Seperti biasa di mana Gilang dan Alvia berada, di situ lah kehebohan akan terjadi. Mereka berdua benar-benar terlambat tiba di sekolah. Semua murid SMA Harapan Cerah sudah berbaris rapi di lapangan siap mengikuti upacara, sementara upacara sendiri sudah berlangsung selama lima belas menit sebelum Gilang dan Alvia datang.
Laki-laki itu menyuruh Alvia turun dari motor kemudian diikuti Gilang. Sebelumnya, ia sudah mematikan mesin motornya terlebih dahulu. Keduanya berjalan bersama dengan Gilang menuntun motornya memasuki area sekolah.
Seorang guru dan beberapa anggota OSIS sudah berdiri tegak tak jauh dari pagar menunggu siapa saja yang datang.
Kedatangan Gilang dan Alvia secara bersamaan itu pula membuat hampir beberapa murid mencuri-curi pandang ke samping. Secara barusan murid terlambat berada di samping turut mengikuti upacara.
"Lang! Gimana ini?" gumam Alvia menarik samping seragam Gilang yang sudah rapi dan kini menjadi sedikit berantakan.
"Lo apa-apaan, sih, Vi?" bisik Gilang kembali merapikan baju seragamnya.
"Yang di belakang!"
Mampus sudah jika Pak Gunawan dalam mode galak. Semua yang ada di dalam barisan terlambat semakin diam tak berkutik.
"Jangan ngobrol sendiri itu! Sudah terlambat, malah ngobrol sendiri!" tegur Pak Gunawan.
Setelah menegur, Pak Gunawan kembali menghadap ke depan menyimak upacara. Barisan terlambat yang berada di belakang pun mengikuti upacara.
Hampir tiga puluh menit sudah upacara berlangsung. Kini, tinggal penutupan upacara dan murid-murid bisa bernapas lega. Terkecuali, oleh para murid yang berada di barisan telat, sedari tadi mereka terdiam merasakan teriknya matahari yang menyengat.
"Upacara selesai. Pasukan dibubarkan."
Selesai sudah upacara hari ini. Sekarang, fokus Pak Gunawan kembali teralih ke barisan belakang dimana di situ barisan para siswa yang terlambat berkumpul.
"Masih saja salah satu dari kalian ada yang terlambat!" Pak Gunawan berujar dengan berkacak pinggang menatap galak barisan terlambat.
"Gilang! Alvia! Kalian kenapa terlambat?" marah Pak Gunawan melihat murid yang seharusnya menjadi contoh bagi adik kelasnya malah ikutan terlambat.
"Di jalan tadi kita kenak macet, Pak," ujar Gilang yang sepenuhnya tidak beralasan karena memang sedari tadi mereka terkena macet.
"Iya, Pak, tadi macet banget," imbuh Alvia menambahkan argumen penguat supaya tidak terkena hukuman yang terlalu berat.
"Kalau tahu macet, seharusnya kalian berangkat pagi, dong! Alasannya masih aja," keluh Pak Gunawan memijat kening yang terasa pening.
"Bersiap kalian semua!" perintah Pak Gunawan menertibkan barisan.
Semua langsung mendengarkan seksama perintah dari Pak Gunawan. Tak ada yang berani memprotes atau mengeluh karena panasnya yang menyengat.
"Lari tiga kali putaran keliling lapangan! Mulai!" Alvia yang mendengar perintah dari Pak Gunawan menghela napas keras. Ingin mengeluh pun tak bisa. Akhirnya, mereka pun melaksanakan hukuman mereka.
Barisan memanjang seperti ular mereka buat lalu berlari memutari lapangan. Alvia berada di belakang dengan beberapa siswi yang merupakan adik kelasnya. Sementara Gilang berada di depan, mungkin laki-laki itu sudah mendapatkan dua putaran.
Dengan napas yang sudah mulai terasa tersengal, Alvia memaksa kedua kakinya untuk menambah kecepatan lari. Menyusul Gilang cepat-cepat dan segera memasuki kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga Tapi Mesra
Fiksi Remaja[CERITA INI DIIKUTKAN DALAM EVENT GREAT AUTHOR FORUM SSP X NEBULA PUBLISHER] "Jangan membenci seseorang terlalu dalam. Soal perasaan nggak ada yang tau ke depannya akan gimana. Awas nanti bisa berubah jadi cinta lho!" Mungkin kalimat itu sudah serin...
