42. Rindu yang bersuara

189 5 0
                                        

Sudah seminggu berlalu dan orang-orang tetap melakukan aktivitasnya masing-masing sama halnya dengan gadis itu. Arumi kini ia berada di kelas dengan kejenuhannya bukan karna apa tetapi dia merasa ada yang kurang, akhir-akhir ini dia terus memikirkan Rafandra yang tidak pernah masuk sekolah dan tidak ada kabar sama Skali dari teman-temannya, ingin rasanya Arumi menanyakan kabar cowok itu namun ia merasa gengsi. Kini Arumi bersama kedua temannya sedang makan di kantin sekolah.

"Halo nona Ambon." sapa Zayden menghampiri mereka dan duduk di samping Arumi.

"Hai Zayden." balas Arumi.

"Kok mukanya gak ada semangat, kenapa?" tanya Zayden.

"Dih, modus Lo." timpal Fara.

"Gak ada yang modus Ra, mau ya? Di modusin sama gue?" kekeh Zayden.

"Najis!" tekan Fara.

"Ngaku aja Lo, gengsi di pelihara." ucap Zayden.

"Dih, pret lo." kesal Fara.

Mendengarnya Zayden hanya acuh, dia menatap gadis di sampingnya lalu berdiri di depan gadis itu.

"Nona Ambon, gue ingin persembahan puisi agar nona Ambon semangat lagi. ucap Zayden bersiap untuk membacakan sebuah puisi.

Liam, Jupiter dan Bambam mengambil tempat untuk duduk sambil menatap Zayden yang akan membacakan sebuah puisi, semua orang yang berada di kantin mengalihkan atensi mereka terhadap cowok itu mereka tidak sabar menunggunya membacakan sebuah puisi.

Jerawat oooh jerawat

Kau tumbuh subur menutupi jidat

Kau buat mukaku terasa pekat

Jika kupijat mukaku langsung pucat

Jerawat oooh jerawat

Karena kau hari-hariku terasa berat

Karena kau mukaku seperti tak terawat

Jika ku berkaca ingin rasanya cermin ku sikat

Jerawat oooh jerawat

Kau terus bertambah seolah menjerat

Kau bisa menyebabkan aku berbuat nekat

Jika kubiarkan mukaku pasti sekarat

Jerawat oooh jerawat

Kini tampangku semakin berkarat

Kupencet satu timbul empat

Kupencet di jidat timbul di pantat

Dasar jerawat!!

Semua orang tertawa terbahak mendengar setiap bait dari puisi Zayden, terkecuali Arumi yang hanya tersenyum dan terkekeh pelan. Disini ramai, tapi rasanya sunyi jika tidak ada dia.

"Kurang lucu ya, Arum? gue masi punya lagi ni." ucap Zayden.

"Lucu banget kok, cukup satu aja, jangan banyak-banyak nanti kebanyakan ketawa gue." senyum Arumi seperti dipaksakan.

"Lo harus banyakin ketawa, biar dia tau kalau Lo itu bahagia." jawab Zayden membuat Arumi mengerutkan keningnya.

"Siapa?" tanya Arumi.

"Bukan apa-apa." jawab Zayden.

"Den? Lo pengen ngomong sesuatu?" tanya Arumi.

"Iya." balas Zayden.

"Apa?" tanya Arumi menatap cowok itu.

"Lo harus tersenyum dan tertawa, Lo harus bahagia kalau bukan untuk diri Lo setidaknya untuk kita, karena kebahagiaan Lo adalah tanggung jawab kita." ucap Zayden membuat Arumi sangat terharu.

CLEOSANA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang