"Gue bilang udahan nangisnya cuma gara-gara dia." aku berhenti menangis saat mendengar suara itu lagi.
Lagi dan lagi itu Bima. Aku sedikit penasaran mengapa dia selalu ada untukku seperti pahlawan kesiangan.
Dia duduk di sebelahku dan mengusap air mataku, lagi.
Aku melihat tatapannya penuh arti, dia seperti tulus memberikan perhatian ini untukku. Aku memegang pergelangan tangannya sedangkan dia sibuk mengelap air mataku.
"Gue pengen sendiri dulu, Bim." ucapku lirih.
"Lo butuh temen, gue tau itu," aku menatap matanya.
"Gue nggak butuh."
"Lo butuh–" ucapannya menggantung. "Gue."
"Apa?"
"Lo butuh gue."
"Apa yang gue butuhin dari lo?"
"Ketenangan?" ia mulai pura-pura berpikir keras untuk sedikit menghiburku karena aku murung sedaritadi.
Itu membuatku sedikit tersenyum menanggapi lelucon garingnya. Memang aneh, banyak orang yang mendekat ke arahku karena penasaran saja. Mungkin juga Rades begitu?
Bagaimana dengan Bima?
Aku tidak ingin terlalu memikirkan tentang Rades, mengingat namanya saja sudah membuat hatiku kembali terluka.
"Hei," panggilan Bima membuatku tersadar dari lamunan.
"Makasih, Bim."
"Sama-sama." senyuman Bima membuatku terpikirkan Rades kembali.
*****
Dua Minggu kemudian.
"Pagi, Ella."
Aku tersenyum menanggapi ucapan selamat pagi dari Bima.
"Pagi juga, Bima,"
"Sibuk banget, nih?" Bima memperhatikanku yang sedang membereskan buku dan menyimpannya kembali ke dalam tas sekolah.
"Iya nih... Tugas banyak banget."
Bima mengangguk mengerti.
"Kamu lucu deh,"
"Apa?"
"Waktu lagi fokus gini,"
"Ah nggak biasa aja." aku memukul pundak Bima pelan lalu tertawa untuk mencairkan suasana.
"Mau pulang bareng?"
Aku berpikir sejenak, memang aku akan mengeluarkan ongkos jika naik kendaraan umum atau grab. Selagi aku tidak punya kekasih untuk apa melarang orang yang akan mendekat kepadaku?
"Boleh,"
"Beneran boleh nih??"
"Ya, iya–"
"Yesss!" Bima menepuk tangan dengan heboh. Ia juga mencubit pipiku tidak cuma-cuma.
Sebenarnya aku agak risih karena dekat dengan laki-laki tapi entah mengapa dia bisa saja membuatku sedikit tenang.
"Bim apa deh,"
"Apa, cantik?"
Pipiku sedikit memerah karena Bima.
"Apasih Bim! Udah ah, ayo pulang."
Aku menarik lengan Bima untuk keluar dari kelas. Sekalian agar tidak terlalu canggung hanya berdua bersama dirinya.
________
TBC.
26 Juli 2023.
KAMU SEDANG MEMBACA
Free Thought [ REVISI ]
RomansaHer. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Entah sampai kapan rasa ini berada dibenakku. Aku mencintainya, tapi aku juga tahu ini tentang dosa. Ellaphyra, gadis cantik dan menggemaskan itu. Aku menyukainya, awalnya aku tidak tahu bahwa cintaku ti...
![Free Thought [ REVISI ]](https://img.wattpad.com/cover/295263009-64-k756944.jpg)