32 . Bandung Bersama Angel

1.3K 53 5
                                        

Tap tap tap

"Nih buat kamu."

Aku menerima kopi yang Angel buat untukku lalu tersenyum singkat dan menaruh kopi di meja.

Pandanganku menuju kepada pemandangan indah di sekitar bukit. Aku ingin sekali mengabari Ella. Tapi aku lupa menyimpan ponselku di mana.

Saat dicari dimana pun aneh, tidak ketemu sama sekali. Aku mencarinya di mobil juga tidak ada, seingatku aku menjatuhkan ponselku tidak sengaja di mobil.

Tapi tidak ada.

Apa kabar, Ella?

Aku sangat merindukannya.

Ini sudah tiga hari aku di Bandung.

Selalu ingin pulang. Sedangkan mamah menyuruhku diam di sini seminggu, itung-itung untuk menenangkan diri sejenak.

"Des," sebuah tangan menyapa telapakku yang aku taruh di meja.

Aku melirik sebentar.

"Apa?"

"Kita di sini udah bareng-bareng selama kurang dari tiga hari. Kamu nggak ada rasa apa-apa gitu?"

Aku mengerutkan kening tidak mengerti. Angel menompang dagunya menggunakan telapak tangan sambil menatapku terus.

"Maksudnya?"

"Rasa... Perasaan,"

Mendengar itu aku terdiam.

Dia semakin erat memegang tanganku. Aku yang agak risih mencoba melepaskan tangannya.

"Kamu nggak mau kan Ella kepikiran sama kamu yang lagi banyak masalah?"

Dia benar. Aku tidak ingin Ella memikirkan masalahku, tapi aku juga membutuhkannya.

"Aku tahu, Ella udah banyak masalah. Kalau kamu baik buat dia, lepasin dia buat kebaikannya."

Maksudnya apa?

Kata-kata Angel ada benarnya juga, aku harus bagaimana sekarang? Bahkan sekarang aku tidak tahu kabar Ella karena ponselku tidak ada.

"Dia banyak temen tanpa kamu, kamu nggak pantes buat dia." aku menoleh ke Angel.

Kenapa dia bisa bilang seperti itu? Apa aku terlalu buruk untuk seorang Ella? Tapi lagi-lagi itu benar, banyak yang menyukai Ella selain aku. Jika aku menghilang mungkin saja Ella sudah bersama yang lainnya.

Tanpa aba-aba Angel mendekat ke arahku dan langsung menempelkan ranumnya denganku.

Aku tersentak tetapi tidak bisa apa-apa. Aku memejamkan mata, mencoba melupakan Ella tetapi itu semua sia-sia. Bahkan saat aku memejamkan mata pun yang muncul adalah wajah Ella.

Pikiranku tidak sedang dalam keadaan baik, namun aku masih bisa merasakan pergerakan Angel yang terus mendesak dalam ciuman tersebut.

Ini salah. Ketika aku akan mendorong Angel untuk menyudahi ini, ART memanggilku.

"Non,"

Dengan cepat aku mendorong Angel keras.

Apa bibi melihat yang Angel lakukan kepadaku? Aku kikuk dan gugup tidak tahu harus berbuat apa.

Sampai akhirnya bibi mencairkan suasana.

"Ini kue yang tadi bibi bikin buat di makan." bibi menaruh kue di meja lalu pergi berpamitan.

Saat bibi sudah pergi aku sedikit lega, sepertinya bibi melihat tetapi ia diam dan tidak banyak komentar.

Drett drett

 Free Thought [ REVISI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang