"Malam Ini Telah Basah, Setiap Tanah Dan Pikiran. Basah Karena Rintik Hujan, Dan Basah Karena Rindu Yang Menghujam. Namun Ironisnya, Hujan Telah Redah, Namun Rindu Tak Kunjung Merendah." _Jupiter
****
Langit yang gelap, kali ini tidak ada bintang, dan bulan yang samar-samar tertutup oleh awan hitam, pertanda sebentar lagi akan turung hujan, seorang gadis yang berdiri menuggu ojol di sebuah warung depan jalan, membelalakkan matanya, menatap sebuah motor sport putih yang terparkir di depannya.
"Ngapain keluar malam sendirian?" tanya cowok itu, menatap menelisik gadis di depannya.
"Bukan urusan lo!" balas gadis itu ketus.
"Urusan gue," jawab Jupiter santai.
"Ngapain lo disini?" tanya balik Fania.
"Gue liat lo disini, makanya gue samperin, bentar lagi mau hujan," jawab Jupiter.
"Terus?" ucap Fania, menatap ke arah jalanan mencari kendaraan agar cepat-cepat pergi dari sini.
"Dan, lo yang berubah," balasnya membuat Fania menunduk.
"Perasaan gue masi sama, lucu ya, gue ibaratkan hujan malam ini," ucapnya terkekeh pelan sambil menatap kedepan.
"Malam ini telah basah, setiap tanah dan pikiran. Basah karena rintik hujan, dan basah karena rindu yang menghujam. Namun ironisnya, hujan telah redah, namun rindu tak kunjung merendah," ucap Jupiter lagi sambil menatap miris gadis di sampingnya.
Fania menegang, menelaah setiap ucapan yang keluar dari cowok di sampingnya, merasa bersalah, karena memutus hubungan mereka tanpa alasan.
"Hujan sudah redah, ayo," ucap Jupiter dan berjalan dahulu di ikuti oleh Fania di belakangnya, menyalakan mesin motor dan menunggu cewek itu naik.