat, mendengar penuturan Mbah Nursam itu. Umur sudah masuk kepala tiga bukan anak kecil lagi. Sudah waktunya untuk mempersunting seorang wanita yang kelak menjadi teman hidupnya.
Alih-alih mengiyakan ucapan Mbah Nursam, Lukman kembali merenung. Siapa yang akan menikah dengan dia, tak ada gadis satupun yang dekat dengannya untuk saat ini.
"Kamu tampan Le, gadis mana yang tidak mau sama kamu."
Mbah Nursam terus memuji ke elokan paras Lukman, pria berkulit putih dengan tinggi 175cm memang sedikit pemalu. Lukman tersipu malu saat Mbah Nursam terus meledeknya.
"Mbah, jangan gitu. Mending bahas mbok Lastri. Sebenarnya dia sakit apa Mbah?"
Tangannya kini terlipat di dadanya, menghembuskan napas pelan sebelum kembali berucap.
"Sama seperti bapakmu tempo hari lalu, "
Mbah Nursam menggeleng pelan setelah menuturkan itu. Dia merasa tak ada obat lain untuk kesembuhan mbok Lastri, sebelum sang dalang pembuat wabah itu segera muncul.
"Jadi ada orang jahat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MYSTERY ( Revisi )
HorrorSisi kelam di sebuah kampung, konon banyak hal ganjil di dalamnya. Karena kematian secara mendadak dan beruntun, mengharuskan para warga setempat mencari tahu akar penyebab dari kematian tersebut. Apa penyebab dari rentetan hal ganjil itu sebagai ak...
