Kalau aku sewot, Kak Tiya ratunya sewot.
Kalau aku ngomelnya meletup-letup, Kak Tiya meledak kayak bom.
Kalau aku masih ada ibanya, Kak Tiya tanpa ampun.
Kalau Tarananta macan tutul, Tiyani adalah singa betina habis lahiran.
"Justru karena ada Iyut, nggak mungkin Kak Tiya marah-marah sama aku di depan anaknya."
Bagas dan segala prediksinya.
"Kita nggak tahu apa yang akan terjadi. Situ bisa nurut nggak sih?! Dikasih baik-baik hari ini, eh, ngelunjak minta lebih!"
"Karena aku nggak mau ngulur waktu lagi, Ra."
Aku menggemeretakkan gigi. Kedua tanganku sudah mengepal di depan muka dia, hampir menonjok. Gemas! Pingin kuulek-ulek jadi bumbu ketoprak, nih, si Bagas! Tetapi, kan, nggak mungkin. Kuturunkan tangan sambil mendengus kesal.
"Situ jangan grusah-grusuh! Sama ane aja ente belum kelar. Udah mau nyari musuh lagi!"
"Aku nggak punya rencana apa-apa demi mengejar permintaan maaf kalian ini, Ra. Demi kalian ngasih aku waktu untuk jelasin semuanya. Aku cuma bisa ngandelin keberanianku, kebaikan hati kamu dan keluarga, juga kebetulan begini. Aku mau kalian tahu kalau aku tulus mau minta maaf. Aku juga mau kalian ngerti kalau banyak hal di luar kendaliku yang bikin kita berpisah nggak baik-baik begini!"
Nada suara Bagas mulai meninggi. Aku paham kalau sudah begini, cowok ini mulai susah banget diaturnya. Semua harus sesuai kemauan dia.
Lantas, tentang Bagas nggak menyusun rencana apapun waktu ke sini? Bohong besar!
Bertemu denganku? Dengan Mami? Jadi staf baru di rumah sakitku? Teh yang rutin nongkrong duluan di IGD setiap jadwal jagaku yang berubah-ubah itu? Bukan Bagas namanya kalau nggak ada persiapan matang. Penuh perhitungan.
Asjsjbsbababbxjsnzzz!!!
Otakku ruwet. Aku stres sendirian. Ini sekarang siapa yang keras kepala? Harusnya, aku. Tapi kenapa jadi dia? Si Bagas keras kepala mau ketemu Kak Tiya yang kepala batu. Bisa baku hantam.
Aku membelakangi Bagas demi mengurai kekusutan pikiran. Mengacak kerudung nggak jelas. Debat kami di depan Playland nggak menemukan ujung. Bagaimana membuat pria ini paham?
Tenang, Ra. Tenang! Ayo cepat, Ra! Tiyani bentar lagi nyampe atas kalau lo kelamaan!
Aku menyerah.
"Ah!! Bodo ah!! Udah malem. Otak saya udah nggak nyampe buat diajak ngobrol serius!" Aku memicingkan mata mengancam. "Awas! Saya beneran nggak mau jadi runyam hari ini. Saya udah capek jaga dari pagi!! Kalau situ nekat, wassalam sendiri. Kita nggak usah tegur-teguran lagi!!"
Aku memutar langkahku memasuki Playland. Tepatnya, di permainan kandang bola, demi menjemput Iyut. Kugandeng keponakanku itu pergi. Sebelumnya, sempat kurebut paksa paperbag yang sejak awal Bagas bawakan selama kami keliling Kokas. Aku berubah galak banget setelah sesorean berusaha menjadi perempuan manis yang menahan emosi demi terlihat wibawa di depan keponakan. Bagas kuhentak agar nggak mengikuti. Iyut sedikit kaget mengetahui jika tantenya ternyata nggak akur dengan Om Dokter.
"Om Dokter nanti gimana dong, Nte? Kasihan. Om Dokter nggak punya saudara di sini."
Anak ini masih membela Bagas. Nanya segala kemungkinan buruk selama perjalanan kami turun ke lobi untuk bertemu mamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini ( Tara Bagas) TAMAT
RomansaTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
