"Kamu tidak sarapan tadi pagi?" tanya bu Ani merasa iba kepadaku.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. Hari ini aku terlalu bersemangat untuk Latihan, sehingga bekal nasi goreng yang sudah disiapkan ibu untuk tertinggal. Padahal nasi goreng adalah makanan favouritku, tiada pagi tanpa nasi goreng.
"Salah satu penyebab siswi-siswi pingsan pada saat berkegiatan di sekolah ini, baik pada saat upacara, olahraga maupun belajar adalah tidak sarapan, dan hari ini kegiatanmu padat," kata ibu Ani memberi nasihat. "Ya sudah, ibu tadi belikan kamu makanan, silakan di makan."
"Iya bu, terima kasih bu," ucapku sembari minum dan mengunyah makanan yang sebelumnya sudah awali dengan basmallah.
"Assalamu alaikum...!" ucap salam beberapa kali dari balik pintu.
Serentak kami menjawab, "Wa alaikumussalam."
"Boleh kami masuk bu!" pinta dari suara yang sangat aku kenal. Ya suaranya Dewi, Arika dan Tantri.
"Boleh, silakan masuk," jawab bu Ani. "Oh ya, ibu keluar sebentar. Jaga Andin ya!"
Serentak mereka menjawab, "Siap bu!"
"Loh kok kalian bisa tahu saya disini sich?" tanyaku.
"Si kembar Erna dan Erni tadi yang kasih tahu, Putri kahyangan," kata Dewi sembari memeriksa panas badanku melalui telapak tangannya yang ditempelkan di jidatku.
"Aku tidak apa-apa kok, cuma telat makan saja," kataku menyakinkan. "Frendy tidak tahu kan kalau aku ada disini?"
"Suit... suit... yang mau diperhatikan," goda Arika.
Kucubit pinggangnya sembari berucap, "Bukan seperti itu maksudkku. Kalau sampai dia tahu aku ada disini, bisa kacau urusannya. Kau tahu sendiri kan, bagaimana si Frendy!"
"Benar nich, Frendy tidak boleh tahu kalau kamu disini," sahut Tantri dengan mata memicing dengan senyum liciknya.
"Andin...," Dewi memegang tanganku sembari menatapku lekat-lekat. "Frendy itu tulus padamu, sempat aku cerita denganya sebelum kesini."
Aku mengeryitkan kening tanda tak percaya dengan ucapan Dewi, lalu Dewi melanjutkan kata-katanya, "Saat aku menyakinkannya bahwa Andin itu benar-benar tak menyukai, alergi, bahkan membencinya. Hanya saja Andin tidak mau secara langsung mengungkapkan secara langsung, karena takut menyakiti hatinya. Tapi kalian tahu apa jawabannya?"
Kami menggeleng tanda tak paham, Dewi melanjutkan, "Dia berkata, 'Aku takkan menyerah hanya karna Andini membenciku, dan takkan berhenti berdoa untuknya. Tuhan melihat usaha hambaNya, sejauh mata memandang sejauh itupulah usaha yang akan aku lakukan untuk mendapatkan hati dan senyuman Andini."
"Nice try Dewi," Arika mengusap-usap pundaknya Dewi. "Setidaknya kamu sudah mewakili perasaannya putri Kahyangan selama ini."
"Kita tidak tahu kapan Frendy akan menyerah," Ucap Tantri menarik hidungku. Entah mengapa mereka selalu tertarik untuk menarik hidung ataupun pipiku. Aku heran, memangnya mukaku semenggemaskan itu.
"Jadi putri Kahyangan harap bersabar ya, Allah tahu yang terbaik untukmu kok...!" melanjutkan kalimatnya yang sempat dia penggal.
"Lah kok aku jadi tertekan begini ya," ucapku menghela nafas. "Guy's kita kan masih pelajar, harusnya fokus belajar, bukan asmara terus yang kita bahas."
"Setuju, aku setuju sekali dengan kalimat Putri Kahyangan yang tadi," Sahut Arika sembari mencolek pipiku yang merah. Kata orang sich, kalau aku sedang malu atau tertekan mukaku memerah seperti tomat yang matang.
"Tapi Guy's, memang sich frendy itu orangnya konyol dan urakan, tapi aku salut dengannya," Ujar Dewi dengan mata berbinar-binar. "Asal kalian tahu, Frendy itu pekerja keras dan pantang menyerah. Di kota ini, Dia hanya tinggal berdua dengan ibunya tanpa sanak saudara. Dia tak mau melihat ibunya sedih ataupun tak mau melihat ibunya bekerja. Jadi semua biaya sekolah, dan keluarganya dia yang tanggung.
"Masa sich?" tanyaku penasaran.
"Ciyeee yang penasaran," Arika mencubit lagi pipiku.
"Terusss darimana kamu tahu begitu banyak tentang Frendy...?" tanya Tantri menyeringai. sepertinya Tantri penasaran seperti diriku.
"Ya, Dia kan teman SMP-ku dan dulu sebelum aku pindah di rumahku yang sekarang, dulu kita itu tetanggaan. Jadi setiap malam itu dia tidak pernah ada di rumah karena kerja cari uang, kadang sebagai penjual di pasar malam, kadang jadi kuli angkat pasir dan harus jadi kuli angkut di pasar subuh." Panjang lebar Dewi menjelaskan keadaan Frendy.
Kami tertegun mendengar cerita Dewi tentang Frendy dan ada rasa sesal di hati. Ya Allah jadi selama ini aku telah salah memandang rendah Frendy Frenzy remaja yang aneh, konyol, tak tahu diri, padahal dia seorang remaja tangguh dengan kehidupan yang keras.
"Assalamu alaikum," terdengar suara bu Ani dari luar yang masuk ke ruangan.
Serentak kami menjawab, "Wa alaikumussalam."
"Loh Andin, nasinya kok belum habis! Kalian juga, kenapa masih disini, ini kan sudah jam masuk loh." teguran bu Ani membubar bariskan percakapan serius kami tentang Frendy Frenzy. Mereka bertiga buru-buru pamit dan keluar dari ruang Kesehatan. Takutnya nanti tertangkap basah oleh pak Aslam, dan harus masuk rungan BK.
***
Hari ini, aku tidak pulang sore seperti biasa karena bu Ani menelpon ibu untuk mengabarkan keadaanku, jadinya bisa pulang lebih awal. Padahal paginya waktu akan berangkat sekolah, hati ini sangat bersemangat dan berbunga-bunga karena akan Latihan persiapan lomba. Sebenarnya ada niat lain selain itu, yaitu ketemu dengan pak Sifada. Sejenak aku berpikir, mungkinkah kejadian ini merupakan teguran dari Allah, agar aku memperbaiki niat ketika akan melakukan sesuatu.
"Ehmmm...!" ibu berdehem beberapa kali membuat lamunanku buyar. "Sepertinya anak ibu berpikir keras, seperti seorang presiden yang sedang memikirkan rakyatnya."
"Ibu bisa saja," aku tersenyum renyah.
Ibu mencubit hidungku sembari berujar, "Begitu dong, senyumanmu itu yang selalu membuat ayah dan ibu semangat dalam menjalani hari-hari."
"Oo iya Andin, bagaimana kabarnya pak Sifadamu?" Kali ini ibu tersenyum menyungging.
"Dek" berdebar hatiku, pertanyaan macam apa itu. Entah mengapa akhir-akhir ini selalu saja ibu bertanya tentang pak Sifada. Apa niatnya sudah bulat mau menjodohkan anak semata wayangnya ini dengan beliau.
"Ibu tahu nak, apa yang membuatmu semangat pergi sekolah pagi ini," tangan kanan ibu mengusap kerudungku, sementara tangan kirinya masih konstan memegang setir. "Sampai-sampai nasi goreng yang sudah kamu buat dan packing rapi kelupaan."
Setiap ibu selalu paham dengan keadaan anak-anaknya, sepertinya ibuku juga begitu. Karena malu dan sudah ketahuan, aku tidak serta merta harus mengakuinya. Dengan keadaan agak tertekan, kujawab sesantai mungkin, "Pak Sifada ok, hanya aku yang tidak ok, karena hari ini niatku ke sekolah sudah salah bu. Mungkin ini teguran langsung dari Allah SWT, insyaAllah esok akan kuperbaiki niatku ke sekolah lillahi ta'ala belajar dan mencari ilmu bukan yang lain."
Mendengar ucapanku, tiba-tiba ibu menepikan dan menghentikan mobilnya. Kedua tangannya memegang kepala dan mencium keningku, lalu berucap, "anak ibu sudah dewasa dan bijak!"
"Ibu bangga denganmu nak," ucapnya lagi sembari memelukku. Ucapan dan hangatnya pelukan ibu, membuatku terhenyut dalam pusaran rasa Bahagia. Aku berharap rasa ini akan terus ada di dalam keluarga kecil kami. Semoga...! []

KAMU SEDANG MEMBACA
Salahkah Aku Mencintaimu (Guruku)
Roman pour AdolescentsPenampakan sesosok laki laki tinggi, kurus, sederhana tapi menawan membuat Andini salah tingkah. Pertemuan itu membuatnya berpikir keras untuk menghilangkan bayangan laki-laki itu....!