"Mencintai adalah hal yang wajar, memaksakan sebuah hati adalah hal yang gak wajar."_Fara
****
Arumi berjalan menyusuri koridor sekolah sambil memainkan handphone-nya, namun gadis itu bingung ketika sampai dikelasnya, tidak ada satupun manusia di dalamnya.
"Kenapa kelasnya kosong ya?" monolognya.
Arumi yang bingung dan langsung keluar kelas dan menatap kelas yang bersebelahan dengan kelasnya, dan ternyata juga sunyi. Arumi pun menatap sekelilingnya dan mendapati banyak siswa yang berjalan ke arah belakang.
Saat ingin melangkah tiba-tiba handphone-nya berdering. Arumi pun menyambungkan panggilannya.
"Lo di mana?" tanya seseorang saat panggilan tersambung.
"Gue di kelas," jawab Arumi.
"Ngapain lo disitu? mending lo buruan ke sini sekolah kita lagi tanding sama sekolah PRIMA," ucap Fara di seberang telepon.
"Gue kesana," ucap Arumi dan langsung mematikan handphone-nya, kemudian berjalan menyusuri koridor menuju lapangan basket.
****
Tepat hari ini, pertandingan basket antar sekolah di mulai. Pertandingan yang di adakan dalam rangka silaturahmi sekaligus menambah relasi antara sekolah yang di adakan setahun sekali. Suara ricuh dengan banyak siswa-siswi yang bersorak riang di tribun lapangan basket, memberikan support kepada teman-temannya yang bermain untuk sekolah mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gimana?" tanya Fania.
"Dia udah kesini," jawab Fara dan di balas anggukan kepala oleh Fania.
"OMG! kak Rafandra ganteng banget kalu main basket," teriak Salsa histeris.
"Dem, Dema! Lo dukung siapa?" teriak Chika yang melihat Dema yang bengong menatap kedepan dengan serius.
"Ha, kenapa?" tanya Dema yang masi bingung.
"Makanya jangan bengong, Lo dukung siapa?" ucap Chika malas.
"Bambam donk, dia lucu banget, gemes gue liatnya," jawab Dema tersenyum menatap Bambam.
"Kak Rafa, semangat," teriak Salsa yang melihat Rafandra sedang mendribble bola.
"Semangat kak Liam!" teriak Chika heboh.
"Aaaa lucu banget, aku padamu Bambam," teriak Dema tatkala hebohnya.
Fania dan Fara yang melihat ke arah samping ketiga nenek lampir itu pun mendengus kesal, melihat ketiganya yang berteriak kerasukan kek setan, membuat keduanya malas. Mereka bertiga emang duduk bersamaan tapi sedikit berjarak oleh beberapa kursi tribun.