04 . Rumah

3.7K 184 0
                                        

Tok tok tok

Seorang wanita berkepala tiga mendengar suara ketukan pintu yang ada di rumahnya. Ia bergegas untuk membukakan pintu tersebut dengan langkahnya yang sedikit berlari.

Ceklekk...

Suara pintu pun terbuka, dia melihat rekannya yang umurnya sepantaran. Lantas dirinya tersenyum ceria.

"Eh, Jeng!!" sapa wanita yang ada di luar rumahnya.

"Eh astaga, apa kabar nih?"

"Aku baik kok, baik."

ia yang mendengar itu tersenyum.

"Ini, aku ajak anak aku juga. Ella, sini sayang." Seorang anak perempuan keluar dari belakang ibunya.

Dengan malu-malu ia tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk memberi salam kepada teman ibunya.

"Cantiknya anak kamu. Ayo, ayo masuk sini,"

Mereka bertiga jalan menuju ruang tamu.

Ella melihat sekeliling isi rumah teman ibunya, ini sangat megah dan bagus. Berapa orang yang tinggal disini? Apa iya hanya seorang saja? Itu tidak mungkin, kan?

"Anak kamu itu mana?" tanya ibu Ella.

"Oh iya lupa, Des, keluar sebentar," jawab teman ibunya lalu nada suaranya sedikit ditinggikan agar anaknya itu terdengar lalu keluar.

"Kira-kira siapa anaknya? Des? Desi, ya?"

Setelah berpikir demikian, Ella mendengar suara langkah kaki di tangga, orang itu akan ke sini, apakah orang itu anaknya?

Ia menundukkan kepalanya sejenak agar tidak malu saat bertemu anak teman ibunya, apakah orang itu cantik atau tampan?

"Kenapa?"

Suaranya, suaranya seperti yang ia kenal. Namun siapa? Ella mendongakkan kepalanya, sedetik kemudian dirinya membatu ditempat sambil memandang apa yang ada di hadapannya.

Benar, itu kakak kelasnya, dia tidak salah lihat. Itu Rades.

Ella melihat Rades dengan penampilan yang sedikit berantakan, rambutnya yang di potong Wolf Cut itu sedikit berantakan, Rades juga memakai kaos berwarna hitam dengan celana kolor pendek berwarna abu-abu polos. Lehernya juga memakai kalung aluminium, wajahnya terlihat malas nan enggan untuk menemui orang.

"Ini Jeng, anakku. Salam dulu gih," titah ibunya.

Rades mengulurkan tangannya untuk salam kepada ibu Ella, ibu Ella pun menerima uluran tangannya.

"Rades, tante,"

Sekarang giliran tangan Rades mengarah ke dirinya. "Haduh, kok jadi gini, sih?"

Ella melihat Rades sepertinya tidak terkejut sama sekali saat melihat dirinya menatap Ella. "Sudahlah," pupus harapan Ella.

Ella pun menerima uluran tangan Rades.

"Rades."

"E–Ella." jawabnya gugup.

Ella terus melihat Rades dengan saksama, napas kakak kelasnya yang satu ini seperti habis lari maraton, sedikit keluar keringat dari dahinya dan terlihat ngos-ngossan.

"Oh ya, mamah sama mamahnya Ella mau keluar sebentar."

Mendengar ucapan dari ibunya Rades, mereka berdua langsung melepaskan jabatan tangannya.

"Ke mana?" tanya Rades spontan.

"Shopping lah!"

Mereka berdua berdiri dan segera meninggalkan Ella dan Rades di tempat.

 Free Thought [ REVISI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang