Lima belas

111 11 2
                                    

Sejak kejadian terakhir, situasi menjadi canggung di antara keduanya. Hara menjadi lebih sering menghindar—atau bisa kita sebut dengan kabur. Ya, setiap kali melihat Rafael dari kejauhan, gadis itu akan langsung memutar tubuhnya dan berjalan ke arah berlawanan dengan cepat. Entahlah ... Rafael juga bingung. Mungkin gadisnya itu butuh sedikit waktu setelah mengungkapkan perasaannya? Baiklah, Rafael akan memberinya waktu.

"Kau dan Hara bertengkar?" Celetukan yang keluar dari bibir Atlas sukses membuyarkan lamunan Rafael.

"Tidak," jawab Rafael singkat, tampak malas menanggapi Atlas yang sangat bawel dan tidak berguna.

"Lalu mengapa Hara terlihat selalu kabur setiap melih wajahmu itu?" tanya Atlas yang sukses mendapatkan tatapan tajam dari Rafael.

"Kabur?" ulang Rafael dengan nada geram, "Sembarangan! Mana mungkin dia kabur setiap melihat laki-laki tampan sepertiku?"

Atlas memutar bola matanya malas. "Ya, malas meladenimu," sahutnya singkat tanpa niat.

Rafael hanya merespon dengan dengusan jengkel. Namun, dalam hatinya terus memikirkan pertanyaan Atlas. Apakah Hara benar-benar menghindar karena tidak mau melihatnya? Huff ... Rafael jadi galau.

"Apa ada info dari pacarmu tentang Hara?" Rafael bertanya dengan tatapan memelas.

"Info seperti apa yang kau harapkan?" tanya Atlas balik dengan kedua alis menyatu.

"Apakah mereka ada membicarakanku?" tanya Rafael dengan nada penuh harap.

"Hm ...." Atlas mengusap dagunya, tampak berpikir keras. "Tidak ada."

Jawaban yang terdiri atas dua kata itu sukses membuat Rafael menghela napas kecewa. Memangnya jawaban apa lagi yang bisa ia harapkan?

"Aku sih kalau jadi dirimu, pasti sudah datang menemui Hara langsung, seperti lelaki jantan," celetuk Atlas sambil mengucapkan kata 'lelaki jantan' dengan penuh penekanan, sebagai bentuk sindiran keras pada pria di sebelahnya itu.

Rafael melirik Atlas sinis. "Jadi maksudmu aku bukan lelaki jantan?" tanyanya kesal.

"Ya terserah jika kau merasa begitu," jawab Atlas malas.

Rafael berdecak, namun tak berniat memperpanjang masalah. Yang ia pikirkan saat ini hanya gadisnya itu, Hara. Langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya?

**

Dengan dress sederhana selutut, Hara duduk di tepi sungai menikmati elusan lembut dari angin sepoi-sepoi yang sangat menyejukkan. Pikiran gadis itu melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu.

"Apakah aku boleh mengartikan pernyataanmu barusan sebagai balasan atas perasaanku?"

Pertanyaan yang diajukan Rafael beberapa hari yang lalu itu masih sukses menjadi beban pikirannya beberapa waktu ini. Entahlah, sejujurnya Hara sendiri juga masih belum bisa mengartikan perasaannya sendiri saat ini. Apakah ia menyukai pria yang terus mengganggu dan menempelinya itu?

"Kenapa kau tampak bingung?"

Kedua bola mata Hara membulat, nyaris melompat kaget saat mendengar suara berat di tengah kesunyian yang menyelimutinya dari tadi.

"Yerikho?" panggilnya kaget.

Ya, pria yang baru saja bersuara dan membuat Hara kaget adalah Yerikho—adik dari Alpha Xander dari Redlow Pack.

"Kenapa kau bisa ke sini?" tanya Hara masih kaget atas kehadiran Yerikho di daerah Choco Magic Academy.

Yerikho terkekeh. "Kau seperti baru pertama kali melihatku menyelinap ke akademi ini," katanya sambil ikut duduk di tepi sungai—tepat di sebelah Hara.

"Ah, betul juga," jawab Hara meringis setelah menyadari sosok werewolf dari Redlow Pack itu memang sering menyelinap ke dalam akademi untuk menemuinya—dan itu cukup menjadi alasan Hara menyukai pria itu dulu.

"Jadi kembali ke pertanyaan pertamaku. Kenapa kau terlihat bingung? Apa sedang ada masalah?" tanya Yerikho dengan kedua alis terangkat.

Hara mendengus, lalu menggeleng. "Tidak ada," jawabnya singkat, tanpa ada minat bercerita.

Yerikho hanya tersenyum, tersirat rasa kecewa. Satu hal yang membuatnya tersadar. Gadis itu tidak lagi menjadikannya tempat bercerita.

"Lalu, kenapa duduk di sini sendirian? Di mana temanmu yang berisik itu?" tanya Yerikho sambil menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari kehadiran seseorang.

"Ah, maksudmu Moza? Dia sedang pergi mencari sesuatu, entah apa itu. Harusnya sebentar lagi kembali," jawab Hara ikut menoleh ke kanan dan kiri, mengikuti Yerikho, "nah itu di—" Kalimatnya terputus saat menyadari kehadiran sosok lain.

Rafael.

"Hara, lihat aku bawa siap—Yerikho?" Moza mengernyit, berusaha memastikan dirinya sendiri bahwa ia tidak salah lihat.

Hara sontak berdiri saat melihat Rafael berdiri mematung di sebelah Moza dengan tatapan datar. Yerikho yang tampak kebingungan, juga ikut berdiri.

"Halo," sapa Yerikho masih berusaha mencerna situasi saat ini.

"Ha—halo!" sapa Moza balik, dengan kikuk.

"Lama tidak berjumpa, Alpha Rafael," sapa Yerikho walau merasa kebingungan dengan kehadiran Alpha dari Zero Pack di tengah akademi sihir ini.

"Ya, lama tak berjumpa," balas Rafael datar, tanpa senyuman.

Hara menggigit bibir bagian bawahnya, tampak panik dengan situasi ini—lebih tepatnya, panik dengan pemikiran Rafael saat 'menangkap basah' dirinya bersama Yerikho. Walau ia juga bingung mengapa dirinya harus panik.

"Sungainya tak seindah itu rupanya. Moza, aku kembali ke asrama dulu. Terima kasih sudah membawaku ke sini," kata Rafael datar, lalu berbalik dan berjalan menjauh.

Hara makin panik dibuatnya. Gadis itu menoleh ke Yerikho. "Kita bicara lagi lain kali. Aku pergi dulu," katanya, lalu berlari mengejar langkah Rafael.

Yerikho mengernyit. Ada apa sebenarnya? Kemudian menatap Moza yang juga menatapnya.

"Wah, mendung, nih! Aku juga sepertinya harus kembali sebelum hujan," kata Moza sambil tertawa kencang—yang tanpa ia sadari, dirinya sedang berperilaku cukup aneh dan mencurigakan, "aku juga pergi dulu ya!" Lalu, berlari kencang meninggalkan Yerikho sendirian di tepi sungai.

Ya, sendirian, dengan rasa bingungnya.

Rasanya ada yang mengganjal, namun dirinya juga tidak tahu kenapa.

She is My MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang