08 : bubur

17 3 0
                                        

ㅡreplayㅡ


Awan berwarna abu-abu gelap menyapa pagi hari di tahun 1999. Tidak ada suara ayam berkokokyang Sisil biasa dengar. Anehnya, ia tetap saja terbangun. Mungkin karena ia sudah mulai terbiasa di bangunkan ayam? giliran nggak dibangunin, malah bangun sendiri.

Rutinitas sebelum Sisil berdiri, dia pasti duduk dulu diatas tempat tidur 15–30 detikan, mau masukin nyawanya dulu yang sempet keluar sebentar.

Setelah mengganti atasan lengan pendek yang Bunda Bagas pinjamkan, Sisil jalan keluar kamar menelusuri ruangan depan.

Pandangannya menatap satu persatu perabotan di rumah Bagas yang tertata dengan rapih. Sebenernya dari pas dia mendarat disini pun, udah rapih sih, cuman kali ini menurut dia lebih rapih aja gitu.

Selagi asyik menikmati setiap tatanan perabotan, matanya tidak sengaja menangkap sang bunda yang akhir-akhir ini menjadi primadona di pikirannya itu lagi ada di halaman depan.

"Pagi tante."

"Tante? ibu dong Sil! lupa ya?" jawab Bunda dengan nada gaulnya yang sempat membuat Sisil terpana.

"Ohiya... maksut Sisil ibu, hehe... mau kemana bu? jogging?"

Bunda mengangguk, "Iya nih, sekali-kali lah bunda jalan keliling komplek. Ibu pengen kaya artis-artis sekarang gitu loh. Umur boleh 50, tapi muka harus kaya Meriam Bellina dong," ujar Bunda Bagas yang diselingi dengan tawa. Begitupun dengan Sisil yang ikut tertawa bersamanya.

"Ohiya bu, Bagas kemana ya bu? Sisil liat di rumah nggak ada soalnya."

"Haduh, nggak tahu tuh yang itu. Dari ibu bangun, udah nggak ada anaknya. Ditelen bumi kayanya," jawab Bunda Bagas yang sekali lagi diiringi dengan gejolak tawa.

"Ibu mau Sisil temenin nggak? takutnya ibu nyasar atau nanti sekalian mau sarapan di depan lapangan gitu ngga bu? Sisil banyak rekomen nih," tawar Sisil selagi dirinya ikutan *stretching* seperti bundanya Bagas.

"Ndak usah ngga apa-apa, nanti aja. Kamu juga baru bangun kan? tungguin aja si Bagas paling nggak lama ibu berangkat, anaknya pulang. Ibu pergi yaa," ujar bunda yang kemudian Sisil balas dengan lambaian tangannya.

Setelah ibunda Bagas pergi dari tempat, Sisil menghampiri jejeran gerobak yang tengah ramai dikepung oleh beberapa orang disana. Iya jadi gerobaknya tuh lagi pada ngaso di lapangan bola depan rumahnya Bagas gitu.

Wajar lagi hari minggu, banyak abang-abang gerobak yang demen juwalan soalnya.

"Bang! maw dong bubur ayam, satu aja yak," samper Sisil pada salah satu penjual bubur gerobak "Bubur doa ibu" yang sudah tidak asing diingatannya.

"Siap neng."

Sambil menunggu dan menonton pertandingan bola yang riuh di sebelah sana, dari ujung matanya, Sisil dapat menangkap kemunculan sesosok Bagas sambil membawa sesuatu di tangannya bersama seorang perempuan.

Tunggu, seseorang perempuan?

Sisil memicingkan matanya menatap sang empu di sana yang sedang tertawa dan tersenyum dengan mekarnya.

'Itu Bagas sama siapa dah?'

'lebar amat tu mulut senyumnya'

iya itu Sisil pokoknya udah ngejulid aja di deket tukang buburnya. Saking julid dan ngomul mulu, abang buburnya sampe nggak jadi minta tolong Sisil buat estafet mangkok abangnya yang kebetulan ada di deket Sisil.

Sampe perempuan itu pergi, tatapan Sisil tidak lepas dari cowo setelan kemeja rapih itu.

Ngerasa di perhatiin, Bagas ngalihin pandangan kedepan yang udah ada di Sisil di sana dengan ekspresi yang sulit Bagas baca.

"Kamu ngapain disana?" tanyanya seusai dirinya mendekat kearah Sisil berada.

"Menurut lo? dagang teh botol," ketus Sisil seraya mengambil mangkok bubur dari abangnya.

'Saya ada salah?' batin Bagas dalam hatinya.

Sebelum memasukan suapan pertama bubur ke mulutnya, layaknya kucing yang ingin meminta makan, Sisil mendapati tatapan Bagas yang tidak lepas dari mangkok yang Sisil pegang.

"Bang, semangkok lagi ya satu," kata Sisil sambil menyerahkan selembar uang 20 rebuan, sekalian buat bayar 1 mangkok bubur yang udah Sisil pegang.

"Kalo mau makanjuga tuh bilang, jangan diem doang kek kucing."

"Orang mana tahu lo mau makan bubur juga kalo diliatin doang, Gas."

"Tapi kamu mengerti saya," jawab Bagas enteng, kemudian ia ikut duduk di sebelahnya Sisil yang sudah lebih dahulu menyantap bubur di mangkoknya.

Sisil gelagapan, "Ya itu kebetulan aja yang liat lo begitu tuh gue. FYI aja, tingkat kepekaan gue tuh melebihi cowo kpop tau gak," sanggah Sisil sebelum ia kembali menelan suapan bubur dengan lahap.

Jujur aja, Bagas nggak paham sama perkataan Sisil tadi, tapi berhubung perutnya udah teriak-teriak minta makanan terus daritadi, jadi dia iya iya aja udah.

"Btw lo abis dari mana dah? pagi-pagi uda ngilang aja njir, dicariin tadi sama nyokap lo," tanya Sisil memecah keheningan diantara mereka.

"Saya ada kegiatan karang taruna bersih-bersih komplek tadi. Bunda cari saya?" Sisil hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Mengingat ia masih mengunyah bubur saat Bagas bertanya.

Begitupun dengan Bagas yang hanya menanggapi jawaban Sisil dengan anggukan kepalanya. Kebetulan tempat ia dan Sisil duduk di tukang bubur tepat berada di depan rumah, mudah bagi Bagas untuk mengamati rumahnya yang terlihat kosong tidak ada orang.

"Bunda saya kemana?" tanya Bagas sekali lagi.

Sisil menjawab setelah meminum airnya. "Pergi, jogging tadi keliling komplek."

"Sendiri?"

"Iya."

"Wets, jangan marah dulu. Gue udah nanya ya tadi ke bunda lo mau gue temenin apa nggak, tapi katanya nggak usah ditemenin sendiri aja, jadinya gue gaikut sama bunda lo," tegas Sisil sebelum Bagas lebih dulu cerewet padanya.

"Nih mas, bubur ayam jago doa ibunya sesuai pesanan," tukang bubur tadi menghampiri mereka berdua sambil membawa mangkok pesanan Bagas tadi.

"Terima kasih mas," jawab Bagas seadanya.

"Itu lo tadi sama cewe?" tanya Sisil tiba-tiba.

Disclaimer itu katanya yang nanya dari alam bawahnya Sisil guys, bukan dari Sisilnya gitu sih.

"Kenalan saya di komplek. Kenapa?" tanya Bagas penuh selidik.

"Ngga apa apa, nanya aja gue."

Selang 20 menitan, baik Bagas dan Sisil sudah selesai makan bubur, mereka pun mengembalikan mangkok ke pedagang bubur tadi.

"Neng," panggil tukang bubur ke Sisil tiba-tiba.

"Kenape bang? mangkoknya uda balik semua kan?? nggak ada yang pecah kok."

"Bukan gitu neng. Saya mau kasih tau, kalo cembokur mah cembokur aja neng," Sisil naikin alisnya, bingung ini kenapa abangnya tiba-tiba sokap ke dia.

"Itu mas yang tadi pacarnya kan? gapapa atuh neng bilang cemburu mah wajar. Apalagi liat pacarnya jalan sama cewe lain."

Mendengar itu, Sisil menggeleng cepat. "Pacar? ih bukan! bukan pacar gue dia, ngapain dia jadi cowo gue anjir," gerutu Sisil sambil ngomel.

"Eh bang! lo jangan nyengir-nyengir ngalihin pembicaraan gituye, kembaliin dulu duit gue. Gue ngasih duit 20 rebu tadi, ga mungkin semangkok bubur lo harganya 10 rebu ya."

Padahal abangnya tadi udah nyengir-nyengir aja godain Sisil yang ketawan lagi keliatan cemburu sama Bagas, tapi langsung mesem mukanya soalnya ide cerdiknya ketauan, nggak bisa kemakan sama Sisil.

"Nanti aja ya neng kembaliannya? masih pagi nih belum ada pesenan lagi."

"Ah gue maunya sekarang! buruan lo bang!!" desak Sisil pada tukang bubur yang berhasil membuat kedua pipinya merah alami tanpa memakai blush on sekalipun.


ㅡreplayㅡ

tumben ya aku banyak dialog hihi, ditunggu chapter selanjutnya!!!

ㅡReplay; Kim JunkyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang