Her.
Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Entah sampai kapan rasa ini berada dibenakku. Aku mencintainya, tapi aku juga tahu ini tentang dosa.
Ellaphyra, gadis cantik dan menggemaskan itu. Aku menyukainya, awalnya aku tidak tahu bahwa cintaku ti...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk berduaan bersama Angel ke club malam lagi. Tapi karena kebetulan aku sendiri tidak ada pekerjaan di rumah dan merasa bosan, jadi aku memutuskan untuk ikut ke club bersama Angel.
Aku siapkan baju sesimpel mungkin karena aku juga tidak akan berkencan dengan seseorang. Memakai parfum sedikit saja.
Singkatnya, aku sudah berada di dalam club dan mencari keberadaan Angel.
Seseorang yang sedang duduk melambaikan tangannya lalu tersenyum ceria saat melihatku berada di tempat ini.
Dengan itu aku segera menghampirinya, ikut duduk disampingnya.
Angel sudah menyiapkan satu gelas lowball, sekarang ia menuangkan whiskey ke dalam gelas tersebut.
"Nih," ia mengambil dua gelas lowball dan satunya disodorkan ke arahku.
Aku mengambilnya dengan malas.
"Gue seneng lo bisa ke sini," dirinya mengangkat gelas itu kemudian ia teguk.
"Iya," jawabku malas.
Aku yang malas ikut meminum minuman yang Angel sediakan untukku. Aku tidak bisa menolak pemberian orang lain karena itu sangat tidak sopan, menurutku.
Angel memberikan satu batang rokok kepadaku, dia tahu apa yang aku rasakan saat ini. Dengan senang hati aku menerima rokok tersebut dan akan menyalakannya.
"Selipin dulu di bibir kamu." ia mengambil rokok yang aku genggam dan menyelipkan ujung rokok ke mulutku.
Lalu ia menyalakan rokok untuk dirinya sendiri.
Dia berikan api yang sudah menyala di rokoknya kepadaku. Aku menghisap rokok agar apinya sampai pada rokokku.
"Mau lebih nggak?" tanya Angel.
Aku mengangguk pelan.
"Tempat ini sedikit berubah ya," ujarku.
"Lo kapan terakhir ke sini?"
"Satu tahun yang lalu."
Aku menggerakkan leherku ke kanan dan kiri. Mencoba menghindari pertanyaan dari Angel karena aku malas sekali untuk sekedar menjawab pertanyaan singkat.
Saat aku sedang melihat ke sembarang arah, aku malahan salah fokus dengan seseorang yang mirip dengan Ella dan Bima.
Tidak mungkin kan Ella pergi ke bar?
Itu terlihat mirip seperti dirinya. Apa itu benar-benar Ella?
Apa yang dia lakukan di sini?
Aku melihat Bima pergi untuk mengambil minuman, tetapi mengapa ada serbuk yang Bima masukan untuk minuman tersebut.
Diriku terus melihat ke arah mereka sampai Bima datang kembali ke Ella dan minuman yang dia beri sesuatu itu diarahkan ke Ella.
Apa itu hanya pemanis?
Mana mungkin minuman ditambah seperti itu, kan?
Aku mencoba untuk berpikiran positif.
"Rades ih,"
Aku menoleh ke Angel.
"Apa, Ngel?"
"Daritadi gue ngomong lo dengerin nggak, sih?"
"Nggak kedengeran, musiknya terlalu keras." aku berbohong kepada Angel. Itu hanya alasan, walau memang benar musik yang di setel keras tetapi aku mampu mendengarkan suara Angel. Aku hanya tidak fokus untuk memperhatikan yang lain.
"Ih dasar," aku melihatnya seperti perempuan yang pura-pura marah kepada pasangannya.
Malas untuk menghiraukan dirinya.
"Gue ke sana dulu ya."
Lantas aku langsung menaruh rokokku di asbak. Tidak peduli angel bicara dan merengek apa.
Setelah berjalan sampai tujuan, aku sudah melihat gelas Ella habis ditangan Ella.
"Kamu ngapain ke tempat gini?"
Ella yang terkejut melihatku berada disini mundur beberapa langkah. Dia kebingungan, antara takut aku mengetahui mengapa dia disini atau hal lainnya.
"Kak Rades?"
"Ayo pulang." aku hendak menarik tangan Ella tetapi ditepis oleh Bima.
"Ada hak apa lo nyuruh pacar gue pulang?"
"Lo gila? Ngapain ngajak Ella ke tempat kayak gini?"
"Dianya juga yang mau," Bima mendekat ke arahku dan membisikkan sesuatu, "karena dia kecintaan sama gue."
Aku yang geram oleh perkataan Bima mengambil paksa minuman yang ia genggam dan menyiram langsung ke kepala Bima.
"Makan tuh cinta!"
Hal itu membuat kebanyakan orang di club memperhatikan kami.
"Kak Rades, apaan sih Kakak?!"
"Kamu ngapain ke sini, Ella?" aku bertanya lagi kepada Ella.
Di sana aku melihat Bima yang kesal karena aku menyiramnya air seketika langsung meninju didekat sudut bibirku sehingga aku oleng ke bawah. Aku merasa nyeri di sana karena Bima.
Aku menyentuh sudut bibirku, ternyata sedikit mengeluarkan darah. Ketika aku hendak membalasnya, Ella mulai merasakan hal-hal aneh.
"Bim," aku menoleh ke Ella.
Ella seperti merasa pusing, ia memegangi ujung sofa dan tangan kirinya menyentuh lehernya.
"El, kamu kenapa?" Bima mencoba untuk menyentuh Ella, dengan itu aku tidak membiarkannya. Aku berdiri dan mendorong Bima untuk menjauh dari Ella.
"Jangan deket-deket sama dia,"
Dia tersenyum sinis ke arahku.
"Kak, aku, Kak..."
"Iya, Ella. Kamu kenapa??"
Aku memegangi kedua pipinya yang merah padam itu.
"Aku, euhh... panas banget semua badan aku, ka–"
Panas? Pikiranku benar, Bima telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman Ella. Aku mengepalkan tangan untuk membuat Bima akan menyesal tetapi tertahan oleh Ella yang semakin kepanasan dan semakin banyak orang juga yang menonton secara gratis pertunjukan yang tidak aku harapkan.
Aku menarik lengan Ella untuk keluar dari club.
Tidak pedulikan orang yang menonton kami.
Setelah berada di luar club, aku lupa sesuatu jika rumahku terlalu jauh dari tempat ini dan jika aku memulangkan Ella ke rumahnya akan terjadi masalah besar karena Ella sedang dalam keadaan kondisi yang tidak baik-baik saja.
Aku mencoba mencari jalan tengah.
Dan akhirnya, aku menemukan semua hotel dekat sini. Aku mencoba membawa Ella ke hotel tetapi Ella sepertinya tidak kuat untuk jalan.
Terpaksa aku menggendongnya sampai ke hotel. Sialnya, saat menanyakan kamar hanya satu kamar dengan ranjang yang hanya satu. Dengan terpaksa lagi aku memilih kamar itu.
Benar-benar malam yang kacau saat ini, tetapi pelayan hotel hanya tersenyum menggoda ke arahku dan Ella. Ada apa dengan mereka semua? Orang-orang hari ini sangat aneh.