09 . Her

2.6K 117 0
                                        

Rades kini sedang fokus dengan layar ponselnya. Ia terus-menerus memainkan ponselnya alias sedang bermain game tanpa memperhatikan sekitar.

Tidak peka terhadap seseorang yang sedaritadi menunggunya selesai bermain game tetapi tidak selesai-selesai.

"Ck," perempuan itu berdecak kesal ke arah Rades sambil memutarkan bola matanya jengah melihat tingkah laku Rades akhir-akhir ini yang sering sekali tidak menghiraukan dirinya hanya karena game.

"Game nya lebih seru dari aku, ya?" tanyanya.

"Lo mau gue mainin?" Rades melirik sebentar sebelum melihat ponselnya kembali.

Perempuan itu tidak bisa berkata apa-apa.

Ia perlahan mendekat ke Rades dan meluruskan kedua kaki Rades yang tadi sikunya terangkat ke atas.

Melihat Rades belum ada respon apapun ia memilih untuk duduk di paha Rades sembari menggoda Rades agar perempuan itu mengalihkan perhatiannya kepada dirinya.

"Ada apa, Angel?" tanya Rades dingin.

"Angel?"

"Nama kamu."

"Ih!" Angel menaruh kedua tangannya di dada.

"Kenapa?"

"Oh, jadi sekarang bilangnya nama?"

Rades terkekeh pelan, gemas melihat kelakuan pacarnya ini. "Maaf lupa, kenapa sayang?"

Rades menyudahi bermain game, ia taruh ponselnya di meja kecil depan sofa yang sedang mereka duduki.

"Kamu fokus banget main gamenya sampai lupa ada aku gitu?"

"Oh iya?" Rades pura-pura terkejut mendengar pertanyaan Angel.

Rades memeluk pinggang Angel perlahan dibalas rangkulan tangan Angel yang mengalung di leher.

Angel cemberut kesal melihat pacarnya lebih mementingkan hal lain daripada dirinya. "Aku sebel tau sama kamu."

"Kenapa?" tanyanya kembali.

"Ya habisnya lebih mentingin yang lainnya,"

Setelah Angel mengatakan itu, Rades sengaja mengecup bibir Angel dengan singkat.

"I love you."

Gadis itu mengulum bibirnya dan memperlihatkan pipinya yang merah merona.

"I love you more, sayang."

"Laper nggak?" ia menyisir rambutnya sendiri menggunakan jari-jari ditangannya.

"Sok kecakepan amat jadi orang." Angel kembali cemberut.

"Emang cakep," Rades menoleh sebentar ke cermin dekat sofa.

"Jadinya gimana? Laper nggak? Mau aku pesenin?" Angel mengangguk semangat mendengar perkataan Rades.

"Pasti mau dong, ada apa aja? Boleh apa aja?"

"Of course, sayangku,"

Ia mengacak-acak rambut lurus dan panjang milik Angel agar perempuannya itu kembali marah.

Tok tok tok

Rades mendengar samar-samar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Tetapi karena bodo amat ia lanjut untuk memejamkan mata.

Tok tok tok

Ketukan itu semakin keras.

Tok tok tok

Rades terbangun dari mimpinya. Deru napasnya tidak beraturan, ternyata tadi hanyalah mimpinya dengan sang mantan.

Ia melihat ke arah jam dinding, sudah mengarah pukul sembilan pagi. Lagipula siapa yang bertamu sepagi ini? Bukannya ibunya tidak ada di rumah?

Lagian ini hari libur, Rades mengambil bantal untuk menutupi telinganya dari ketukan pintu yang mengganggu aktivitas mimpinya.

TOK TOK TOK

Rades sangat kesal kepada orang yang terus menerus mengetuk pintu rumahnya dan sekarang lebih keras.

Dengan raut wajah kesal ia pergi ke depan rumah untuk mengetahui siapa yang membuat hari liburnya terganggu.

Ia segera membuka pintu rumahnya dan bersiap melontarkan kalimat kasar.

"Halo Kak Rades,"

Rades terdiam saat melihat siapa yang di hadapannya. Itu Ella. Mau apa dia sepagi ini ke rumah Rades?

"Kak?" otomatis Rades mengubah mimik wajahnya menjadi dingin.

"Ngapain ke sini?"

"Disuruh mamah nganterin masakan buat Kak Rades."

"A–"

"Aku belum selesai ngomong, Kak." Ella mengisyaratkan satu jari telunjuknya agar Rades berhenti bicara.

"Terus ini itu disuruh sama mamahnya Kak Rades, jadi nggak mau ada tolak tolakan dari Kakak buat nolak pemberian makanan enak ini dan mamah kakak suruh aku buat lihat langsung kakak yang makan karena kakak susah makannya kata mamah kakak."

"Bawel banget jadi cewek, pergi sana." ia mendorong pelan pundak Ella agar gadis itu mundur beberapa langkah dari hadapannya dan ia segera bisa menutup pintu lalu kembali tidur.

"Ets... nggak bisa dong," Ella menahan pintu dan nyelonong masuk ke rumah Rades.

"Lo sembarangan masuk rumah orang."

"Kata mamah Kakak boleh kok."

Ella bergegas ke dapur dan menyiapkan makanan untuk Rades.

"Kakak itu harus banyak makan, kegiatannya makin banyak kan tahun sekarang? Bentar lagi juga mau lulus–" Rades terkejut Ella membalikkan badan dan mengajaknya bersalaman.

"Selamat kerja kalau udah lulus, eh mau kerja atau kuliah?"

Rades tetap tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu.

Ia memilih menunggu di ruang keluarga dan menunggu makanannya sampai.

"KAK RADES GOSOK GIGI DULU, AKU TAHU KAKAK BARU BANGUN! ITU KATA MAMAH KAKAK TAHU!"

Sialan, sampai gosok gigi tahu. Terpaksa ia jalan ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka.

Saat kembali ia disajikan makanan yang membuat perutnya keroncongan begitu melihat apa yang ada di depan matanya.

"Ayo makan,"

Rades melihat Ella tersenyum manis kepada dirinya.

Sedikit hatinya terpaku oleh senyuman itu. Tidak mau melihat Ella yang heran kenapa ia memperhatikan gadis itu segera dia duduk sebelah Ella.

"Keknya enak,"

"Enak dong masakan mamah aku."

"Nggak butuh jawaban lo."

Ella tertawa renyah lalu mengambilkan nasi dan lauknya untuk Rades.

Beberapa menit berlalu, mereka menikmati makanannya. Rades melihat sebentar ke Ella yang lahap menyantap hidangannya.

Dia tertawa sebentar sebelum langsung mengarahkan ibu jarinya ke bibir Ella untuk membersihkan bekas nasi yang menempel di bibir gadis itu.

"Hum?" Ella melihat cara makannya acak-acakan pun malu.

"Ma-makasih, Kak."

Rades tidak merespon dan lanjut makan. Tetapi itu membuat hati Ella berdetak tak karuan dari sebelumnya karena perlakuan sebentar yang Rades berikan untuknya.

____
TBC.

25 Mei 2023.

 Free Thought [ REVISI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang