1 bulan kemudian
Hari ini adalah hari pertamaku sekolah setelah sekian lama aku koma dan terbaring di rumah sakit. Rasanya senang dan bebas, seperti burung yang keluar dari sangkar emas. Ayah dan ibu menyempatkan diri untuk mengantarku ke sekolah, ehmm sesuatu hal yang sangat amazing buatku dan hal inilah yang sangat aku inginkan. Sudah lama aku tidak sesenang ini, karena sejak pertama sekolah. Kedua orangtuaku tak pernah ada waktu untukku bahkan hanya untuk mengantarku ke sekolah pun.
Seperti biasa, keramaian sekolah yang selalu aku rindukan kini hadirlah di depanku. Saat keluar dari mobil, ayah dan ibu tetap mendampingiku sampai ke kantor kepala Madrasah. Sekedar basa-basi sejenak, setelah itu aku langsung menuju kelas yang sebelumnya berpamitan dengan ayah, ibu dan kepala Madrasah.
Hampir di setiap jalan, siswa dan siswi yang mengenalku langsung menyapa. Ketika sampai di depan kelas aku merasa heran. Kenapa sepi sekali ya? Tertutup lagi pintunya. Pas kuketuk pun tak ada suara. Karena penasaran langsung saja kudorong pintu kelas. Dan apa yang terjadi? Aku terkejut setengah hidup.
"Selamat datang!" Ucap serentak semua teman-teman kelasku dan semua pengurus OSIS.
Namun tiba-tiba sebuah ledakan balon gas membuatku kembali mengingat kembali malam kejadian itu. Kututup telingaku, duduk tersimpuh, sembari berteriak minta tolong.
"Hei Andin tenang.. tenang Andini," Kata Dewi berusaha menenangkanku sembari mendekapku.
Melihat kejadian itu Frendy langsung marah, dan mendorong Jabar karena dialah yang dengan sengaja meledakkan balon itu. Tidak terima diperlakukan seperti itu, Jabar berdiri lalu balik memukul. Namun pukulan itu sempat ditangkis oleh Frendy. Sebelum semuanya bertambah parah. Bahri, ketua OSIS melerai, "Stop.. kalian seperti anak kecil saja!" Bentaknya.
"Sepertinya Andini belum siap menghadapi ini semua," katanya lagi. "Kita sebagai orang terdekatnya harusnya dapat memahami itu, bukan malah membuatnya semakin takut. Bahkan membuat keadaan semakin buruk."
Dengan ditemani oleh Dewi, Arika dan Tantri aku di bawa ke ruang UKS.
***
Setelah lelah beristirahat, aku memutuskan untuk masuk kelas. Ya walaupun Dewi dan yang lainnya mencegahku.
"Bosan tau tidur terus di kasur," ketusku. "Hampir Empat bulan di rumah sakit sudah cukup membuatku, ditambah lagi hari ini."
"Tapi kan, dunia masih belum siap menerima kehadiranmu Putri Kahyangan!" Kata Tantri menggodaku.
"Iya Putri, apa yang dikatakan Putri Kecebong benar," Sahut Arika sembari tertawa mengejek. Aku dan Dewi ikut tertawa.
"Iiih apaan sich kamu Putri Lele," Tantri menyikut Arika sampai kepalanya terbentur tembok ruang UKS.
"Aduuh du duuhh...!" Arika memegangi kepalanya.
"Sorry alias maafkan aku Putri Lele!" Tantri mengusap-usap kepala Arika dan berkomat-kamit seperti mbah dukun, lalu meniup ubun-ubunnya beberapa kali.
Ehmmm... sakit perutku menertawai kedua sahabatku itu. Seandainya tidak ada mereka, mungkin hidupku terasa hampa seperti lagunya Ungu yang berjudul "Hampa."
"Ayo kita ke kelas, bosan disini terus!" Ajakku kepada mereka.
"Hayooo putri Lele, Putri Kahyangan mengajak tuh," sahut Tantri.
"Hayuuu...!"
Saat berjalan menuju kelas, tiba-tiba bola melayang ke arahku. Awalnya aku tak menyadarinya, namun Arika dan Dewi berteriak, "Andini... Awasssss...!!!"
Saat aku menoleh, sebuah bola dengan kecepatan penuh menghampiriku. Aku tidak tahu harus berbuat apa? Aku hanya bisa menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
Setelah beberapa detik.
Tak terjadi apapun, tidak rasa sakit ataupun pusing di kepala seperti kejadian malam itu.
"Kamu tidak apa-apa?" Kata suara laki-laki.
"Hey... kamu tidak apa-apa kan?" Tanyanya lagi. Sepertinya aku mengenal suara lembut laki-laki ini, tapi dimana ya? Saat kubuka mataku, nampak wajah laki-laki muda dengan senyum sederhana namun menawan.
Suara Frendy Felix secara tiba-tiba membuatku terkejut. Ia berkata sambil terengah-engah, "Kau tidak apa-apa kan Putri Kahyangan?"
Laki-laki itu langsung berkomentar, "Oh jadi namamu Putri Kahyangan ya? Nama yang cantik."
Wajahku langsung memerah, telingaku panas seperti berdengung.
"Upsss...!" Frendy menutup mulutnya, "Maksudku Andini. Putri Kahyangan itu panggilan sayangku kepadanya."
Dari belakang mereka bertiga langsung menggodaku.
"Ciye.. ciye.. ciye..!"
"Satu putri Kahyangan, yang satu raja bajak laut," ujar Tantri.
"Kok raja bajak laut sich? Kenapa bukan Pangeran Matahari atau Pengeran langit," Frendy mencoba memprotes.
"Lebih keren kedengerannya kalau Raja Bajak Laut, dibanding Pangeran Matahari ataupun Pangeran Langit," ujar Arika.
"Betul tuh..! Saya sepakat dengan mereka berdua," Dewi juga mulai ikut-ikutan.
"100% saya juga sependapat dengan mereka berdua, apa itu Pangeran Matahari dan Pangeran Langit? Kedengarannya manja sekali," tambah Tantri.
Frendy manggut-manggut setuju, dan laki-laki dengan seragam batiknya dari tadi hanya senyam-senyum mendengar percakapan mereka bertiga. Sementara aku malu setengah mati, ingin rasanya aku lari dari kenyataan ini. Ya Allah hilangkanlah sejenak dari tempat ini, atau paling tidak cairkanlah suasana kali ini.
Terdengar deheman beberapa kali. Saat kami sadar ternyata dari tadi pak Aslam, guru BK senior mendengar percakapan kami. "Oh my god tolonglah aku," Kataku dalam hati.
"Saya pikir ini jam pelajaran, mengapa siswa jam pelajaran malah ngobrol dengan asyiknya," kata pak Aslam.
Kami menunduk mendengar kata-kata pak Aslam yang menggelegar. Pak Aslam termasuk guru yang disegani oleh para guru, dan ditakuti oleh para siswa.
"Frendy siapa guru olahragamu nak?" Tanya pak Aslam.
"Iya pak.. pak.. pak Kisman," jawab Frendy setengah gugup. "Pak Kisman hari ini tidak masuk karena istrinya melahirkan, jadi kami olahraga sendiri."
"Kalau begitu apa yang kau tunggu? Silakan get out dari tempat ini," kata pak Aslam. Setelah salaman dan mencium tangan pak Aslam, Frendy langsung berlari menuju lapangan.
"Andini, Dewi, Arika dan Tantri siapa yang mengajar di kelas kalian sekarang?" Tanya pak Kisman.
"Kalau dikelasku ibu Dina, tadi sudah selesai ulangan," jawab Tantri sekenaknya.
"Kalau kami Pak Sulaksono, tapi karena Andini tadi pagi kurang sehat. Maka kami bawa ke UKS," ujar Dewi. "Tapi alhamdulillah sekarang sudah membaik, dan rencana kami mau ke kelas pak!
"Benar begitu Andini?" Mata pak Aslam menyorot tajam. Aku hanya bisa mengangguk lemas. "Kalau begitu silakan masuk kelas."
"Iya pak!" Jawab kami serentak.
Sembari berjalan, sesekali aku menengok ke belakang. Terjadi pembicaraan santai antara pak Aslam dan laki-laki muda itu sambil masih menentang bola. Sepertinya Frendi lupa meminta bolanya karena saking takutnya kepada pak Aslam.[]
☺Hey guy's sahabat muda.!😊
Bagaimana cerita Andini dan teman-temanya menarik bukan!
Mau tahu cerita selanjutnya? Kalau mau tahu setelah membaca jangan lupa vote, comment dan share ya!
🙏🙏Terima kasih🙏🙏

KAMU SEDANG MEMBACA
Salahkah Aku Mencintaimu (Guruku)
Teen FictionPenampakan sesosok laki laki tinggi, kurus, sederhana tapi menawan membuat Andini salah tingkah. Pertemuan itu membuatnya berpikir keras untuk menghilangkan bayangan laki-laki itu....!