Seorang perempuan berdiri di balkon rumahnya sedang memandangi seseorang di bawah rumah yang berada di puncak itu.
Ia begitu memperhatikan seseorang itu dengan saksama. Sampai detik per detik saat orang tersebut berjalan dirinya perhatikan dengan begitu teliti.
Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Rades.
Sesekali Rades tersenyum kecil saat orang itu tersenyum kepada perilakunya sendiri. Dia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ada rasa campur aduk yang Rades pikirkan saat ini, pikirannya bercampur menjadi satu seperti tumpukan halaman buku cerita yang sangat rumit itu.
Rades mengehela napasnya, kedua tangannya ia selipkan di saku celananya.
"Rades,"
Dia menoleh ketika seseorang memanggil namanya.
Pembantu rumah tangganya membawakan secangkir teh hangat untuknya. Karena ia kini sedang di Lembang, Bandung.
Hembusan napasnya yang panas itu terlihat seperti kepulan asap saat ia menghempuskan napasnya pelan.
Segera Rades meraih cangkir yang diberikan bibi kepadanya.
"Makasih, Bi."
"Teu kunanaon atuh, Des." sang bibi tersenyum manis ke arah Rades.
Rades membalas senyuman itu setelahnya ia kembali melihat orang yang berada di taman kecil rumahnya.
"Kapan ya, Bi?"
Mendengar itu bibi menepuk pundak Rades dan mengelusnya secara perlahan.
"Nanti juga bakal ada keajaiban, neng. Bibi yakin kok itu." Rades memandang bibi.
Pikirannya kini kembali melayang. Raut wajah sedihnya mampu membuat bibi tersentuh.
"Neng Rades,"
"Iya, Bi?"
"Coba interaksi lagi sama Aden, Neng."
Rades melihat orang itu kembali.
Dia adalah Aden, kakak laki-laki Rades. Satu sisi Rades sangat menyayanginya tetapi satu sisi lain Rades sangat membenci Aden.
Aden itu baginya hanyalah penghalang, penghalang ibunya yang akan memberikan kasih sayang yang tulus kepada dirinya.
Karena Aden penyandang disabilitas mental alias gangguan autisme. Dari situ ibunya lebih mementingkan Aden daripada Rades sendiri.
Padahal Rades juga ingin di sayang sama seperti Aden. Setiap kali Rades ingin meminta itu, ibunya malah menyalahkannya dan membela Aden seperti anak emasnya.
Jika waktu bisa kembali, ia ingin sekali dia yang seperti itu. Agar dapat kasih sayang yang lebih dari Aden sendiri.
Rades meletakkan cangkir teh yang sudah ia minum setengah gelas.
Dia turun ke bawah untuk bertemu dengan Aden yang entah berbicara kepada diri sendiri. Perempuan itu duduk di samping kakak laki-laki satu-satunya itu.
Rasa ingin membunuh kakaknya masih menjadi ciri khas dari seorang Rades, tetapi entah mengapa juga rasa sayang Rades terhadap Aden masih sangat besar daripada rasa dendam nya.
"Hai," Rades menyampingkan duduknya hingga dapat menatap Aden yang tertawa sendiri.
"Satu, dua, satu, dua, lingkaran, lingkaran, satu, dua, satu, dua, lingkaran, lingkaran–" Rades terdiam mendengar kakaknya berbicara sendiri.
Tiba-tiba Aden tertawa dengan sangat keras.
"HAHAHAHA, itu itu kupu kupu, kupu kupu, itu itu..."
Rades menoleh ke arah kupu-kupu yang Aden tunjuk oleh tangannya. Inisiatif Rades pun muncul.
"Kakak mau aku ambil kupu-kupu itu?" tanya Rades penasaran.
"Kupu-kupu, kupu-kupu..."
Rades bingung bagaimana menanggapi kakaknya ini.
"Sebentar ya,"
Rades bangun dari duduknya dan berjalan ke arah kupu-kupu tersebut. Ia perlahan mengejar kupu-kupu tersebut tetapi hewan itu memilih beranjak terbang semakin tinggi ke udara.
Rades gagal mengejar kupu-kupu itu. Bagaimana pun ia tidak dapat terbang untuk mendapatkan kupu-kupu yang ia inginkan untuk kakaknya.
"Susah banget."
Tiba-tiba Aden menjerit dengan keras lalu menangis.
"Kak?" Rades segera menghampiri kakaknya.
Aden memegangi bajunya dengan erat, satu tangannya memukul pukul kepalanya dengan sangat keras sembari menjerit dan menangis meminta kupu-kupunya diambil.
"Kak, tenang Kak..." Rades bingung harus berbuat apa ketika kakaknya mulai teriak seperti ini.
Segera ia turunkan tangan Aden yang terus-menerus memukul kepalanya sendiri.
"Jangan, Kak, jangan!" dengan seluruh kekuatannya ia mencoba untuk memeluk kakaknya agar bisa tenang.
"Hiks, hiks... kupu-kupu," Aden tetap memberontak.
Rades terus memeluk Aden karena tidak bisa apa-apa, ia mencoba untuk menahan air matanya yang akan keluar.
"Kak, jangan gitu," suara Rades mulai lirih.
Entah mengapa Aden dengan perlahan memeluk tubuh Rades, Rades dapat merasakan sentuhan itu walau memang susah karena Aden terus menerus memberontak.
Itu membuat hati Rades sangat sedih sekaligus terluka. Rades memegangi kepala kakaknya sambil mengusap secara pelan.
Akhirnya satu tetesan air mata Rades keluar begitu saja.
Bibi melihat itu semua dari atas balkon rumah. Dapat dilihat semuanya dari matanya, dapat diartinya semua apa yang terjadi sebelum itu.
______
TBC.
14 Februari, 2023.
KAMU SEDANG MEMBACA
Free Thought [ REVISI ]
RomansaHer. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Entah sampai kapan rasa ini berada dibenakku. Aku mencintainya, tapi aku juga tahu ini tentang dosa. Ellaphyra, gadis cantik dan menggemaskan itu. Aku menyukainya, awalnya aku tidak tahu bahwa cintaku ti...
![Free Thought [ REVISI ]](https://img.wattpad.com/cover/295263009-64-k756944.jpg)