35. Bangkit dari kesedihan

139 5 0
                                        

Seorang gadis terduduk di lantai kamar dengan kondisi yang berantakan, mata bengkak karena tangis, rambut acak-acakan, terlihat begitu menyedihkan dengan pandangan yang kosong, sungguh siapapun yang melihatnya merasa miris

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seorang gadis terduduk di lantai kamar dengan kondisi yang berantakan, mata bengkak karena tangis, rambut acak-acakan, terlihat begitu menyedihkan dengan pandangan yang kosong, sungguh siapapun yang melihatnya merasa miris.

Seorang wanita paruh baya masuk membawa makanan menatap miris ke arah gadis itu ia lalu menaruh makanan tersebut di meja dan mendekat ke gadis itu lalu memeluknya seketika tangis gadis itu pecah.

"Neng yang sabar ya? Allah itu tau neng itu kuat makanya di beri ujian sebesar ini." ucap bi Sila berat.

"Arum gak sekuat itu bi."

"Neng harus bangkit."

"Bangkit setelah itu jatuh lagi."

Bi Sila tidak lagi bicara, dia hanya terus memeluk gadis itu dengan erat. Arumi melepas pelukan bi Sila kemudian menatapnya.

"Bi? Kalau Rafa sama teman-teman Arumi datang suruh pergi aja ya? Arumi gak ingin di ganggu dulu." ucapnya.

"Yaudah, tapi? kamu harus makan dulu udah seharian belum makan." ucap bi Sila.

"Hm." balas Arumi cepat.

"Yaudah bibi ke dapur dulu lanjut masak kesukaan kamu buat ntar malam." ucap bi Sila tersenyum mengusap kepalanya.

"Iya bi."

Bi Sila tersenyum lalu bangkit dan berjalan keluar. Bi Sila kaget ketika menutup pintu dan berbalik sudah ada Rafandra dan teman-temannya.

"Eh kalian" senyum bi Sila.

"Bi? Nona Ambon-nya ada?" tanya Bambam ramah.

"Maaf ya, tapi neng Arumi gak mau di ganggu." ucap bi Sila.

"Saya mau ketemu Cleo." balas Rafandra.

"Maaf den Rafa, tapi Arumi sendiri yang bilang tidak ingin di ganggu termasuk Aden." ucap bi Sila perjelas.

Bahu cowok itu merosot tidak semangat.

"Udah Ndra, kasi dia waktu dulu." ucap Jupiter menepuk pundaknya.

"Bi saya hanya lihat saja, saya tidak akan mengganggunya." ucap Rafandra dengan nada memohon.

"Maaf tapi tidak bisa." balas bi Sila.

"Udah Ndra, ayo kita pergi." ucap Bambam.

"Bi kalau kita yang ketemu Arumi bisa kan?" tanya Fara memastikan.

"Maaf neng tidak bisa, kasi Arumi waktu ya?" jawab bi Sila.

"Yaudah bi, titip salam ya buat Arum, bilangin jangan lama-lama sedihnya, nanti kita khawatir." ucap Fara.

"Iya, Pasti bibi sampaikan." balas bi Sila.

"Bi tolong kasi ke Cleo." ucap Rafandra memberikan sekotak bekal berisi nasi goreng.

CLEOSANA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang