Tujuh

246 35 25
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.

Rafael berjalan menelusuri koridor dengan perasaan gembira. Ia berniat untuk meminta Hara mengajarinya mengendalikan sapu terbang. Ia merasa jengkel saat Atlas terus memamerkan kemampuannya menaiki sapu terbang. Entah apa hebatnya.

"HARA!" panggil Rafael dengan semangat saat melihat gadisnya berjalan ke arahnya.

"Ada apa?" tanya Hara masih sedikit canggung akan kejadian beberapa saat lalu.

"Ajari aku menaiki sapu terbang!" pinta Rafael, "aku kesal setengah mati karena Atlas terus meremehkanku."

Hara terkekeh kecil. "Baiklah, ik—" Tiba-tiba Hara menghentikan ucapannya saat Rafael menarik bahunya mendekat.

"Perhatikan langkahmu, Tuan!" peringat Rafael dingin. Matanya menyorot seorang laki-laki yang membawa beberapa kardus menumpuk dengan tajam.

"M-maafkan aku."

Rafael mendengus lalu kembali menatap Hara yang tampak terkejut. "Kau tidak apa-apa?"

Hara menggeleng pelan.

Rafael menghela napas lega. Ia melepaskan tangannya yang berada di bahu Hara. "Baiklah, kau bilang apa tadi?"

Hara berdeham sekilas lalu berujar kembali, "Ikut aku."

"Pertama-tama, mari kita dapatkan sapu terbang milikmu."

Mereka berjalan menuju sebuah toko yang penuh dengan tongkat sihir dan sapu terbang. Semuanya memiliki model yang berbeda-beda.

"Hai, Hara!" sapa laki-laki tua yang Rafael tebak adalah pemilik toko itu.

"Hai, Kakek Fray," sapa Hara balik.

"Apa yang kau butuhkan?" tanya Kakek Fray dengan senyuman kecil seolah ia memiliki apa pun yang Hara mau.

"Sapu terbang untuk pria ini." Hara menunjuk Rafael dengan dagunya.

Kakek Fray melirik Rafael. Tampaknya ia baru sadar akan kehadiran laki-laki itu. Ia menatap Rafael dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Dia ... lumayan tampan."

Rafael melotot. Lumayan? Lumayan, katanya?

"Kekasihmu?" lanjut Kakek Fray menatap Hara dengan tatapan jahil.

Seketika, Rafael merasa amarahnya menghilang. Senyuman lebar tak kuasa ia tahan tampil di bibirnya.

"Ah, tidak!" elak Hara cepat.

Rafael menatap Hara kesal. "Bukan tidak, tapi belum," ujar Rafael memperbaiki.

Kakek Fray tertawa. "Baiklah baiklah. Tuan Rafael silakan mengisi pertanyaan di sini sejujur-jujurnya, karena aku akan memilihkan sapu sihir sesuai dengan jawabanmu."

"Kau yang memilih? Bukan sapu terbangnya yang memilih?" tanya Rafael heran.

Kakek Fray tertawa lagi dan dari sudut mata Rafael, ia melihat Hara tersenyum geli. Ah, senangnya melihat gadis itu tersenyum karenanya.

"Kau terlalu banyak menonton film manusia, Tuan."

Rafael mendengus geli lalu mengambil pulpen dan mulai mengisi pertanyaan-pertanyaan itu.

Butuh waktu lebih dari dua jam bagi Rafael hanya untuk mengisi 10 pertanyaan. Dan itu membuat Hara sangat geram.

"Kau masih belum bisa menyelesaikannya?" tanya Hara ke sekian kalinya.

"Sebentar. Pertanyaan ini sangat susah. Coba kau pikir, jika Ibumu dan orang yang kau cintai sama-sama tenggelam, siapa yang akan kau selamatkan duluan? Oh Tuhan, bahkan untuk membayangkannya saja sangat sulit."

"Aku ... tidak punya Ibu."

Mendadak Rafael merasa tenggorokannya sangat kering. Ia melepaskan pulpennya dan menoleh pada Hara.

"Aku tidak—"

"Ya, aku mengerti. Jadi tolong segera jawab semua pertanyaan itu. Bahkan kau menghabiskan dua jam sebelum belajar menaiki sapu terbang," omel Hara.

Rafael mengerucutkan bibirnya dan mulai kembali menjawab soal-soal di hadapannya. Hara mendengus geli saat melihat wajah Rafael yang sangat serius berpikir. Seolah-olah jika ia menjawab salah, maka ia akan mati.

"Kau memilikiku."

Hara yang sedari tadi menatap Rafael mendadak terdiam saat laki-laki itu bergumam pelan yang masih dapat ia dengar.

"Maksudmu?" tanya Hara bingung.

Rafael menarik napas dalam-dalam. Ia meletakkan pulpennya dan menoleh pada Hara. Matanya menatap Hara dalam.

"Maksudku ... tidak apa-apa, kau masih memiliki aku. Jadi, ketika aku dan orang yang kau cintai tenggelam ... siapa yang akan kau selamatkan duluan?"

Hara terdiam. Tangannya tanpa sadar meremas celananya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Rafael tersenyum tipis. Ia bangkit dari kursinya. "Ayo! Aku sudah menyelesaikan soalnya," katanya dengan nada riang seolah tidak ada yang terjadi.

"Hara?" panggilnya saat Hara masih diam.

"H-hah? Oh iya, ayo!"

Mereka kembali menemui Kakek Fray. Pria paruh baya itu terlihat sedang mengelap beberapa tongkat sihirnya.

"Aku sudah menyelesaikannya, Kek." Rafael menyodorkan kertasnya.

"Aku kira kau baru akan menyelesaikannya minggu depan," sindir Kakek Fray, "baiklah. Tunggu sebentar, akan kubawakan sapu terbangmu."

Kakek Fray berbalik dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang bertuliskan "Kakek Fray Only". Rafael menatap tongkat sihir yang tadi dipegang Kakek Fray.

"Itu tampak keren."

Hara ikut melihat tongkat sihir itu dan mengangguk. "Kau sudah punya tongkat sihir?"

Rafael mengangguk. "Profesor tua itu memberikan sebuah tongkat padaku saat hari pertama masuk."

"Bukan tongkat itu maksudku, tapi tongkat sihir khusus milikmu. Kau tahu, di dunia ini, tongkat sihir dan sapu terbang adalah identitas seorang penyihir."

Rafael mengusap dagunya.

"Kau bisa sekalian mendapatkan tongkat sihirmu di sini."

"Ah, sepertinya tidak usah. Akan sangat merepotkan untuk mengisi soal-soal kembali."

Hara mengambil sebuah permen yang tersedia di samping meja Kakek Fray dan memasukkannya ke dalam mulut.

"Berbeda dengan sapu terbang, kau bisa langsung memilih tongkat sihirmu sendiri," ujar Hara, "ya ... walau tetap ada peraturannya."

"Peraturan?"

Hara mengangguk. "Saat setiap tongkat sihir tercipta, mereka telah memiliki pemiliknya masing-masing, walau belum diketahui siapa. Jadi saat kau memilih tongkat sihir, kau harus mengetes kecocokkanmu dengan tongkat sihir itu dulu."

"Apakah mereka seperti kita? Walau aku dan kau tercipta sebagai sepasang mate, kita tetap harus mengetes kecocokkan kita terlebih dahulu agar dapat bersama."

~Bersambung
.
.

Akhirnya aku update!
Gila sih, mood nulis aku lama banget datangnya. Bahkan ini aku harus maksa diri sendiri buat nulis karena takut kalo nggak maksain diri, malah nantinya nggak bakal nulis lagi😭

Semoga suka ya bab ini. Sampai jumpa di bab selanjutnya!

.
.

~Thanks, God:)

She is My MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang