5. Apa Kabar, Sayang?

18.5K 1.9K 50
                                        

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu ... itulah nama-nama hari.

Bukan!!

Itu bukan nama-nama hari yang kayak Iyut suka nyanyiin di kamarnya. Pakai nada riang sambil goyang kanan-kiri, tangannya nunjuk-nunjuk poster yang ditempel di dinding.

Bagiku, itu adalah fase neraka yang harus kujalani ke depannya gara-gara Bapak Mantan.

Ya, gimana? Zaman teknologi begini. Mau ngumpet semedi di Gua Selarong, juga bakal ketahuan sama orang serumah sakit, kalau aku itu ... mantan bini Bagas yang kabur.

Ampun!! Laser kaum hawa, fans baru Bapak Pangeran, menyayat hatiku. Kalau ketemu dia, mau kujadiin sapi panggang aja rasanya.

Berawal dari pekikan tak bersuara Mbak Arum, melihat Bagas angkat kursi untukku. Dia mendeklarasikan diri jadi fans Bagas, tepat setelah tahu Bagas adalah anak raja. Padahal, sebelumnya enggak. Apa itu namanya, kalau bukan materialistis?

"Itu tuh, tatapan cinta, Dok. Beneran deh. Matanya beda waktu natap Dokter. Dokter, sih, nggak lihat!"

Kubekap mulut Mbak Arum. Residen Kulit di depan kami nengok. Aku nggak tahu sejak kapan mereka mulai browsing siapa pacar Bagas, siapa istri Bagas, bagaimana kehidupan Bagas, beserta seluruh hal wow yang bikin penasaran. Yang pasti, sekarang aku kecipratan getahnya. Berita tentangku yang memutuskan kabur dari Solo mencuat. Nggak pakai rem. Isinya sampah. Simpang-siur, banyak nggak benarnya.

Kenapa, sih, pada nggak browsing apa jeleknya Bagas? Nggak tahu saja mereka. Kalau di kamusku, banyakan asemnya daripada manis.

Aku menyerah menghadapi tatapan menghakimi orang-orang? Jangan panggil aku Tara, kalau aku melambai tangan ke kamera lagi.

Aku masih kuat kok dengan pura-pura buta dan tuli. Mau gimana lagi? Kita nggak punya banyak gembok demi membungkam mulut orang. Cuek saja. Biarin saja mereka menelan sampah itu bulat-bulat. Sayang waktuku, kalau harus klarifikasi yang sebenarnya.

Aku harus kerja. Aku masih butuh uang sekebon untuk menghidupi sekeluarga, beli tanah, beli saham, uang jalan-jalan. Tabungan untuk modal usaha, karena siapa tahu, di satu titik aku menyerah lalu hengkang dari sini kalau Bagas berulah lagi. Seperti dulu. Kabur.

---------

Pintu apartemen dibukakan oleh si empunya rumah.

"Tara ... Tara ... Tarantula!! Sini deh Lo, Ra!"

Tanganku ditarik masuk ke kamar Fiona. Didaratkan secara nggak sopan ke kursi riasnya yang telah didekatkan ke ranjang. Kami jadi ke rumah Prof. Koeswoyo. Aku terpaksa harus pick up Barbie satu ini karena sampai jam segini, dia ternyata masih belum selesai make-upan.

"Lo wajib jelasin ini atau kalau nggak putus persahabatan kita!"

Fiona duduk di ranjang. Menyodorkan ponselnya padaku. Membaca sebuah berita lama. Tentang seorang Pangeran Solo yang akhirnya melepas masa lajang. Profil diriku lengkap. Termasuk foto close up kami waktu diarak dalam kirab setelah akad. Ah, telat kamu, Mbak. Netizen yang lain udah bisik-bisik tetangga tiap aku lewat.

"Baru baca lo, cerita jadul itu?"

"Lo baca lo baca kepala peyang! Tara ... ini beneran lo?" teriaknya.

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini ( Tara Bagas) TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang