54. Semesta

191 8 0
                                        

"Assalamualaikum, Pa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Assalamualaikum, Pa. Gimana kabarnya?" ucap Arumi parau.

"Pa? Kalau ketemu mama, tolong kasi tau bahwa putrinya sedang dilanda rindu, Arum rindu mama dengan sangat, rindu papa juga tapi gak terlalu soalnya papa nyakitin," ucapnya terkekeh miris, dia menggigit bibir bawahnya berusaha menahan sesuatu yang keluar dari matanya. "Tapi sayangnya Arum sama mama, papa itu setara kok."

"Pa? Kata orang cinta pertama anak perempuan itu ayahnya, tapi Arum dapatkan itu dari Rafa, pa."

"Pa, ma, hidup seorang anak itu gak akan baik-baik saja, jika tidak ada kehadiran kedua orang tua di sampingnya, tidak punya arah, hanya melangkah sambil meraba."

"Semesta? Jika saja reinkarnasi itu nyata, tolonglah lahirkan kembali kedua orang tuaku dengan versi yang yang menyayangiku. Kumohon," ucap Arumi dengan nada memohon.

"Gue rela kehilangan yang lain asal jangan orang tua gue, segalanya gak ada artinya tanpa papa sama mama."

Arumi yang terduduk lemas di samping makam ayahnya, menatap nisan itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, kemudian menghapus air matanya dan berusaha menetralkan perasaannya dan menguatkan dirinya. Kemudian, dia menutup matanya lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan khusyuk di dalam hati, air mata yang jatuh membasahi pipinya, sungguh dia terlihat sangat miris.

****

Rafandra bersama teman-temannya tengah asik bermain basket saat ia berhasil memasukkan bolanya ia berjalan keluar lapangan kemudian meneguk sebotol minuman.

"Ndra? Gak main lagi?" teriak Dirga.

"Kalian lanjut aja," balas Rafandra.

Rafandra pun mengambil handphone-nya yang terletak di samping Zayden yang sedang melap keringatnya sambil meneguk minuman. Dia pun mengecek handphone-nya, dia juga mengirim pesan kepada seseorang.

"Capek banget gue," monolog Zayden.

"Lemah Lo," ucap Daren yang datang tiba-tiba dan meneguk minumannya.

"Itu minuman gue bangsat!" sarkas Zayden.

"Yaelah pelit amat, barang siapa yang suka berbagi maka Allah akan senang kepadanya. Hadis riwayat Daren," ucap Daren.

"Sejak kapan lu punya hadis? sakit jiwa ya Lo," sahut Zayden.

"Eh, Rafandra kenapa ya?" ucap Daren yang menatap Rafandra yang terlihat gelisah.

Zayden ikut menatap ke arah Rafandra yang sibuk dengan handphone-nya.

"Kenapa, Ndra?" tanya Zayden.

"Gakpapa," jawab Rafandra yang masih fokus dengan handphone-nya.

"Tapi Lo ka_" ucap Zayden terhenti.

"Gue cabut duluan," ucap Rafandra dan langsung bergegas pergi.

"Ndra? Mau kemana?" teriak Zayden namun tidak ada balasan.

CLEOSANA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang