Bàgian IV Pak Sifada Namanya

142 18 0
                                    

Usai pelajaran Dewi dan Arika mengajakku ke kantin samping kelas. Sebenarnya aku malas makan, tapi karena mereka sedikit memaksa aku jadi ikut.

"Kamu mau pesan apa Din?" Tanya Arika, "Hari ini aku yang traktir, karena ini hari pertamamu masuk sekolah."

"Tidak bisa, aku yang harus mentraktir Dini," sahut Tantri baru datang dari kelas.

"Assalamu alaikum kak Andini?" Sapa si kembar Erna-Erni. Belum sempat kujawab, mereka berdua langsung memelukku. Kubalas saja salamnya dalam hati sembari memeluk mereka.

Erna-Erni sudah menganggapku sebagai kakak sendiri. Dulu saya yang membantu mereka masuk di Madrasah ini, dari hal kecil seperti itu membuat kami semakin dekat.

"Eh.. masya Allah nak Andini sudah sembuh ya?" Sapa bu Jum pemilik kantin.

"Alhamdulillah bu, ini berkat doa kita semua sehingga aku dapat melewati masa-masa kritis," jawab dengan hormat.

"Alhamdulillah, ibu dengar katanya nak Andini diserang makhluk halus ya?" Tanya bu Jum sembari mendekat kepadaku. Padahal tadinya bu Jum mau mengisi piring bersih itu, dengan makanan nasi kuning pesanan siswa lain. Tapi karena penasaran beliau mendekat kepadaku.

Kini semua mata yang ada di kantin ini tertuju padaku. Aku diam seribu bahasa, tak tahu harus menjawab apa. Mengingatnya saja sudah membuatku akan mati saja, apalagi harus menceritakan kejadian malam itu kepada mereka. Sepertinya Dewi mengerti keadaanku, akan tetapi dia tak kunjung bicara. Sampai pada akhirnya muncul laki-laki berbaju batik mengucap salam, "Assalamu alaikum..!"

Serentak semua menjawab salamnya.

Bu Jum langsung menghampirinya, "Eh pak ganteng mau pesan apa?"

Saat aku lihat ke arahnya, lagi-lagi dia tersenyum dengan senyum yang sama pertama ketemu lalu berkata, "Aku hari mau mentraktir semua adek-adek yang ada disini!"

Keadaan kantin menjadi rame dan seru karena ucapannya yang barusan.

"Ayo adek-adek silakan pesan dan makan yang banyak ya," ujarnya bersemangat.

"Siap pak!" Serentak semua menjawab.

Dewi dan yang lainnya tak mau ketinggalan memesan makanan. Bu Jum sampai kuwalahan melayani, ya walaupun sudah ada dua asistennya.

Tiba-tiba dia mendekat kemudian bertanya kepadaku, "Kamu tidak pesan dek?"

"Dek..!" Suara lembut itu seperti pernah aku dengar, tapi dimana ya? Kuputar 180 derajat pikiranku untuk mengingatnya, namun tidak jua dapat mengingatnya.

"Hey... jangan melamun dong! Siang siang begini melamun," katanya mengagetkanku.

"Kamu tidak mau pesan makanan dek?" Dia mengulangi pertanyaannya.

"Din ayo pesan, mumpung anugerah ni!" Kata Tantri.

"Anugerah apaan sich?" Tanyaku tak mengerti.

"Anu gerahtisss...!" Jawab mereka serentak.

"Bapaaakkk Sifada!" Terdengar suara dari luar kantin memanggil.

Oh pak Sifada ya namanya. Guru seperti dia mau maunya makan di kantin siswa. Biasanya para guru tidak mau makan di kantin siswa, apalagi sampai mentraktir segala. Guru unik plus aneh.

"Iya dek, ada apa?" Kata pak Alfin ringan.

Oh my god ternyata kak Rara and the geng yang datang, sang mantan ketua OSIS yang pernah di demo gara-gara dituduh korupsi. Kak Rara mendekat dan berkata, "Mau dong juga ditraktir pak, masa yang lainnya ditraktir kami tidak di traktir."

Salahkah Aku Mencintaimu (Guruku)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang